Keadilan Allah Subhanahu wa ta’ala dan Karunianya

Keadilan-Allah-Subhanahu-wa-ta’ala-dan-Karunianya.jpg

Pertanyaan :

Asy-Syaikh yang mulia, semoga Allah senantiasa membalasmu dengan kebaikan, kami mendapatkan masalah yang membuat kami ragu dalam pikiran kami, kami melihat dua orang yang melakukan satu kemaksiatan kemudian salah satu dari keduanya meninggal dengan tiba-tiba dan yang lain hidup lalu bertaubat dari kemaksiatan tersebut. Kami tidak ragu akan keadilan Allah akan tetapi apakah mungkin dalam keadilan Allah untuk memberi kesempatan orang satu hingga ia bertaubat dan tidak memberi kesempatan yang lain bahkan Allah mewafatkannya di atas perbuatan maksiatnya ? Aku memohon kepadamu apakah Allah mematikannya untuk membalasnya ?

Jawab :

Tidak, sesungguhnya dia telah sampai pada ajal yang ditetapkan oleh Allah. Yaitu ajal yang telah ditakdirkan. Berkaitan dengan Allah memperpanjang umur orang yang satu lagi, hal itu karena karunia yang Dia berikan kepada orang yang dikehendakiNya. Dan orang yang meninggal di atas maksiat namun tanpa mengerjakan kesyirikan, dia tergantung pada kehendak Allah, jika Allah menghendaki akan mengampuni dan jika Allah menghendaki maka Dia akan menyiksanya. Sebagaimana firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakinya .. (Qs. An-Nisa : 48)

Tidak samar dalam hal ini ada hadis yang datang dari Nabi shallallahu ‘alihi wasallam, bahwa beliau membuat satu perumpamaan, yaitu bagi umatnya yang bersama kaum Yahudi dan Nasrani. Diumpamakan dengan seorang laki-laki yang mengupah pelayannya. Ada sekelompok orang yang bekerja mulai Subuh hingga zuhur lalu mereka diberi upah, dan sekelompok orang yang bekerja mulai zuhur hingga asar lalu mereka diberi upah kemudian ada sekelompok orang yang bekerja dari mulai asar hingga magrib maka mereka diberi upah sebanyak dua kali lipat dari kelompok yang pertama. Yakni, upahnya dilipat gandakan. Maka yang pertama membantah hal itu. Mengapa mereka diberi upah dua kali lipat ? Padahal pekerjaannya lebih sedikit dari kita ? Dia berkata : apakah aku menzhalimi kalian sedikitpun ? mereka berkata : Tidak. Maka Allah ta’ala berfirman “Ini adalah karuniaKu, Aku berikan kepada orang yang Aku kehendaki, yaitu Aku telah berikan kepada kalian sepuluh dan Aku berikan kepada dia dua puluh. Maka tidak ada hak sedikitpun bagi kalian di sisiKu.

Yang penting masalah ini tidak ada keruwetan selamanya. Orang ini mati karena ajalnya sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala tidak mematikan untuk menyiksanya dan dia juga tergantung kepada kehendak Allah. Jika dosanya di bawah dosa syirik. Adapun orang yang dipanjangkan umurnya oleh Allah, dia juga akan menemui ajalnya, mungkin Allah subhanahu wata’ala menerima taubatnya dan mungkin tidak menerima taubatnya dan mungkin bertambah dosanya di atas dosa

Sumber :

Majmu’ Fataawaa asy-Syaikh 1/17, (Edisi Indonesia : Fatwa Syaikh Utsimin Buku 1), hal, 91-92 , Pustaka as-Sunnah, Jakarta

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: