Kisah Utsman bin Affan dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Utsman-bin-Affan.jpg

Beliau adalah Utsman bin Affan bin Abil ‘Ash bin Umayyah, digelar dengan ‘Amirul Mukminin’ dan juga dengan ‘Dzun Nurain’.

Beliau lahir 6 tahun setelah ‘Amul fiil.

Sahabat mulia Utsman bin Affan memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki oleh sahabat-sahabat lain. Beliau termasuk salah satu orang pertama yang masuk islam, beliau adalah salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga, beliau adalah khalifah yang ketiga setelah wafatnya Nabi, beliau adalah orang yang santun dan pemalu sehingga malaikatpun malu darinya, beliau juga merupakan menantu bagi Nabi dimana Nabi shallalllahu ‘alaihi wasallam menikahkan Utsman dengan dua putrinya yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum sehingga beliau digelar dengan ‘Dzun Nurain’.

Ihtisab Beliau dalam Menjaga Kemurnian Akidah

Diantara ihtisab (amar ma’ruf nahi munkar) terpenting yang dilakukan oleh khalifah Utsman bin Affan adalah perhatiannya yang sangat besar terhadap kemurnian akidah umat islam, dan usahanya dalam menyingkirkan segala hal yang dapat menodai akidah.

Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan tentang bagaimana utsman menghancurkan bangunan yang didalamya terdapat berhala, beliau berkata, “Dan yang kelima adalah sebuah bangunan di Shan’a (yaman) yang dibangun oleh Adhahhak dengan nama Azzahrah, maka Utsman pun menghancurkannya.” (Talbis Iblis, 1/56)

Dalam hal ini beliau meneladani Rasulullah shallallahualaihi wasallam, dimana awal yang beliau lakukan ketika peristiwa penaklukan kota Mekah adalah menghancurkan berhala-berhala sekitar Ka’bah.

Suatu ketika Abdullah bin Mas’ud menulis surat kepada Utsman bin Affan mengabarkan kepadanya tentang sekelompok orang yang menghidupkan kembali perkataan-perkataan Musailamah Al-Kaddzab dan mereka mengajak orang lain untuk bergabung dengan mereka. Utsman tidak bertindak yang lain kecuali menulis surat kepadanya, “Tawarkanlah kepada mereka agama (Islam) yang haq (benar) dan persaksian bahwasanya tiada Tuhan (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Barangsiapa menerimanya dan berlepas diri dari (ajaran) Musailamah jangan engkau bunuh, dan barangsiapa yang tetap bersikeras berpegang kepada agama Musailamah maka bunuhlah mereka.” Sebagian orang menerimanya maka mereka dibiarkan, dan sebagian yang lain tetap dalam agama Musailamah sehingga merekapun dibunuh. (Sunan Al-Baihaqy, no. 18692 8/201)

Diantara kisah ihtisab beliau dalam rangka menjaga kemurnian akidah adalah menutup segala pintu kepada kesyirikan, dikisahkan bahwa beliau pernah keluar dan memerintahkan agar kuburan-kuburan diratakan dengan tanah, maka semuanya diratakan kecuali kuburan Ummu ‘Amr putri Utsman, beliaupun bertanya, “Kuburan apa ini?” Maka merekapun menjawab, “Kuburan Ummu ‘Amr,” Maka beliau memberikan perintah sehingga kuburan tersebut diratakan. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, no. 11917)

Ihtisab Beliau dalam Menyatukan Mushhaf

Dari anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Hudzaifah Ibnul Yaman datang ke Utsman bin Affan dan sebelumnya Ia berperang melawan penduduk Syam dalam penaklukan Armenia dan Azerbijan bersama penduduk Iraq, Hudzaifah merasa khawatir terhadap perselisihan qiroah (bacaan) diantara mereka. Lantas Hudzaifah berkata kepada Utsman, “Wahai Amirul Mukminin selamatkanlah umat ini sebelum mereka berbeda dalam Al-Qur’an sebagaimana perbedaan kaum Yahudi dan Nashrani. Utsman pun mengirim kepada Hafshah (putri Umar bin Khatthab) supaya mengirim kepada kami mushhaf agar kami menyalinnya kedalam mushhaf-mushhaf kemudian kami akan mengembalikannya kepadamu. Maka Hafshah pun mengirimnya kepada Utsman. Utsman menyuruh Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Kemudian mereka menyalinnya kedalam mushhaf-mushhaf. Utsman berkata kepada tiga orang yang dari Quraisy, “Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit dalam Al-Qur’an maka tulislah menurut logat kaum Quraisy karena ia turun dengan logat mereka, maka mereka melakukannya. Setelah mereka menyalinnya kemushhaf-mushhaf Utsman mengembalikan mushhaf tadi ke Hafshah dan Ia mengirim kesetiap wilayah dengan mushhaf yang telah mereka salin dan ia memerintahkan agar Al-Qur’an selainnya yang tertulis dalam lembaran maupun mushhaf-mushhaf agar dibakar.” (HR. Bukhari no. 4702 4/1908)

Ihtisab Beliau dalam Hal Ibadah

Di zaman beliau pasar-pasar semakin ramai, dan jumlah penduduk semakin bertambah, sehingga beliau melihat perlunya memberi peringatan kepada masyarakat untuk cepat-cepat berangkat shalat Jum’at sebelum imam hendak naik mimbar di hari Jum’at.

Dari As-Saib bin Yazid radhiyallahuanhu berkata. “Dahulu Adzan pertama pada hari Jum’at adalah ketika imam duduk diatas mimbar (dan itu) pada pada masa Nabi shallallahualaihi wasallam, Abu Bakar, Dan Umar. Pada (masa) Utsman orang-orang sudah semakin banyak, maka ditambahkan adzan ketiga di Zaura.” (HR. Bukhari)

Hadits diatas menunjukkan bahwasanya di zaman Utsman radhiyallahuanhu menambah adzan Jum’at dan dikumandangkan di Zaura’ yaitu suatu tempat di pasar Madinah. Dan ini adalah ijtihad beliau demi mashlahat kaum muslimin agar mereka tidak tersibukkan dengan dagangan mereka dan terlambat untuk shalat Jum’at.

Diantara kisah ihtisab beliau juga dalam hal ibadah adalah pengingkarannya terhadap para perempuan yang ingin melakukan ibadah haji dan umrah sedang mereka dalam masa iddah (masa menunggunya wanita yang dicerai atau ditinggal mati suami). Karena dalam masa tersebut wanita wajib berada di rumah suami.

Dari Mujahid beliau berkata, “Dahulu Umar dan Utsman memulangkan mereka para wanita yang haji dan umrah (yang dalam masa iddah-red) dari Juhfah dan Dzul-Hulaifah. (Mushannaf Abdur-Razzaq no. 12071 7/33)

Sumber: http://islamselect.net/mat/100310

Penyusun: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: