Kisah Nabi Hud ‘Alaihissalam

Kisah-Nabi-Hud-‘Alaihissalam.jpg

Nama beliau adalah Hud bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh ‘alaihissalam.

Kisah Nabi Hud dengan kaumnya disebutkan dibanyak tempat dalam Al-Qur’an dengan lafadz yang berbeda-beda. Ringkasnya, beliau berasal dari salah satu kabilah arab yang bernama ‘Aad. Mereka tinggal di daerah yang bernama ‘Ahqaf’ yang terletak di ‘Hadhramaut’ yaitu tempat antara Yaman dan Oman. Kaum ‘Aad gemar membangun bangunan-bangunan dan kemah-kemah yang tinggi.

Kaum ‘Aad adalah kaum pertama yang menyembah berhala setelah terjadinya banjir besar yang melanda kaum Nabi Nuh (Baca: Dakwah Nabi Nuh Kepada Kaumnya), mereka juga Umat pertama yang Allah binasakan setelah kaum Nabi Nuh. Oleh karena itu dalam banyak ayat penyebutan kisah kaum Nabi Hud disebutkan langsung setelah kisah Nabi Nuh seperti dalam Surat Al-A’raaf, Al-Mu’minun, dan As-Syu’araa’.

Nabi Hud berkata kepada kaumnya:

وَاذكُرُواْ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاء مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً

“..Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu)…” (QS. Al-A’raaf : 69)
Allah memberikan Kaum ‘Aad tubuh yang kuat-kuat melebihi manusia-manusia lainnya, namun nikmat tersebut bukan mereka syukuri, mereka justru angkuh dan sombong, Allah berfirman yang artinya, “Adapun kaum ´Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka?” (QS. Fusshilat: 15)

Selain sombong mereka juga menyekutukan Allah dengan menyembah berhala. Maka Allah mengutus kepada mereka seorang nabi yang berasal dari kalangan mereka sendiri yang bernama Hud.

Dari sejak diutus menjadi Rasul oleh Allah, Nabi Hud tiada henti-hentinya mengajak kaumnya untuk meninggalkan sesembahan selain Allah, dan memohon ampun kepada Allah dari segala dosa, beliau juga memberi peringatan kepada Kaum ‘Aad akan adzab Allah dengan harapan mereka akan bertaubat. Namun Kaum ‘Aad menolaknya mentah-mentah, bahkan mereka mengejek dan memusuhi Nabi Hud. Mereka berkata yang artinya, “Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta.”(QS. Al-A’raf : 66)

Dengan sabar beliau menjawab mereka dengan kata-kata yang singkat padat:

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿67﴾ أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنَاْ لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ ﴿68﴾ أَوَعَجِبْتُمْ أَن جَاءكُمْ ذِكْرٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِّنكُمْ لِيُنذِرَكُمْ وَاذكُرُواْ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاء مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُواْ آلاء اللّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿69﴾

Hud berkata, ‘Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu. Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.’” (QS. Al-A’raf : 67-69)

Beliau juga menjelaskan kepada mereka bahwa beliau mengajak mereka untuk beriman bukan karena mengharapkan materi dari mereka, tetapi beliau semata-mata mengharapkan balasan dari Allah ta’ala yang telah mengutusnya.

Namun semua dakwah beliau tidak mereka hiraukan, Kaum ‘Aad justru semakin menjadi-jadi. Mereka menantang Nabi Hud untuk mendatangkan Adzab kepada mereka.

قَالُواْ أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar” (QS. Al-A’raf: 70).

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Ishaq berkata, “ketika mereka bersikeras untuk tidak beriman kepada Allah, Allah menahan hujan atas mereka selama tiga tahun sampai mereka merasa kesusahan.”

Ketika telah tiba waktu yang telah Allah tentukan, maka datanglah awan yang menutupi mereka, mereka mengira itu adalah tanda akan turunnya hujan yang sudah lama ditunggu-tunggu, tetapi ternyata bukan hujan hujan yang turun dari awan tersebut, melainkan adzab yang pedih dari Allah ta’ala.

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿24﴾ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ ﴿25﴾

Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih. Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS. Al-Ahqaf : 24-25)
Dalam surat Al-Haqqah Allah berfirman:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ – سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ – فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ

Adapun kaum ´Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ´Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.” (QS. Al-Haqqah : 6-8)

Demikianlah nasib Kaum ‘Aad, kaum yang durhaka kepada Allah dan nabinya. Postur tubuh yang besar dan kekuatan luar biasa yang dulu mereka bangga-banggakan Allah binasakan dalam waktu yang singkat. Ketika adzab Allah menimpa mereka tubuh mereka bergelimpangan tak karuan, bahkan mereka semua binasa tidak tersisa.

Dipetik dari kitab “Qashashul Anbiya”; kisah Nabi Hud ‘alaihissalam, karya Ibnu Katsir dan sumber lainnya.

Penyusun : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: