Kisah Imam Ahmad Menghadapi Isu Bahwa ‘Al-Qur’an Makhluq’ (2)

Kisah-Imam-Ahmad-Menghadapi-Isu-Bahwa-‘Al-Qur’an-Makhluq.jpg

Di zaman Al-Ma’mun, orang-orang mu’tazilah memiliki posisi yang kuat karena saat itu mereka didukung oleh sang Khalifah. Pemaksaan terhadap para ulama dan kaum muslimin untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluq semakin menjadi-jadi. Banyak dari mereka yang disiksa, dipenjara, bahkan dibunuh karena menolak untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluq. Kebanyakan mereka menyerah dan mengikuti apa yang diinginkan oleh sang khalifah yang telah terpengaruh oleh kaum Mu’tazilah.

Tingallah Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh yang terang-terangan menolak pernyataan bahwa Al-Qur’an makhluq, mereka berdua menyadari bahwa mereka adalah panutan kaum muslimin saat itu, jika mereka mengalah dihadapan kemauan Al-Ma’mun sebagaimana yang lainnya maka akan diikuti oleh kaum muslimin. Oleh karena itu mereka memilih untuk tetap bersikukuh menolak kesesatan mu’tazilah tersebut agar akidah kaum muslimin tetap terjaga walaupun konsekuensinya adalah penjara dan siksa.

Akhirnya mereka dipanggil ke singgasana Al-Ma’mun dalam keadaan terikat. Selama perjalanan Imam Ahmad senantiasaa berdoa untuk tidak dipertemukan dengan Al-Ma’mun. Allah mengabulkan doanya dan Al-Ma’mun wafat sebelum keduanya sampai kepada Al-Ma’mun. Ditengah perjalanan Muhammad bin Nuh meninggal, sedang Imam Ahmad setelah itu dipenjara. Sebelum meninggal Al-Ma’mun berwasiat kepada penggantinya yaitu Al-Mu’tashim agar tetap mendekatkan Ibnu Abi Du’ad kesisinya. Al-Mu’tashim melaksanakan wasiat tersebut dan Ibnu Abi Duad tetap memiliki kedudukan yang tinggi disisi khalifah.

Di zaman Al-Mu’tashim Imam Ahmad disiksa dan dipenjara dan hamper dibunuh, namun ketika ia hendak membunuhnya Imam Ahmad mengingatkannya kepada hadits; لا يحل دم امرئ مسلم إلا بإحدى ثلاث… الحديث (tidak halal menumpahkan darah seorang muslim kecuali dengan salah satu dari tiga perkara…) akhirnya Al-Mu’tashim tidak membunuhnya namun tetap memenjara dan menyiksanya, sampai Imam Ahmad tak sadarkan diri karena pedihnya cambukan yang ia terima. Akhirnya Imam Ahmad dikeluarkan dari cengkraman penjara dan dibawa kerumahnya untuk berobat. Setelah Imam Ahmad sembuh ia kembali mengajar di masjid.

Setelah beberapa lama, Al-Mu’tashim meniggal dan digantikan oleh Al-Watsiq yang juga berkeyakinan dengan keyakinan mu’tazilah. Ia juga sama dengan dua khalifah sebelumnya, memaksakan rakyatnya terutama para ulama untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluq atas dorongan dari tokoh-tokoh mu’tazilah yang berada disisinya. Namun, pada masa kepemerintahan Al-Mu’tashim, Imam Ahmad menghindar dan beliau tidak terkena ancamannya.

Di akhir kehidupannya, Al-Watsiq memanggil seorang Syekh Al-Adzrumiy dalam keadaan terikat karena ia sependapat dengan Imam Ahmad dan menentang bahwa Al-Qur’an makhluq dan bahwasanya ia adalah kalamullah bukan yang yang lain. Al-Watsiq memanggil Ibnu Abi Duad dan memerintahkannya untuk bberdialog dan mendepat Syekh Al-Adzrumi tersebut sedang ia menyimak. Akhirnya Syekh Al-Adzrumiy tersebut berhasil mengalahkan dan mendiamkan Ibnu Duad dan menjadikannya bungkam tak bisa menjawab setelah berdialog dengannya dengan beberapa lama.

Setelah dialog yang terjadi antara Ibnu Abi Duad dan Syekh Al-Adzrumi, Al-Watsiq menyendiri dan menimbang-nimbang argumen masing-masing dari keduanya, akhirnya ia condong kepada pendapat Al-Adzrumi yang berhasil mengalahkan Ibnu Abi Duad, sehingga di akhir hayatnya ia bertaubat dari perkataan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluq. Dan setelah memerintah selama kurang lebih lima tahun, Al-Watsiq meninggal dunia.

Al-Watsiq diganti oleh Khalifah Al-Mutawakkil, seorang khalifah yang sholeh dan berakidah ahlussunnah wal jama’ah. Ia menuliskan surat kepada wilayah-wilayah untuk melarang siapapun untuk mengatakan bahwasanya Al-Qur’an makhluq. Akhirnya menanglah ahlussunnah dan selesailah cobaan yang menimpa kaum muslimin.

Setelah itu Imam Ahmad meneruskan dakwahnya dan menyebarkan ilmunya kepada murid-murid beliau yang dipelajari oleh kaum muslimin hingga saat ini. Beliau juga meninggalkan kitab ‘Al-Musnad’ yang menghimpun kurang lebih 20.000 hadits yang bab-babnya disusun berdasarkan urutan nama sahabat.

Imam Ahmad meninggal pada hari jum’at 14 Rabi’ul Awal, tahun 241 H.

Semoga Allah merahmati beliau dan menjadikan ilmu yang beliau wariskan kepada kaum muslimin sebagai timbangan amal baik bagi beliau.

Dipetik dan diterjemahkan dari web: https://islamqa.info/ar/153333

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: