Ketika Problem Mendera, Koreksilah Diri Anda !

rumahtangga.jpg

Dalam kehidupan rumah tangga terdapat berbagai bentuk dan ragam problem. Hal tersebut dapat muncul secara tiba-tiba. namun, tentu ada faktor yang melatarbelakanginya. Problem tersebut muncul dalam volume yang bervariatif, kadang besar, kadang kecil, kadang sederhana.

Demikian pula halnya dengan faktor pendoronganya, bervariatif pula. Namun, sayangnya seringkali kita terkonsentrasi terhadap problem, kita kurang perhatian terhadap faktor yang melatarbelakangi munculnya problem tersebut. Padahal memperhatikan faktor yang melatar belakangi problem tersebut muncul sangat membantu dalam menyikapi problem yang terjadi. Sebagai ilustrasi untuk memahami ungkapan ini, berikut penulis sebutkan contohnya. Misalnya dalam kasus, “keengganan seorang anak untuk melaksanakan shalat

Pembaca yang budiman, Ini adalah problem yang tergolong besar, hal demikian itu karena hal ini merupakan masalah besar. Hal demikian karena shalat memiliki posisi yang sangat agung dalam syariat Islam. Ia merupakan tiang agama, ia merupakan rukun Islam, ia merupakan amal shaleh yang paling utama, dam seterusnya.

Maka, ketika orangtua mendapati anaknya yang telah dewasa bahwa ia enggan untuk melaksanakan shalat, maka ini merupakan problem yang tidak kecil. Seringkali orangtua hanya terkonsentrasi pada problem tersebut, ia melupakan adanya faktor yang menyebabkan anaknya menjadi enggan untuk melaksanakan shalat. Ia lupa bahwa boleh jadi itu terjadi karena akibat ia berkawan dengan orang-orang yang demikian itu karakternya, yakni, “enggan melaksanakan shalat”, sehingga ia pun tertular oleh perilaku mereka. Karena pertemanan memiliki pengaruh yang sangat luar biasa. Teman yang baik akan memberikan pengaruh yang baik, demikian pula halnya dengan teman yang buruk, ia pun berpotensi besar akan memberikan pengaruh yang buruk. Sebagaimana terisyaratkan dalam sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-:

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, boleh jadi ia memberimu minyak wangi, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.” (HR. Imam Muslim, No.6860)

Nah, Pembaca yang budiman, Kebanyakan kita sedemikian getol kemudian menyuruh anak kita agar ia tidak enggan untuk melaksanakan shalat, namun kita tidak mempedulikan urusan pergaulannya dengan siapa, padahal boleh jadi keengganan pada anak kita tersebut terjadi karena tertular oleh temannya yang berperilaku demikian.

Sehingga, akan sulit bagi seorang anak untuk mengentaskan diri dari problem keengganan untuk menunaikan shalat, karana ia masih diliputi oleh pengaruh temannya yang memiliki karakter yang demikian itu. Bilamana kemudian disamping orangtua sedemikian gigih untuk mengingatkan anaknya agar ia rajin menunaikan shalat dan pada saaat yang bersamaan ia menghilangkan faktor penyebab anaknya mengalami keengganan untuk menunaikan shalat seperti misalnya dengan tidak mengizinkan anaknya untuk bergaul melainkan dengan orang-orang yang rajin menunaikan shalat, niscara besar peluang anaknya akan terentaskan dari problem yang tengah menderanya.

Terkadang faktor keengganan seorang anak untuk menunaikan shalat atau keengganan menunaikan shalat pada waktunya atau bahkan di awal waktunya itu muncul , justru yang menjadi faktor yang melatarbelakanginya adalah si orang tua itu sendiri, ia enggan untuk melaksanakan shalat, atau sering mengulur-ngulur waktu hingga tidaklah ia mengerjakan shalat melainkan setelah masuk waktu shalat berikutnya. Maka, ketika seorang anak diperintahkan untuk menunaikan shalat atau menunaikan shalat pada awal waktunya, jiwanya akan berontak karena orang tua sendiri tidak melakukan apa yang diperintahkannya kepada anaknya. Bagaimana seorang anak akan mentaati orang tuanya yang memerintahkan kepada sesuatu namun orang tua itu sendiri melakukan kebalikan dari perintah yang diperintahkannya kepada anaknya?

Demikianlah sedikit ilustrasi, mudah-mudahan Anda dapat memahaminya. Yang menjadi maksud utama penulis dalam hal ini adalah bahwa “ketika problem itu mendera, kita hendaknya mengoreksi diri kita karena boleh jadi foktor yang melatar belakangi munculnya problem itu adalah diri kita sendiri, begitu juga kita memperhatikan faktor yang lainnya yang juga boleh jadi ikut serta mendukung munculnya problem tersebut.

Mengakhiri tulisan ini, penulis ingin mengingatkan diri penulis sendiri kemudian dan para pembaca yang budiman dengan firman Allah ta’ala, Dia berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Hasyr : 18)

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan RasulNya serta mengamalkan syariatNya, takutlah kalian kepada Allah, dan hati-hatilah kalian terhadap ancaman siksaanNya, dengan cara kalian mengerjakan apa yang Allah perintahkan kepada kalian dan meninggalkan apa yang Allah larang terhadap kalian, serta hendaklah setiap diri mentadabburi apa yang telah ia lakukan untuk menghadapi perjumpaan dengan alam keabadian di akhirat nanti, dan takutlah kalian kepada Allah pada setiap apa yang kalian kerjakan dan yang kalian tinggalkan, sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala maha mengetahui apa yang kalian lakukan, tak ada amal kalian apapun yang tersembunyi bagi Allah, Dia akan memberikan balasan kepada kalian atas amal yang kalian lakukan tersebut.

Penulis : Amar Abdullah

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: