Kisah Seorang Istri Menasehati Suaminya

bunga-meja.jpg

Terkadang dalam kehidupan suami istri terhadapat hal-hal yang terdapat pada suami yang tidak disukai oleh istri, misalnya jika seorang suami adalah orang yang kurang berpegang kepada ajaran agama, atau ia masih suka melakukan hal-hal yang dilarang oleh syariat dan sebagainya. Sebagian istri terkadang bingung tentang bagaimana cara untuk mengajak suaminya, sebagian ragu-ragu untuk menasehati suaminya. Marilah kita simak pengalaman salah seorang akhwat yang berhasil mengajak suaminya yang dulunya masih melakukan hal-hal yang dilarang agama menjadi seorang sosok lelaki yang sholeh agar menjadi pelajaran sekaligus motivasi bagi para istri, sebagaimana yang dikatakan oleh pepatah:

“Guru yang paling berharga adalah pengalaman”

Dia bercerita:

Dulu –alhamdulillah– saya adalah orang istiqamah dalam menjalankan agama, saat itu aku selalu memimpikan sosok suami yang sholeh dan bisa membimbingku untuk semakin taat kepada Allah ‘azza wajalla. Bapakku sudah meninggal, sehingga segala urusanku diurus oleh saudara-saudaraku yang lelaki.

Suatu hari seorang pemuda maju melamarku, dia dikenal dan dicintai oleh saudara-saudaraku, oleh karena itu dihadapanku mereka sering memujinya, mereka terus berusaha meyakinkanku akan kebaikan dan kelebihan-kelebihan yang ada pada pemuda tersebut sampai akhirnya aku menerimanya. Setelah akad pernikahan selesai mereka memberikanku fotonya, saya terkejut karena di foto tersebut ia tidak memelihara jenggot, akupun memarahi mereka dan aku bilang, “Kalian tahu syaratku, aku ingin lelaki yang sholeh!” Mereka menjawab, “Orang ini memiliki banyak kelebihan yang bisa menutupi kekurangannya, dan kami menginkankannya bukan karena jenggotnya.”

Saya hanya bisa memohon kekuatan dari Allah ta’ala, sayapun mulai menyiapkan diri untuk menyesuaikan diri hidup dengan orang yang yang tidak pernah sama sekali menjadi mimpiku, saya berusaha untuk meyakinkan diri bahwa sekarang dia adalah suamiku, itu berarti saya bisa mempengaruhinya dan merubah kemungkaran yang ada padanya jika aku berhasil mendapatkan hatinya, saya menyadari bahwa saya tidak akan bisa memiliki hatinya kecuali dengan akhlaq dan perilaku yang baik, saya ingat hadits Nabi yang berbunyi:

فَوَ اللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Maka demi Allah, andaikata Allah memberikan hidayah kepada seseorang disebabkan karena engkau, maka itu lebih baik bagimu daripada unta merah (lambang kekayaan orang Arab).” (HR. Bukhari & Muslim)

Setelah pernikahanku, aku jadikan rasa cintaku kepadanya sebagai senjata paling ampuh, saya selalu memperlihatkan ketulusan cintaku dan kebesaran rinduku padanya. Saya sama sekali tidak lalai untuk mengungkapkan perasaan cintaku kepadanya walalupun sebenarnya aku sedang merasa kesal, bahkan ketika saya marah kepadanya saya berusaha untuk menyembunyikannya dan senyum dihadapannya. Jika dia sedang pergi, terkadang saya duduk menangis tanpa sepengetahuannya. Saya berusaha untuk selalu menaati perintahnya dalam segala sesuatu bahkan dalam hal-hal yang tidak aku suka.

Jika saya ingin menasehatinya saya memegang pipinya dan bilang, “Wajahmu tampan, tapi saya yakin ia akan lebih tampan jika kamu menghiasnya dengan jenggot hitam yang dipandanganku itu sebagai tanda kejantanan.”

Waktu itu saya selalu mengingatkannya hukum mencukur jenggot, saya meletakkan di tempat ia duduk fatwa-fatwa tentang hukum mencukur jenggot tapi saya tidak menyuruhnya untuk membaca, tapi saya terkadang melihatnya mengambil buku-buku tersebut dan membacanya.

Setelah lima bulan pernikahanku berlalu, lagi-lagi saya terkagetkan setelah tahu bahwa dia adalah seorang perokok, saya memohon pertolongan kepada Allah dan saya berkata pada diri saya, “Saya harus bertahap untuk meluruskannya, saya akan berusaha membuatnya memelihara jenggotnya dulu.” Setelah beberapa lama Allah memberinya hidayah sehingga ia mau untuk tidak lagi mencukur jenggotnya dan alhamdulillah ia istiqimah dalam hal tersebut.

Kemudian saya melaksanakan tahap kedua, saya berkata padanya, “Coba kamu berkaca, bukankah aneh jika seorang berjenggot yang seakan kelihatan sebagai orang sholeh tapi bau rokok?” Saya terus berusaha menasehatinya dan berkata padanya, “Kamu tidak pantas sebagai orang yang sholeh yang senantiasa menjaga shalat dan memiliki kelebihan ini itu mengotori mulutmu dengan rokok atau dengan mendengarkan musik, atau melakukan ini dan itu.” Tidak hanya disitu, saya juga banyak mendoakannya terutama di akhir malam semoga Allah menyondongkan hatinya untuk menjauhi rokok dan menjadikan hatinya membenci rokok. Setelah berapa lama iapun berniat untuk meninggalkannya, bahkan sekarang dia menjadi salah satu muaddzin di kota Riyadh. Selesai.

Kisah ini merupakan salah satu contoh kisah sukses seorang perempuan di zaman sekarang yang berdakwah kepada suaminya.

Kisah ini dapat menjadi motivasi sekaligus banyak memberi pelajaran kepada para istri tentang bagaimana trik mengajak suami jika mereka terjatuh kedalam perbuatan mungkar. Diantara pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini adalah:

  • Istiqomahnya seorang istri dalam melaksanakan perintah Allah merupakan langkah awal untuk mempengaruhi suami menjadi lebih baik. Jika tidak memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu, maka bagaimana bisa ia memperbaiki suami.
  • Memilih calon suami yang sholeh untuk menjadi pasangan hidup sebagaimana yang dikatakan oleh perempuan di cerita diatas, “Saat itu aku selalu memimpikan sosok suami yang sholeh dan bisa membimbingku untuk semakin taat kepada Allah ‘azza wajalla.” Dan begitulah seharusnya wanita sholehah mendahulukan agama dan akhlaq daripada ketampanan dan harta.
  • Tingginya semangat dan kemauan wanita ini untuk merubah suaminya menjadi lebih baik walaupun dengan pelan-pelan dan dalam jangka waktu yang lama, ia tetap tegar dan memakai segala cara selama tidak haram untuk menarik hati suami.
  • Untuk mendapatkan kecintaan suami dan memiliki hatinya hanyalah dengan kecintaan yang tulus, dan akhlaq yang baik penuh lemah lembut. Wanita di dalam kisah ini berhasil mempengaruhi dan merubah suaminya menjadi lebih baik setelah berbuat baik semampu mungkin dengan suaminya dan memperlakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
  • Memakai cara-cara yang dapat menarik hati suami agar ia dapat menerima nasehat dan menjauhi cara-cara keras yang hanya akan membuat suami menjadi tambah menjauh. Lihatlah bagaimana wanita ini memakai suaminya dengan seperti perkataannya, “Jika saya ingin menasehatinya saya memegang pipinya dan bilang, “Wajahmu tampan, tapi saya yakin ia akan lebih tampan jika kamu menghiasnya dengan jenggot hitam yang dipandanganku itu sebagai tanda kejantanan.”
  • Bertahap dalam meluruskan suami, Mulai dari hal-hal yang paling penting dahulu baru kemudian yang setelahnya.
  • Selalu mendoakan suami dengan doa yang tulus, karena yang memiliki hati suami dan bisa membuatnya berubah hanyalah Allah ta’ala, sehingga memohonlah kepadanya agar Allah senantiasa membimbingnya kejalan yang lurus.

Sumber : http://ar.islamway.net

Penyusun : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

One thought on “Kisah Seorang Istri Menasehati Suaminya”

  1. Liin sunarsi berkata:

    Ya aku terharu mendengar cerita itu, aku juga ingin bercerita sama seperti dia tapi aku juga ingin belajar agar jdi istri yg soleha dan ingin mengajak suamiku kejalan yg diridha allah tapi sepertinya agak susah krn saya saja belum sempurna dlm ibadah, namun aku kan berusaha. Untuk mengajak suamiku agar mau mendirikan sholat dan menjauhi larangan2 allah. Namun aku menyadari juga setiap kali dia ada masalah pd saya ataupun pekerjaannya dia slalu pergi mabuk masukan, namun smua kusesali sepertinya pengorbanan saya sia sia, skrg q lelah seperti apa lgi yg harus aku lakukan agar keluargaku baik baik saja. Namun sangat susah memberi tahu ya krn hubungan kami jarak jauh, dia cuek juga. Aku tak tau apakah dia masi mencintaiku apa tidak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: