Kisah Abdullah bin Al-Mubarak

Kisah-Abdullah-bin-Al-Mubarak.jpg

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih Al-Handzaliy, beliau diberi kuniyah (gelar) dengan ‘Abu Abdurrahman’ atau ‘ Ibnul Mubarak.’ Beliau adalah salah seorang ulama terbesar dizamannya, lahir pada tahun 118 H.[1]

Pujian para ulama kepada beliau

Banyak pujian para ulama kepada beliau, diantaranya :

Ibnu Uyainah berkata, “Saya mempelajari kehidupan para shahabat dan kehidupan Abdullah bin Al-Mubarak, dan saya tidak menemukan sesuatu yang lebih dari para sahabat dibanding Ibnul Mubarak kecuali persahabatan mereka dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan keikutsertaan mereka dalam berbagai peperangan bersama beliau.”[2]

Imam An-Nasa’i berkata, “Kami tidak mengetahui dizaman Ibnul Mubarak orang yang lebih mulia, lebih tinggi kedudukannya, dan lebih sempurna dari beliau.”[3]

Beberapa kisah beliau

1. Kisah beliau bersama seseorang yang bersin

Seseorang bersin dihadapan Ibnul Mubarak dan tidak mengucapkan ‘alhamdulillah,’ maka Ibnul Mubarak bertanya kepadanya, “Apa yang harus dibaca setelah seseorang bersin?” Ia menjawab, “Pastinya ia harus membaca ‘alhamdulillah” maka Ibnul Mubarakpun menjawabnya, “yarhamukallah.”[4]

Ini menunjukkan akan bijaksananya beliau dalam mengajari orang yang bersama beliau, beliau bungkus nasehatnya dengan kata-kata yang halus agar tidak menyinggung perasaan orang yang dinasehatinya.

2. Kisah beliau di medan jihad

Abdah bin Sulaiman Al-Marwazi berkata, “Suatu kali kami bersama Ibnul Mubarak pernah berperang ke negeri orang-orang Romawi maka musuhpun menemui kami, setelah dua pasukan saling berhadap-hadapan keluarlah seseorang dari barisan musuh dan menantang kami untuk adu tanding dengannya, maka keluarlah salah seorang dari barisan kami namun ia terbunuh, kemudian satu lagi dan ia juga dibunuh, kemudian satu lagi dan ia dibunuh juga. Lalu orang tersebut manantang lagi untuk adu tanding dengannya, maka keluarlah salah seorang dari barisan untuk menghadapinya, ia mengejarnya beberapa lama kemudian menusuknya sampai ia terbunuh. Orang-orang penasaran siapa orang tersebut, saya melihatnya ia adalah Abdullah bin Al-Mubarak, ia menyembunyikan wajahnya dan menutup wajahnya dengan lengan bajunya, maka saya pegang lengan bajunya tersebut kemudian saya tarik, ternyata benar dia, maka dia berkata padaku, “Wahai Abu ‘Amr, kamu adalah orang yang merusak (keikhlasan-red) kami.”[5]

Setelah Abdullah bin Al-Mubarak berhasil membunuh lawannya, ia menutup mukanya agar tidak diketahui oleh orang lain, beliau tidak ingin disanjung berlebihan oleh orang-orang agar tidak merasa ujub (bangga) terhadap dirinya sendiri, oleh karena itu beliau tidak suka ketika Abu ‘Amr membuka mukanya.

3. Pesan beliau kepada salah seorang muridnya

Ibnul Mubarak sangat hati-hati dari orang-orang yang memiliki pemikiran sesat, atau terkadang disebut dengan “ahlul bid’ah”, bahkan beliau menasehati para muridnya agar menjauhi mereka, beliau berkata kepada salah seorang burid beliau, “Berkumpullah kamu bersama orang-orang miskin, dan janganlah kamu berkumpul dengan orang-orang ahli bid’ah,”[6]

Maksudnnya adalah bertemanlah dengan orang-orang yang berpegang kepada sunnah walaupun mereka orang-orang miskin, dan jauhilah orang-orang ahli bid’ah walaupun mereka orang-orang yang memiliki kedudukan agar tidak terpengaruh dengan mereka.

Karangan-karangan beliau yang paling terkenal

1- Al-Jihad

2- Musnad Abdullah bin Al-Mubarok

3- Az-Zuhdu Warraqaiq

4- Al-Birru Was Shilah

Wafat beliau

Ibnu Katsir berkata tentang orang-orang yang wafat pada tahun 181, “Abdullah bin Al-Mubarak wafat pada tahun ini dibulan Ramadan dalam usia 63 tahun.”[7]

Semoga Allah senantiasa merahmati beliau, dan memberikan manfaat kepada umat Islam melalui ilmu-ilmu yang beliau wariskan kepada umat islam.

Sumber : almohtasb.com

Penyusun : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

_________

Footnote :

[1] Siyar A’lamun Nubala’ 15/398.

[2] Siyar A’lamun Nubala’ 15/398.

[3] Siyar A’lamun Nubala’ 8/390.

[4] Hilyatul Auliya’ 8/170.

[5] Siyar A’lamun Nubala’ 15/411.

[6] Siyar A’lamun Nubala’ 15/416.

[7] Al-Bidyah wan Nihayah 13/613.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: