JANGAN ASAL LARANG!

no.jpg

Memang adalah sebuah hal yang patut disyukuri ketika ghirah atau rasa kecemburuan yang didasari oleh iman itu mulai bangkit dan meningkat.

ketika anda tak lagi menganggap enteng atas kemungkaran-kemungkaran yang terjadi disekitar anda walaupun itu kecil, tak lagi acuh tak acuh ketika perintah-perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya dihiraukan begitu saja.

Apalagi oleh orang-orang terdekat anda, yang mana tentu anda tidak akan rela melihat orang yang anda sayangi kelak dimurkai oleh Allah Ta’ala sedangkan anda?walaupun selamat namun egois karena menyelamatkan diri sendiri, padahal mampu untuk mengubahnya dan mengajak lebih orang banyak.

Ada satu hal juga yang sangat harus diperhatikan dalam membawa amanah amar ma’ruf nahi munkar ditengah kesenjangan yang ada pada lapisan masyarakat kita kaum muslimin di negeri ini.

Diantara lapisan masyarakat ada golongan yang benar-benar masih ada yang sangat awam terhadap hukum-hukum agama yang detail bahkan mereka terkadang alergi terhadapnya, sebagaimana ada juga bagian dari masyarakat yang sudah sedikit banyaknya mengaji namun tidak sepenuhnya mendapat pemahaman yang benar dan semestinya, maka dari itu berinteraksi antar kaum muslimin dalam ber-amar makruf nahi munkar tentu tidaklah memukul rata semua keadaan.

Betul anda sudah mengetahui hukumnya namun bukan berarti serta merta anda memaksa mereka untuk faham sekarang, dan harus diubah detik ini juga.

Ada banyak permisalan dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bagaimana cara yang sepantasnya dalam menyikapi kemungkaran yang terjadi dihadapan kita, salah satunya sebuah kisah yang tentu kita sudah familiar dengannya, yaitu kisah seorang Badui yang didapati buang air disudut Masjid Nabawi yang waktu itu Nabi dan para Sahabatnya sedang berkumpul.

Nah, kira-kira apa yang anda lakukan seandainya anda yang berada dalam posisi tersebut? ditempat yang sangat anda jaga tiba-tiba ada seseorang yang tanpa sungkan mengotorinya?

sebelum menjawab, coba bayangkan juga seandainya anda lah si badui tersebut? yang mana menurut kebiasaannya tak mengapa buang air dimana saja mendesak? Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya? mari kita petik bersama pelajarannya dari hadits dibawa ini:

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن أعرابيا بال في المسجد ، فثار إليه الناس ليقعوا به ، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( دعوه وأهرقوا على بوله ذنوباً من ماء – أو سجلا من ماء – ؛ فإنما بعثتم ميسرين ولم تبعثوا معسرين ) رواه البخاري

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa suatu hari ada seorang lelaki badui buang air didalam masjid, maka seketika juga orang-orang langsung mengerubunginya ingin memberinya pelajaran, maka Rasulullah Shallallau ‘Alaihi Wa Sallam pun berkata kepada mereka: “Biarkanlah dia melepaskan hajatnya dahulu! setelah itu tinggal siramkan saja seember air pada najisnya; karena kalian ini diutus untuk mempermudah urusan bukan menyulitkannya“. HR BUKHARI

 

Dan setelah badui itu selesai melepaskan hajatnya, Rasulullah baru memanggilnya dan berkata dengan lemah lembut:

إن هذه المساجد لا يصلح فيها شيء من الأذى, وإنما هي للصلاة, وقراءة القرآن, وذكر الله عز وجل”

“Masjid kita ini tak pantas untuk dikotori, karena masjid adalah tempat untuk shalat, membaca al- quran dan berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla”.

 

Lihat bagaimana Nabi bersikap kepada si badui tersebut, ya dengan lemah-lembut! karena memang berbeda cara menyikapi kesalahan orang yang memang tidak mengetahui bahwa yang dikerjakannya salah dan terhadap orang yang memang ngeyel, dan masyarakat kita kebanyakn dari golongan yang pertama. kemudian apa hasil kelemah-lembutan Nabi di atas? sang Badui langsung mengatakan kepada Nabi:

“اللَّهمَّ ارحمني ومحمَّدًا ، ولا ترحم معنا أحدًا…”

“Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad yang lain jangan…”

Lihat bagaimana respon si badui? Dia ternyata sama sekali tak mengeyel dan mengakui kesalahannya karena memang ditegur baik-baik, sampai-sampai iapun berterima kasih dan mendoakan yang baik untuk Nabi, dan tidak terhadap yang lain. Lihat bagaimana responnya? untuk mereka yang tadinya mengerubungi dan menghardiknya? Jauh berbeda bukan? itu dia karena perbedaan perlakuan yang ia dapatkan dari kedua belah pihak.

Saudaraku yang budiman, yang Allah rahmati karena semangat menegakkan agamanya, begitulah Nabi memberi kita teladan dalam bermuamalah di sisi nahi munkar, tak selamanya kemungkaran itu di stop 100% detik ini juga, pelakunya dibully, dijauhi dan lain sebagainya yang merupakan tindakan tergesa-gesa.

cobalah resapi hadits diatas, ambil pelajarannya dan terapkan pada masalah-masalah yang terjadi disekeliling kita, mana yang perlu ditindak tegas, mana yang perlu dikasih waktu, dan mana yang perlu dimaklumi, semuanya tergantung keadaan masing-masing, yang mana kadang berbeda jauh antara satu dan yang lain.

Lakukanlah hal ini karena sebuah rasa jika hal itu dilakukan kepadamu bukankah kau juga tidak akan terima dengan perlakuan seburuk itu? sebuah rangkulanlah yang kau idamkan bukan? dan juga ingat-ingat lagi dulu pada masa kau juga masih belum mengetahui larangannya, bukankah kau melakukannya memang karena belum mengetahui hukumnya bukan melawan apalagi mengingkarinya? begitu jugalah saudara-saudaramu yang lain.

Saat ini saudaraku, mereka butuh sebuah pertolongan bukan vonis negatif dan hukuman. Maka cukuplah sebuah petuah Ulama yang masyhur ini sebagai pedoman kita:

ليكن أمرك بالمعروف بالمعروف ونهيك عن المنكر بلا منكر”

“Hendaklah kau menyeru kepada yang makruf dengan makruf pula, dan melarang dari kemunkaran bukan dengan kemunkaran pula”

 

Baarakallahu fiikum…

 

Penulis: Muhammad Hadhrami bin Ibrahim

Rujukan:

كتاب حديث “من رأى منكم منكرا فليغيره” دراسة تأصيلية لملامح التغيير وضوابطه في الإسلام, ص 142-144. تأليف: أبي عبد الرحمن صادق بن محمد الهادي

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: