Kisah Imam Ahmad Menghadapi Isu Bahwa ‘Al-Qur’an Makhluq’ (Bagian 1)

Kisah-Imam-Ahmad-Menghadapi-Isu-Bahwa-‘Al-Qur’an-Makhluq.jpg

Nama beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Beliau sering pula dijuluki dengan kunyah beliau yaitu ‘Abu Abdillah’ Karena putra beliau bernama Abdillah.

Beliau adalah salah satu dari Imam yang empat yang merupakan panutan kaum muslimin dari kalangan ahlussunnah wal jamaah khususnya dalam bidang fiqih.

Beliau lahir pada tahun 164 Hijriah di Kota Baghdad.

Biografi Imam Ahmad begitu terkenal, hampir tidak ada kitab yang menuliskan biografi para ulama kecuali menyebutkan biografi beliau. Bahkan tak jarang diatara para ulama yang menulis buku khusus tentang biografi beliau, seperti buku yang berjudul ‘Manaqib Al-Imam Ahmad’ yang ditulis oleh Imam Ibnul Jauzi yang wafat pada tahun 597.

Ujian Berat yang menimpa Imam Ahmad

Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Rasulullah menjawab, “para nabi, kemudian orang-orang shaleh, kemudian orang-orang yang seperti mereka kemudian orang yang seperti mereka. Seseorang akan diberi cobaan sesuai dengan kadar agamanya, jika ia kuat memegang agamanya maka ia akan ditambahkan cobaannya, dan jika ia lemah memegang agamanya  maka iapun akan dirignankan cobaannya. Dan seseorang akan senantiasaa diberi cobaan sampai ia berjalan diatas muka bumi tanpa menanggung dosa.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dan beliau menilanya sebagai hadits hasan shahih.

Diriwayatkan juga bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam mimpi seraya berkata, “wahai Ahmad, engkau akan diberi cobaan maka bersabarlah, niscaya Allah akan menaikkan bendera untukmu di hari kiamat.”

Cobaan berat ini berawal dari masa kepemimpinan Khalifah Al-Ma’mun bin Harun Ar-Rasyid. Di zaman Al-Ma’mun orang-orang mu’tazilah yang menggunakan akal sebagai ukuran dan dalil dalam segala hal berhasil menyebarkan ajarannya dalam cakupan yang cukup luas, bahkan mereka berhasil mempengaruhi dan mengambil hati Khalifah Al-Ma’mun, sehingga ia menjadi condong dan terpengaruh oleh pemikiran mereka yang seringkali berdalil dengan akal dan logika serta menundukkan Al-Qur’an dan hadits dihadapan akal mereka.

Al-Ma’mun semakin dekat dengan tokoh-tokoh mu’tazilah, ia mendekatkan mereka kesisinya dan mengangkat kedudukan mereka. Diantara tokoh terbesar mu’tazilah saat itu adalah Bisyr bin Ghiyats Al-Marrisiy. Ia menyebarkan paham bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluq, dan ia menguatkan argumennya tersebut dengan beberapa dalil dari Al-Qur’an yang ia tafsirkan sesuai kemauannya.

Al-Ma’mun semakin termakan oleh pemikiran-pemikiran orang mu’tazilah, sampai pada akhirnya ia menganut akidah mu’tazilah dan meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluq. Pada awalnya ia masih ragu untuk mewajibkan rakyatnya meyakini bahwasanya Al_Qur’an adalah makhluq, namun Ibnu Abi Du’ad salah seorang gembong mu’tazilah meyakinkannya. Akhirnya iapun mengambil pendapat tersebut dan mengirim surat kepada gubernur Baghdad saat itu yang bernama Ishaq bin Ibrahim agar ia mengumpulkan para ulama Baghdad dan mewajibkan mereka untuk menyuarakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluq, dan siapa saja yang menolak akan dihukum penjara, atau disiksa, atau dibunuh.

Mulai saat itu api fitnah berkobar di saentero Iraq, banyak orang yang disiksa dan dibunuh karena tidak mau mengikuti perkataan mereka bahwa Al-Qur’an adalah Makhluq. Cobaan ini semakin berat, banyak orang yang terpaksa mengikuti perkataan mereka, yang tersisa menolak bahwa Al-Qu’ran makhluq hanyalah empat, Imam Ahmad, Muhammad bin Nuh, dan dua orang lagi namun keduanya tidak kuat menahan beratnya siksaan, akhirnya mereka menyerah dan mengikuti apa yang mereka inginkan.

Imam Ahmad tetap menolak untuk mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluq, beliau bersikeras mengatakan perkataan yang haq bahwasaya Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluq. Beliau mempertahankan akidah kaum muslimin agar tidak ternodai oleh pemikiran-pemikiran orang-orang mu’tazilah walaupun beliau harus menerima berbagai konsekuensi.

Bersambung… … …

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: