Kepedulian Orangtua Terhadap Pendidikan Agama Anak Dimasa Kini

mendidik-anak.jpg

Seiring dengan terus berkembangnya teknologi, membawa banyak pengaruh terhadap perubahan dunia dalam berbagai aspek. Suatu hal yang kita tidak bisa mengelakkan dan lari dari kenyataan itu. Di era global ini segala sesuatu dapat kita lakukan begitu cepat. Yang jauh menjadi dekat, yang tidak ada menjadi ada. Yang mustahil kita bayangkan keberadaannya menjadi sebuah wujud yang nyata adanya.

Hal ini pulalah yang mengubah pola pikir manusia secara dalam. Manusia disibukkan pada segala hal yang instan. Di era intelektual ini segala sesuatu dipertimbangkan menurut logika dan rasional, ini yang mempengaruhi pola pikir manusia dengan meragukan atau mulai meninggalkan berbagai hal yang tidak rasional menurut mereka. Padahal terdapat banyak ajaran agama islam yang hanya memerlukan keimanan dan tidak bisa dirasionalkan menurut akal manusia yang terbatas.

Hal ini bisa kita lihat secara jelas dari semakin menurunnya ketertarikan manusia terhadap agama khususnya generasi muda yang lahir dan tumbuh di eraglobal seperti ini. Pengajian Al-Qur’an yang dulu begitu semaraknya kita temukan di berbagai tempat bahkan di daerah terpencil sekalipun. Anak-anak usia SD dengan semangat selepas sekolah mengikuti kegiatan sekolah diniyah di sore hari disambung dengan berjamaah shalat magrib kemudian mengisinya dengan tadarus Al-Qur’an hingga tiba waktu shalat ‘isya.

Namun, suasana seperti itu yang kini mulai berkurang. Ini dibuktikan dengan survey penulis yang pernah melakukan kusioner pada 80 siswa SMP di kota Bogor. Dengan pertanyaan, siapa yang mengikuti kegiatan pengajian selepas sekolah? Jawaban ya (yang mengikuti) hanya kurang dari 30 %. Ketika ditanya, siapa yang rajin melakukan shalat lima waktu? Jawaban ya (yang shalat) hanya kurang dari 25 %. Inilah diantara kenyataan yang terjadi dewasa ini. Dan tidak terbayangkan yang terjadi 10 atau 20 tahun kedepan disaat teknologi sudah semakin melampau jauh dari yang baru berkembang saat ini. Sungguh ini suatu kemerosotan yang sangat memprihatinkan.

Kemerosotan ini tampaknya bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Namun lebih dari itu. Di negara yang notabene Islam pun. Agama bukan lagi menjadi prioritas dalam perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya.

Siapa yang paling bertanggung jawab dalam hal ini?

Ibnu Al-Jauzi pernah berkata dalam qoul-nya “Jikalau kita melihat perubahan terhadap karakter anak, maka yang paling bertanggungjawab adalah orang tua”. Karena orang tualah yang menuntun anak sejak ia terlahir didunia ini dan mengiringinya hingga tumbuh besar.

Kewajiban orang tua dalam Islam, tidak hanya seputar pada bagaimana ia bisa tumbuh besar dan sehat, namun pengetahuan mereka tentang agama serta tujuan mereka hidup di dunia ini lah menjadi tanggungjawab besar yang diemban setiap orang tua nanti di akhirat kelak.

Bagaimana solusinya?

Seorang ustadz menasihati agar setiap orang tua berkewajiban mengajarkan shalat, membaca Al-Qur’an serta ilmu-ilmu agama yang menjadi pedoman mengerjakan hal-hal fardhu. Jikalau orang tua tidak mampu atau tidak sempat dalam mengajarkan secara langsung, maka pilihan kedua yaitu memasukkan anak ke lembaga atau perkumplan dimana anak bisa mempelajari dan dididik ilmu agama.

Selain tentang pengetahuan keilmuan agama, orang tua juga wajib memperhatikan pertumbuhan karakter anak. Dengan marak munculnya berbagai macam alat komunikasi teknologi/gadget memungkinkan kita untuk bergaul tanpa batas. Orang tua wajib memperhatikan berbagai perubahan yang terjadi pada anak, mengarahkan dengan siapa dia bergaul, mengawasi apa yang boleh dan tidak boleh untuk dilihat dan didengar. Ini akan terjadi bila intensitas kebersamaan orang tua dengan anak lebih banyak.

Maka dari semua uraian tulisan saya ini. Menyimpulkan agar orang tua mulai menyadari bahwa pendidikan agama pada anak harus dilakukan sedini mungkin.


Penulis: Fathy Muchtar (Mahasiswa semester 6 Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an Al-Hikam II Depok)

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: