Ketika Seorang Pemuda dan Seorang Gadis Saling Memandang di Hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

menjaga_pandangan.jpg

Mata adalah jendela hati, apa yang dipandang indah oleh mata, akrab untuk disenangi oleh hati. Oleh karena itu, untuk menjaga hati maka harus menjaga mata. Syariat islam tidak melarang hati untuk mencintai, tetapi melarang mata untuk mengumbar pandangan kepada yg haram agar tidak menjadi celah bagi setan untuk menggiring manusia kepada perzinahan. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, Agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya…” (QS. An-Nuur: 30-31).

Ayat ini jelas memerintahkan kita untuk memalingkan pandangan dari yang tidak halal agar menutup gerak-gerik syetan yang selalu mencari-cari kesempatan untuk menjerumuskan manusia kepada kemaksiatan.

Suatu hari Musa Al-Juhaniy berjalan bersama Said bin Jubair, ketika mereka tengah berjalan tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang perempuan dan keduanya sempat memandang perempuan tersebut, namun Said bin Jubair langusng menundukkan pandangannya sedang Musa tetap memandangnya. Maka Said berkata kepada Musa, الأولى لك والثانية عليك “pandangan pertama tidak mengapa bagimu, namun yang kedua terhitung dosa.”

Demikianlah kehati-hatian para salaf dalam menjaga pandangan mereka dari pandangan haram yang merupakan pintu awal dari perzinahan. Walaupun memandang keelokan dan keindahan lawan jenis memang hal yang menyenangkan karena itu memang fitrah yang Allah ciptakan untuk manusia, namun fitrah tersebut Allah atur sedemikian rupa agar tersalurkan dengan cara yang mulia, yaitu melalui pernikahan.

Cerita diatas adalah salah satu gambaran bagaimana ulama salaf menasehati teman mereka untuk menundukkan pandangannya. Bagaimana jika saling memandang antara dua lawan jenis itu terjadi di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Bagaimanakah kiranya sikap Nabi shallallahu alaihiwa sallam?

Ternyata kisah serupa dengan diatas juga terjadi di zaman dan dihadapan Nabi shallallahu alaihiwa sallam karena itu merupakan fitrah yang wajar khususnya pada remaja atau pemuda. Sayyiduna Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu menuturkan:

كَانَ اَلْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَجَاءَتِ اِمْرَأَةٌ مَنْ خَثْعَمَ، فَجَعَلَ اَلْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَجَعَلَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَصْرِفُ وَجْهَ اَلْفَضْلِ إِلَى اَلشِّقِّ اَلْآخَرِ… )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Suatu hari Al-Fadl Ibnu Abbas radhiyallaahu‘anhuma duduk di belakang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu seorang perempuan dari suku khats’am datang. Kemudian mereka (Fadl bin abbas dan penanya perempuan) saling memandang. Lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memalingkan muka al-Fadl ini ke arah lain… (Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Imam Bukhari.)

Demikianlah Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada sepupunya yang bernama Fadl bin Abbas radhiyallahu’anhuma dengan memalingkan pandangannya dari gadis tersebut. Dalam kitab ‘Fathul Bari’ Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Fadl bin Abbas adalah pemuda yang tampan, dan gadis tersebut adalah gadis yang cantik, sehingga Fadl bin Abbas tertarik ketika melihatnya.

Dan ini bukanlah suatu kejelekan bagi sahabat mulia Fadl bin Abbas radhiyallahu’anhuma, melainkan suatu hal yang wajar karena ia terbawa oleh fitrah yang mencintai keindahan yang ada pada lawan jenis, karena sahabat juga manusia biasa seperti yang lainnya. Namun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak membiarkannya, beliau langsung mengambil sikap yang bijak dengan memalingkan pandangan Fadl bin Abbas radhiyallahu’anhuma sebelum setan mempermainkan hati keduanya dan menjerumuskan keduanya kepada kemaksiatan.

Dalam sebuah Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abi Thallib radhiyallahu’anhu:

يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعْ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ

Wahai Ali, janganlah engkau ikutkan pandangan pertama dengan pandangan yg lain (berikutnya), sesungguhnya pandangan yang pertama (diampuni) bagimu dan tidak (diampuni) dengan yang berikutnya. [HR. Abudaud No.1837].

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: