Kekurangan yang Menggugurkan Kewajiban Nahi Mungkar

Kekurangan-yang-Menggugurkan-Kewajiban-Nahi-Mungkar.jpg

Setiap mukallaf memiliki beban yang berupa perintah-perintah Allah yang wajib ia laksanakan dan larangan-larangan Allah yang wajib ia tinggalkan. Namun Allah yang maha penyayang tidak akan membebankan sesuatu kepada hambanya kecuali sesuai kemampuan mereka, jikalau mereka tidak mampu secara syar’i maka gugurlah kewajiban tersebut atasnya. Allah berfirman:

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah: 286).

Namun, kesanggupan tersebut bukan dengan ukuran individu sehingga siapa saja yang merasa tidak mampu untuk melaksanakan suatu kewajiban ia meniggalkannya dengan alasan tidak sanggup, melainkan yang menjadi timbangan adalah syari’at, sehingga sanggup atau tidaknya dilihat bagaimana pandangan syariat terhadap keadaan yang bersangkutan. Dan cara mengetahuinya adalah dengan menuntut ilmu agama atau bertanya kepada para ulama yang bertaqwa dan memiliki ilmu mendalam terhadap agama, sehingga mereka bisa menimbang sesuai dengan ukuran syari’at.

Salah satu perkara yang Allah perintahkan kepada kita dan umat-umat sebelum kita adalah amar ma’ruf nahi mungkar. Perintah akan amar ma’ruf nahi mungkar ini bersifat wajib karena perintah untuk melaksanakannya mutlak tanpa ada yang memalingkannya dari kewajiban menjadi Sunnah atau mubah, bahkan dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun hadits yang mengandung ancaman bagi ummat yang meninggalkannya banyak dan jelas.

Namun disamping itu ada keadaan-keadaan tertentu yang menjadikan amar ma’ruf nahi mungkar tidak wajib karena adanya mani’ (penghalang) dari kewajiban. Sama seperti shalat, hukum asalnya adalah wajib, namun bagi perempuan yang sedang haid atau nifas tidak wajib bahkan haram, karena adanya mani’ (penghalang) yaitu haid atau nifas.

Keadaan-keadaan yang menjadi penghalang amar ma’ruf nahi mungkar dapat kita bagi menjadi tiga point besar, yaitu; (1) Memiliki kekurangan atau kelemahan yang menghambat aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar, (2) Jika meyakini bahwa mencegah kemungkaran dapat menyebabkan kemungkaran yang lebih parah, (3) Jika meyakini bahwa mengingkari kemungkaran tidak akan merubah apa-apa. Dan tiga point ini serta pembahasaannya kami ambil dari kitab ‘Dirasah Ta’shiliyyah Limalamihit Taghyiir Wa Dhawabithihi Fil Islam’ karya Syekh Shadiq bin Muhammad Al-Hadi

Kami akan membahas tiap-tiap point diatas pada artikel-artikel tersendiri untuk masing-masing point. Dan pada artikel ini kami akan memulai dari point pertama yaitu; ‘memiliki kekurangan atau kelemahan yang menghambat aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar.’

Kekurangan dan kelemahan tersebut terbagi menjadi dua, yaitu kelemahan tampak, dan kelemahan tak tampak. Pertama Kelemahan tampak (hissiy), yaitu adalah kelemahan yang berupa fisik, seperti tuli, bisu, lumpuh, dan lain-lain yang menjadikan seseorang tidak bisa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu termasuk untuk menegur orang yang meninggalkan kewajiban atau melakukan kemungkaran walau dilakukan dihadapannya. Orang yang dalam keadaan seperti ini maka ia tidak wajib untuk merubah kemungkaran dengan tangan ataupun lisan, namun ia tetap wajib untuk mengingkarinya dengan hati. Bahkan menurut para ulama, mengingkari kemungkaran dengan hati hukumnya adalah fardhu ‘ain dan tidak ada udzur bagi siapapun untuk tidak mengingkari kemungkaran dengan hatinya selama ia dalam keadaan sadar dan berakal normal, karena setiap orang mampu untuk melakukannya, dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakannya sebagai iman yang paling lemah. Intinya seseorang yang memiliki udzur demikian dapat melihat sampai dimana dirinya mampu untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, jika ia mampu melaksanakannnya sebagian dan tidak mampu melaksanakan sebagia yang lain, maka hendaknya ia laksanakan yang ia mampu, dan tidak meninggalkan semuanya. Orang yang mampu merubah kemungkaran dengan lisan namun tidak mampu merubahnya dengan tangan bukan berarti ia meninggalkan keduanya. Wallahu a’lam

Kedua kelemahan yang tak tampak (ma’nawi). Kelemahan yang tak tampak juga merupakan udzur bagi seseorang untuk tidak mengingkari kemungkaran, dan ia banyak macamnya. Dintaranya;

Lemah ilmu, orang yang tidak memiliki ilmu yang cukup tentang sesuatu yang dianggap mungkar, atau tidak memiliki ilmu tentang cara mengingkari kemungkaran dan apa saja ketentuan-ketentuannya tidak wajib mengingkari kemungkaran agar tidak mendatangkan mafsadat yang lebih besar. Terutama dalam permasalahn khilafiyah yang memerukan kajian yang mendalam. Misalnya dalam masalah memakai cadar (penutup muka) bagi perempuan, terdapat perselisihan yang tajam diantara para ulama apakah ia wajib atau tidak, sehingga tidak sebaiknya muslimah dari orang awam yang memilih pendapat yang mewajibkan memakai cadar mengingkari muslimah lainnya yang mengambil pendapat ulama yang tidak mewajibkan cadar. Begitu juga dengan orang awam yang tidak tahu tentang ketentuan-ketentuan mengingkari kemungkaran, misalnya ia melihat seseorang mencuri, lalu ia menangkapnya dan ingin memotong tangan pencuri tersebut sendiri dengan alasan bahwa agama memerintahkan kita untuk memotong tangan pencuri. Padahal untuk memotong tangan pencuri harus melalui ketentuan-ketentuan yang tidak serampangan dan hukuman tersebut hanya boleh dilakukan oleh hakim, bukan orang umum.

Sehingga para ulama berpendapat bahwa orang awam tidak seharusnya untuk menyeru kepada kebaikan atau mengingkari kemungkaran kecuali pada hal-hal yang jelas saja, seperti jika ia melihat orang yang meniggalkan sholat, atau makan di siang hari Bulan Ramadan padahal ia termasuk orang yang wajib berpuasa dan semacamnya.

Diantara bentuk kelemahan ma’nawi juga adalah jika ia tahu bahwa mengingkari kemungkaran dapat membahayakannya, seperti mengancam jiwanya atau hartanya dan sebagainya. Misalnya jika seseorang bertemu sekelompok preman yang beragama islam sedang berpesta pora dengan minuman keras, dan ia tahu bahwa menasehati mereka dapat menyulut kemarahan mereka yang bisa membahayakan dirinya, karena mereka bisa menyiksanya atau membunuhnya sedang ia hanyalah sendiri dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan, dalam keadaan seperti ini boleh ia membiarkan mereka demi menjaga keselamatan dirinya.

Ini semua adalah beberapa hal yang menggugurkan kewajiban nahi mungkar dikarenakan alasan-alasan yang syar’i. dan pembahasan tentang alasan-alasan lain akan berlanjut pada artikel-artikel berikutnya insyallah.

Dipetik dari kitab ‘Dirasah Ta’shiliyyah Limalamihit Taghyiir Wa Dhawabithihi Fil Islam’ karya Syekh Shadiq bin Muhammad Al-Hadi, hal. 105-109.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: