KORBAN LGBT

Korban-Lgbt.jpg

Ada seorang pemuda bernama Sulaiman, dia berbeda dari pemuda lainnya dengan beberapa kelebihan di antaranya kecerdasan, ketampanan, dan akhlak yang baik. Dia merupakan siswa yang duduk di bangku kelas 2 SMA.

Awalnya dia adalah seorang siswa yang menduduki peringkat yang tinggi di kelasnya, disenangi oleh para guru dan berbakti kepada orang tuanya. Wajahnya bercahaya dan keimanan di dalam hatinya penuh berisi. Dia sangat menjaga shalat tepat pada waktunya, dan banyak melakukan berbagai ketaatan lainnya. Ayahnya sangat dekat dengannya di setiap waktu, sampai akhirnya sang ayah disibukan dengan pekerjaan lainnya. Lantas dia pun tidak melihat Sulaiman melainkan sedikit dari sisa waktunya.

Berlalu bulan pertama dari tahun pertama masa belajar, dia masih dalam keadaan berbakti dan melakukan kebaikan. Namun dia merasakan waktu kosong yang seolah-olah membunuhnya, tidak memiliki teman selain di sekolah dan itupun tidak bertemu selain di sekolah. Tanda-tanda pubertas mulai nampak padanya, dan dia masih dapat menguasai diri.

Namun ada orang di sekolah itu yang mengintai anak-anak yang masih berusia belia, dia pun mengincar Sulaiman dengan niat yang jahat dan berusaha berkali-kali untuk mendekatinya namun gagal juga. Hari-hari berlalu, orang jahat itupun berhasil mengambil hati Sulaiman. Dia memberi Sulaiman hadiah-hadiah dan mereka pun dapat duduk bersama sambil tertawa. Demikianlah pertemanan itu berjalan hingga keduanya duduk bersama di sekolah pada saat istirahat. Orang itu mengambil hati Sulaiman dengan mengatakan di depan taman-temannya: “Tidak ada yang lebih baik dari Sulaiman!”

Mulailah akhlak Sulaiman berubah, dia banyak mengangkat suaranya dan tidak mengerjakan PR. Temannya yang sekarang berhasil menjeratnya dengan rokok. Mengenai shalatnya, maka jangan ditanya! terkadang ia shalat sehari dan meninggalkannya selama satu minggu. Demikianlah, telah padam cahaya keimanan di dalam hati Sulaiman.

Sang ibu mendapati keadaan Sulaiman telah berubah, ia pun menyampaikan hal itu kepada suaminya. Namun sang suami justru berkata, “ Jangan kau cemaskan dia, itu adalah masa puber yang dilalui oleh setiap orang ! Akan tetapi dugaan sang ayah itu meleset, Sulaiman mulai meninggalkan bacaan al-Qur’an setelah sebelumnya dia selalu membacanya sebelum tidur.

Suatu hari gurunya di sekolah menasehatinya : “Wahai Sulaiman, aku mengkhawatirkan dirimu terpengaruh oleh teman-teman yang jelek! Berhati-hatilah sebelum nantinya engkau mati !” Nasehat itu membekas pada diri Sulaiman, sepulangnya dari sekolah dia langsung masuk ke kamar dan melihat ke baju-bajunya yang berserakan di sana-sini dan sebagian bukunya juga berserakan di lantai.

Diapun duduk di atas kasurnya, mengingat nasehat gurunya di sekolah. “Ya Allah! Apakah aku akan mati dalam keadaan seperti ini ?! Dia pun mengarahkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, dia pun menghampiri mushaf al-Qur’an yang ada di atas meja dan menghapus debu yang ada di atasnya. Kemudian membacanya dan berseru, “Ya Rabbi, sebulan penuh aku tidak menyentuhnya … !” Air mata Sulaiman pun menetes membasahi sampulnya. Lalu dia pun meletakkan mushaf itu dan kemudian tidur.

Hari berikutnya, setan dan teman jeleknya membuat dia lupa apa yang terjadi kemarin. Dia pun tidak pulang ke rumah usai sekolah. Sang ibu cemas sekali memikirkan anaknya, ia mondar-mandir di halaman rumah. Hingga ayah Sulaiman datang dari kantornya, sang ibu berkata : “Sulaiman sejak tadi belum pulang dari sekolah, aku harap engkau mencarinya. Hatiku tidak tenang dan selalu memikirkannya.” Ayah Sulaiman berusaha menenangkan istrinya, namun ia terus mengulang-ulang permohonannya.

Ayah Sulaiman pun pergi ke sekolah, tadinya pintu sekolah tertutup dan tulisan para siswa dilihatnya terpampang di dinding-dinding sekolah serta rambu-rambu yang ada di depan sekolah, para tetangga sekolah mengeluhkan tentang apa yang dilakukan para siswa. Keheningan ada di tempat tersebut, yang ada hanya suara mobil ayah Sulaiman. Dia pun mengetuk pintu dan penjaga sekolah pun keluar menyambutnya. Sang ayah bertanya mengenai anaknya Sulaiman, namun sang penjaga menjawab kalau dirinya tidak melihatnya melainkan tadi pagi dia sedang mengantri di tempat antrian.

Dia pun mengambil dari si penjaga nomer telpon kepala sekolah lalu pergi. Beberapa saat kemudian, telepon rumah kepala sekolah pun berbunyi. Sang kepala sekolah mengangkat telepon, sementara ayah Sulaiman memperkenalkan dirinya. oh…Ayah Sulaiman, tadinya saya akan menelpon Anda. Ternyata Anda yang telepon saya duluan.

Ayah Sulaiman pun bertanya mengenai apa yang terjadi ? Kepala sekolah berkata : “Sulaiman telah berubah, dia tidak lagi menjadi pemuda yang patuh! Dia telah berteman dengan anak yang dikenal sebagai pelaku maksiat.” Maka sang ayah bertanya barangkali kepala sekolah tahu mengenai kepergiannya karena dia tidak pulang ke rumah. Dia menjawab : Sulaiman selalu bolos bersama anak nakal itu.

Sang ayah meminta alamat rumah itu dari kepala sekolah, dan dia pun segera menuju ke sana. Setelah mengetuk pintu, keluarlah seorang wanita tua yang mengabarkan kalau anaknya tadi pulang dan pamit untuk bepergian. Kalimat itu seolah tamparan yang mendarat di pipi ayah Sulaiman, lantas dia pun kembali pulang ke rumahnya.

Sang istri yang menunggu, membukakan pintu untuk suaminya. Nampak dari raut mukanya mengharapkan dan beribu pertanyaan meski ia tidak berucap. Ayah Sulaiman pun berkata : “Tidak ada kabar pasti mengenai Sulaiman.” Keluarga tersebut akhirnya dirundung malang, pikiran mereka terpaut pada Sulaiman meskipun di atas meja makan. Sang ibu menyuapi putrinya, adik Sulaiman. Anak kecil itu berkata : “Ibu jangan bersedih ! Kakakku Sulaiman pasti kembali …” Sang ibu pun di setiap sujudnya berseru :”Ya Rabbi…! Pulangkanlah anakku dalam keadaan selamat.”

Di hari kedua, ayah Sulaiman pun lapor ke polisi mengenai anaknya yang tidak pulang ke rumah. Setelah berlalu satu minggu, ternyata di sekolah sudah tercatat kalau Sulaiman dan temannya sudah tidak sekolah selama satu bulan. Keluarga Sulaiman merasa sangat kehilangan, tidaklah kering air mata ibunya melainkan sang adik juga menangis.

Suatu hari sang ibu masuk ke kamar Sulaiman, tidak ada yang berubah. Ia berbisik, “Yaa rabbi..! Apakah masuk akal semua ini hanya jadi kenangan ?!” Ia pun memegang baju Sulaiman, meremas dan mendekapnya seiring dengan air mata yang bercucuran seraya berkata : aku harap kau pulang wahai anakku.” Ia pun memegang salah satu buku pelajaran sekolahnya, baju olah raga, serta sepatunya. Sementara di sudut kamar yang lain terdapat mushaf dan sajadah shalatnya, ia pun larut dalam ingatan masa lalu. Pada saat Sulaiman ada di dalam perut, lalu pada saat keluar dia dirawat di rumah sakit. lalu pada saat dia belajar berjalan di sudut-sudut rumah dan ikut menirukan gerakan shalat di sampingnya. Lalu masuk sekolah dasar, juga pada saat bermain sepeda di depan rumah. Akhirnya dia terjerat dengan temannya itu.

Adik Sulaiman pun berkata, “Abi, sampai kapan kita seperti ini menunggu ? Bukankah engkau berjanji jika akan bermain di kebun kalau dia kembali ?! Spontan ayah Sulaiman menjawab, “Ya, wahai anakku dia akan kembali…”

Sudah berlalu tiga bulan lamanya, keluarga itu tidur dan bangun karena bermimpi Sulaiman kembali.

Suatu hari, ada keluarga yang keluar untuk berkemah dalam perjalanan piknik di tengah padang pasir. Sang ayah menurunkan barang-barang, sementara anak-anaknya bermain bola agak jauh dari mobil. Ketika waktu makan tiba, salah seorang anaknya datang berlari seraya berkata, “Ayah…ayah … ! Di situ ada bau busuk yang sangat menyengat, sepertinya ada orang mati.” Maka ayahnya pun segera mendatangi tempat yang ditunjukkan anaknya. Dia pun memakai masker dan mendekat hingga jelas melihat jasad tersebut. “Ya Allah…!! Dia pun langsung menelpon polisi seraya mengabarkan kejadian yang dialaminya dan tempat dia berada. Seperempat jam kemudian polisi pun datang.

Bersama tim diangkatlah jasad itu dan dibersihkan lalu membawanya ke ruangan khusus. Sementara keluarga itu beranjak untuk mencari tempat berkemah yang lain. Setelah penyelidikan sampailah pada kesimpulan bahwa itu adalah jasad seorang pemuda berumur 17 tahun. Dia meninggal setelah ditembak tiga kali di kepalanya usai disodomi. Na’udzubillah

Polisipun kembali membolak-balik map laporan kehilangan, hingga didapati map Sulaiman dan terdapat tanda tangan orang tua beserta nomer telponnya. Mereka pun menelpon, sementara yang mengangkat adik Sulaiman. Polisi pun bertanya, “Mana ayah Sulaiman ?” Serentak ayah Sulaiman mengambil gagang telepon. Kami dari kepolisian mendapati mayat seorang anak muda yang terbunuh, kami mengharap kehadiran Anda sekarang juga ! Telepon itu bagai halilintar yang menyambar, semua anggota keluarga tidak ada yang sanggup berbicara.

Mereka pun segera keluar mengendarai mobil, sang ayah mengendarai mobil dengan cepat, secepat air mata yang menetes di pipinya. Duhai apakah engkau sekarang telah kembali Sulaiman, engkau kembali ke pangkuan ayahmu setelah sekian lama menghilang …dalam keadaan sudah menjadi mayat ! Oo…Sulaiman..dia pun memukul gagang setirnya. Kenangan masa lalu anaknya dari seorang ayah yang penyayang. Terbayang di pelupuk matanya, saat Sulaiman bayi, saat bersama mainan kesayangannya yang dia belikan, baju olah raganya, Uang jajan yang diberikannya tiap hari pada sang anak, pada saat dia pertama kali mengenakan baju seragam sekolah hingga pada akhirnya ia lulus dengan membawa ijazah di hadapan teman-temannya dengan meraih peringkat kedua disertai predikat mumtaz (cumlaude). Ya Allah, langkah hinanya dunia ini!

Alangkah cepatnya berlalu kenangan itu semua, sekarang aku hidup tidak tahu di mana anakku? apakah aku berada di depan pintu sandiwara. Detak jantung sang ayah tidak karuan, sementara di dalam kepalanya ada puluhan pertanyaan.

Setibanya di tempat mereka berkata, “Pakailah masker ini agar Anda tidak terganggu oleh bau busuknya.” Setelah itu sang ayah pun menyingkap kain perlahan, dia berangan sekiranya mati sebelum kejadian ini! Dia menarik nafas panjang seraya melihat ke jasad itu, benar itu adalah Sulaiman … ! Dia tidak kuasa bergerak hingga akhirnya duduk dan berteriak, “mengapa engkau seperti ini wahai Sulaiman? Apa yang engkau perbuat terhadapku ?” Air mata yang mengucur dan suasana pilu menyelimuti tempat itu. ingatan masa lalu datang menghampiri …

Demikianlah, Sulaiman telah pergi untuk selamanya, secara mengenaskan.

Mereka pun mempelajari kasus tersebut, dimulai dengan mengintai rumah pemuda yang dicurigai. Begitu dia keluar maka mereka menangkap anak itu dan membawanya, sesampainya di kantor polisi pemuda itu diperiksa dan ditanya. Awalnya dia mengelak, tidak mengaku sampai akhirnya polisi pun menekannya. Akhirnya dia berkata, “Ya, saya telah berbuat keji dengannya (sodomi), tatkala saya takut hal ini terungkap dan menyebar maka saya menembak kepalanya !”.

Subhanallah…!! Alangkah jahatnya ketika seorang hidup jauh dari cahaya Allah. Duhai sengsaranya manusia tatkala menjadi budak nafsunya.

Wahai para orang tua, wahai para ayah, pulanglah, hadirlah di tengah-tengah anak-anak Anda yang menginjak usia remaja. Mereka membutuhkan Anda, jika tidak maka anak Anda dihampiri oleh orang lian.

Ya Alllah lindungi anak-anak kami, keluarga dan bangsa kami dari virus yang menular dan ditularkan. Amin

Sumber :

Kisah yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad ash-Showi dalam kaset berjudul “ Apa kabar hai pemuda ?”

Dinukil dari Majalah al-Umm, edisi 03/Vol.IV

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: