Kisah Su’ul Khotimah: Mati Saat Sedang Berdandan

lilin.jpg

Akhir Yang Buruk

Kisah Wanita yang Tak Pernah Shalat, Mati Saat Sedang Berdandan!!

Segala puji bagi Allah yang telah memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk beribadah kepadaNya sepanjang hayat masih ada, memerintahkan hamba-hambanya melakukan kebaikan dan menjanjikan keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat.

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Hajj : 77)

Maka, barang siapa yang tidak ruku’, tidak sujud, tidak beribadah kepadaNya, tidak melakukan amal kebajikan, bahkan ia meninggalkan kebajikan yang diwajibkan oleh Rabbnya, berupa shalat maka sungguh bukan keberuntungan yang akan ia dapatkan. Tapi, keburukanlah yang akan didapatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Atau bahkan keburukan di saat perpindahannya dari alam dunia di mana ia tengah berada menuju ke alam akhirat, kehidupan yang kekal abadi, maka sungguh hal tersebut merupakan akhir kehidupan di dunia yang buruk, semoga Allah menyelamatkan kita dari hal tersebut.

Saudaraku… Berikut ini adalah kisah seorang wanita yang tak pernah shalat, tak pernah ruku’ dan sujud, tak pernah menghambakan dirinya kepada Allah ta’ala. semoga Anda dapat mengambil pelajaran darinya. Aamiin.

Temanku berkata kepadaku, “Ketika perang teluk berlangsung, aku sedang berada di Mesir dan sebelum perang meletus, aku sudah terbiasa menguburkan mayat di Kuwait yang aku ketahui dari masyarakat setempat. Salah seorang familiku menghubungiku meminta agar menguburkan ibu mereka yang meninggal. Aku pergi ke pekuburan dan aku menunggu di tempat memandikan mayat”.

Di sana aku melihat empat wanita berhijab bergegas meninggalkan tempat memandikan mayat tersebut. Aku tidak menanyakan sebab mereka keluar dari tempat itu karena memang bukan urusanku. Beberapa menit kemudian wanita yang memandikan mayat keluar dan memintaku agar menolongnya memandikan mayat tersebut. Aku katakan kepadanya, “Ini tidak boleh, karena tidak halal bagi seorang lelaki melihat aurat wanita.” Tetapi ia mengemukakan alasannya bahwa jenazah wanita yang satu ini sangat besar.

Kemudian wanita itu kembali masuk dan memandikan mayat tersebut. Setelah selesai dikafankan, ia memanggil kami agar mayat tersebut diusung. Karena jenazah ini terlalu berat, kami berjumlah sebelas orang masuk ke dalam untuk mengangkatnya. Setelah sampai di lubang kuburan (kebiasaan penduduk Mesir membuat pekuburan seperti ruangan lalu dengan menggunakan tangga, mereka menurunkan mayat ke ruangan tersebut dan meletakkannya di dalamnya dengan tidak ditimbun).

Kami buka lubang masuknya dan kami turunkan dari pundak kami. Namun tiba-tiba jenazahnya terlepas dan terjatuh ke dalam dan tidak sempat kami tangkap kembali hingga aku mendengar dari gemeretak tulangnya yang patah ketika jenazah itu jatuh. Aku melihat ke dalam ternyata kain kafannya sedikit terbuka sehingga terlihat auratnya. Aku segera melompat ke jenazah dan menutup aurat tersebut.

Lalu dengan susah payah aku menyeretnya ke arah kiblat dan aku buka kafan di bagian mukanya. Aku melihat pemandangan yang aneh. Matanya terbelalak dan berwarna hitam. Aku menjadi takut dan segera memanjat ke atas dengan tidak menoleh ke belakang lagi.

Setelah sampai di apartemen, aku menghubungi salah seorang anak perempuan jenazah. Ia bersumpah agar aku menceritakan apa yang terjadi saat memasukkan jenazah ke dalam kuburan. Aku berusaha untuk mengelak, namun ia terus mendesakku hingga akhirnya terpaksa harus memberitahukannya. Ia berkata, “Ya Syaikh (panggilan yang sering diucapkan kepada seorang ustadz-red), ketika anda melihat kami bergegas keluar dikarenakan kami melihat wajah ibu kami menghitam, karena ibu kami tidak pernah sekalipun melaksanakan shalat dan meninggal dalam keadaan berdandan.”

Kisah nyata ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki agar sebagian hamba-Nya melihat bekas su’ul khatimah hamba-Nya yang durhaka agar menjadi pelajaran bagi yang masih hidup. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berakal.


Sumber : Serial Kisah Teladan, Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, Juz 2. Pustaka Darul Haq, Jakarta.


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: