Khutbah Jum’at: Muharram, Bulan Mulia yang Ternoda

noda.jpg

(Khutbah Jum’at  Ustadz Abu Umair bin Syakir al-Jawi di Masjid Baiturrohman Depok, 9 Muharram 1434 H/23- 11-2012).

الحمد لله القائل في القرآن العظيم : إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله القائل : السنة اثنا عشر شهرا منها أربعة حرم ثلاث متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان

أما بعد : إن أصدق الحديث كتاب الله وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الامور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Kaum muslimin-rahimakumullah

Bulan Muharram -yang Alhamdulillah kita sudah berada di dalamnya- adalah salah satu bulan haram yang dimaksudkan oleh firman Allah ta’ala, surat at Taubah ayat 36, yang telah khotib bacakan dalam muqaddimah. Allah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. at-Taubah : 36).

Ini sebagaimana dijelaskan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau,

السنة اثنا عشر شهرا منها أربعة حرم ثلاث متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان

“Di dalam satu tahun ada dua belas bulan dan di antaranya terdapat empat bulan yang mulia, tiga di antaranya berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, dan Rajab yang berada di antara bulan Jumada ats-Tsani dan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari, no.4385).

Kaum muslimin, rahimakumullah.

Dengan ini, tak diragukan bahwa “Muharrom adalah termasuk bulan haram”.

Bulan Muharom adalah bulan yang mulia. Bahkan, bulan yang paling mulia setelah bulan ramadhan. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya oleh Abu Dzar, “Bulan apakah yang paling mulia? maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Seutama-utama bulan adalah bulan Allah yang kalian menyebutnya “Al-Muharram”.(Dirwayatkan oleh imam an Nasai di dalam Sunannya).

Kaum muslimin, rahimakumullah.

Banyak hal yang menunjukkan kemuliaan atau keutamaan bulan ini. Di antaranya, yaitu :

1. Dilarangnya seseorang melakukan kezhaliman pada bulan tersebut.

Hal ini seperti ditunjukkan oleh zhahir ayat, Allah berfirman, فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ  (maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan tersebut). Namun, -kaum muslimin rahimakumullah– hal ini tidak berarti bahwa kezhaliman boleh dilakukan pada bulan-bulan lainnya.

2. Pahala amal sholeh lebih besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Dan demikian pula Dosa yang dilakukan pada bulan tersebut.

Inilah penafsiran al Hafizh Ibnu Katsir –semoga Allah merahmatinya- terhadap firman Allah ta’ala, Surat at taubah ayat 36 di atas. Beliau –rahimahullah– mengatakan, “Di bulan-bulan yang Allah tetapkan di dalam setahun kemudian Allah khususkan dari bulan-bulan tersebut empat bulan, yang Allah menjadikan sebagai bulan-bulan yang mulia dan mengagungkan kemuliaannya, dan menetapkan perbuatan dosa di dalamnya sangat besar, begitu pula dengan amal shalih pahalanya begitu besar.”

3. Puasa di bulan ini merupakan puasa yang paling utama setelah puasa di Bulan Ramadhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

« أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ »

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (puasa di) bulan Allah al-Muharram. Dan sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam.” (HR. Muslim).

4. Penyandaran bulan ini kepada Allah, dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ (bulan Allah Al-Muharram).

Ibnu Rojab al-Hambali mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut Muharram dengan “Syahrullah” (Bulan Allah). Penyandaran bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya.

5. Terdapat hari khusus (yaitu : hari ‘Asyura) yang bila mana seseorang berpuasa pada saat itu, maka kesalahan setahun sebelumnya terhapuskan.

Abu Qatadah Al-Anshari –radhiyallahu anhu– berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Ia (yakni : Puasa ‘Asyura) akan menghapus dosa-dosa sepanjang tahun yang telah berlalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Adapun mengenai cara berpuasa ‘Asyura ada 3 cara -sebagaimana dijelaskan oleh para ulama-,

1. Hanya berpuasa tanggal 10

2. Berpuasa pada tanggal 9 dan 10

3. Berpuasa pada tanggal 9,10,11

Ketiga cara tersebut boleh dilakukan.

6. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencari keutamaannya dengan melakukan amal shaleh, di antaranya dengan berpuasa.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menjaga puasa pada hari ‘Asyura.

Ubaidillah bin Abu Yazid meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas ditanya tentang puasa ‘Asyuro. Beliau mejawab,

مَا عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَ يَوْمًا يَطْلُبُ فَضْلَهُ عَلَى الأَيَّامِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ

“Tidaklah aku mengetahui bahwa Rasulullah berpuasa pada suatu hari di mana beliau mencari keutamaannya atas hari-hari yang lainnya kecuali hari ini.” (HR. Muslim, no.2718).

Ibnu Abbas juga berkata,

ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّله على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء

“Tidaklah aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih menjaga puasa pada hari yang diutamakannya dari hari yang lain kecuali hari ini, yaitu ‘Asyura.” (HR. al Bukhori dan Muslim).

7. Pada bulan ini, terdapat suatu hari di mana terjadi peristiwa agung dan pertolongan yang nyata.

Allah menampakkan kebenaran atas kebatilan, di mana Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan Allah menenggelamkan Fir’aun berserta kaumnya.

Ibnu Abbas –radhiallahu anhuma– menuturkan :

أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatangi kota Madinah, lalu didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyura. Maka beliau pun bertanya kepada mereka, “Hari apakah ini, hingga kalian berpuasa?” mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang agung, hari ketika Allah memenangkan Musa dan Kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun serta kaumnya. Karena itu, Musa puasa setiap hari itu untuk menyatakan syukur, maka kami pun melakukannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.” kemudian beliau pun berpuasa dan memerintahkan (para sahabat) agar berpuasa di hari itu. (HR. Al-Bukhari no. 3145, dan Muslim no. 1130). Dalam riwayat imam Ahmad bersumber dari Abu Hurairah terdapat tambahan, yaitu :

وهو اليوم الذي استوت فيه السفينة على الجودي فصامه نوح شكرا ً.

“Ia adalah hari di mana kapal (yakni : kapal Nabi Nuh) berlabuh di atas bukit Judi (yakni : suatu bukit yang terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia-ed), maka nabi Nuh berpuasa pada hari itu sebagai bentuk rasa syukur (kepada Allah).”

 أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم

الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه كما يحب ربنا ويرضاه. والصلاة والسلام علي نبينا محمد وعلى آله وصحبه. أما بعد : (يايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. ali Imron : 102).

Kaum muslimin, rahimakumullah

Sungguh sangat menyedihkan tatkala kita menyaksikan beberapa fenomena di Negeri kita Indonesia, bahkan di belahan bumi lainnya yang memperlihatkan  kepada kita perilaku sebagian orang atau kelompok orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam justru menodai kemuliaan bulan Muharram yang mulia ini. Banyak bentuknya, namun 2 hal saja yang ingin saya sampaikan pada khutbah kedua ini,

1. Keyakinan sebagian saudara kita kaum muslimin bhawa “Bulan Muharom adalah Bulan Kesialan

Keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang keliru yang akan menodai kemuliaan bulan yang mulia ini. Sungguh sangat menyedihkan ternyata keyakinan ini banyak menjangkiti keyakinan banyak masyarakat di negeri kita, Indonesia dan tidak mustahil menjangkiti keyakinan sebagian orang  yang ada di penjuru dunia.

Mereka lebih mengenal bulan ini dengan nama “bulan Syuro“. Oleh karena itu banyak sekali diadakan acara-acara selamatan pada bulan ini dengan maksud menolak kesialan, dalam anggapan mereka. Karena keyakinan ini, mereka takut untuk mengadakan pernikahan padanya, atau kegiatan-kegiatan yang mereka anggap penting lainnya. Mereka khawatir jika melakukan hal-hal tersebut akan ditimpa kesialan atau musibah dan bencana.

Model keyakinan seperti ini adalah model keyakinan orang-orang arab Jahiliyyah. Bedanya, kalau bulan sial menurut orang Jahiliyyah adalah bulan Shsfar, adapun bulan sial menurut sebagian masyarat Indonesia adalah bulan “Muharram atau Syuro”.

Semua ini sangat bertentangan dengan ajaran islam, bahkan perbuatan dan keyakinan-keyakinan itu bisa mengeluarkan seseorang dari keislaman jika terpenuhi syarat-syaratnya dan terbebas dari penghalang-penghalang yang mencegahnya.

2. Ratapan dan Kesedihan

Ini adalah bentuk yang lain dari hal yang akan menodai kemuliaan bulan yang mulia ini.

Pada hari kesepuluh dari bulan ini, yang dikenal dengan Asyuro, al-Husain bin Ali bin Abu Thalib (semoga Allah meridhoi keduanya) meninggal dunia, di tahun 61 H.

Kematian al-Husain ini menyebabkan fitnah besar di tengah kaum muslimin.

Peristiwa itu mengakibatkan terjadinya keburukan di tengah manusia. Sehingga muncullah kelompok yang jahil lagi zalim, kelompok yang mulhid (kafir) lagi munafik atau dhoolah (sesat) lagi khawiah (melampaui batas), menampakkan loyalitas semu kepada ahlulbait dan menjadikan hari Asyuro sebagai hari berkabung, kesedihan dan ratapan. Pada hari itu mereka menampakkan syi’ar jahiliah seperti menampar-nampar wajah, mencabik-cabik pakaian dan berbelasungkawa dengan cara jahiliah.

Perbuatan mereka itu menyelisihi syari’at Allah. Yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya ketika tertimpa musibah yaitu bersabar, mengembalikannya kepada Allah dan mengharap balasan pahala, sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157

“Dan kabarkanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (QS. al-Baqarah : 155-157). Di dalam hadits shahih Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukanlan dari (ajaran) kami siapa yang menampar-nampar wajah, mencabik-cabik pakaian dan berdoa dengan doa jahiliah (ketika ditimpa musibah).” (HR. al-Bukhari).

Kaum muslimin, rahimakumullah

Apa yang mereka lakukan tersebut di atas, mereka mengangpapnya bahkan menyakininya sebagai salah satu cara pendekatan diri kepada Allah ta’ala dan dapat menghapus seluruh dosa mereka yang terjadi pada tahun sebelumnya. Mereka tidak sadar kalau apa yang mereka lakukan jusru mengharuskan penolakan dan menjauhkan mereka dari rahmat Allah ta’ala. Sangat benar yang Allah ta’ala firmankan dalam kitab-Nya,

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Faathir : 8).

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104)

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi : 103,104).

Akhirnya, semoga Allah ta’ala memberikan hidayah kepada mereka sehingga kembali kepada jalan Allah yang lurus yang telah disampaikan oleh RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan, semoga pula Allah ta’ala melindungi kita dan saudara-saudara kita -kaum muslimin- di seluruh penjuru dunia dari terjerumus ke dalam hal-hal yang akan menodai kemuliaan Bulan Muharram yang mulia.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ،, والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ،

اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Oleh : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: