Lagu Haram Perusak Moral

Lagu-Haram.jpg

Trend sosial media selalu update setiap waktu, entah apakah itu tentang kabar sosok kesohor yang menjadi trending topicnya, atau kejadian di suatu tempat, atau hal yang lainnya, dan beberapa hari belakangan ini yang menjadi trending di sosial media kawula muda sebuah lagu asal Negeri Matador yang berjudul DESPACITO, yang kemudian ketenarannya semakin menjadi-jadi setelah banyak di gubah kembali ke lagu versi parodi, hingga akhirnya netizen terkhususnya kawula muda yang sudah terlanjur menggemarinya dikejutkan oleh sebuah fakta tentang lagu tersebut, yaitu liriknya yang bermakna tak senonoh, tidak bermoral, dan membuat kening mengkerut, tak sesuai dengan budaya Indonesia.

Bila anda belum percaya silahkan buktikan sendiri dengan mencari arti liriknya di Google.

Sebenarnya dari judulnya saja kita sudah bisa menarik satu kesimpulan, yaitu tidak paham! karena menggunakan selain bahasa kita, apalagi bahasa spanyol pun bukan layaknya bahasa Inggris yang cukup  familiar ditelinga sehingga cepat dipahami.

Namun apa hendak dikata, kebanyakan dari kita terlalu latah akan sesuatu yang baru, dan ngetrend tanpa kroscek terlebih dahulu apakah ia baik atau buruk, hoax atau fakta, bermanfaat atau tidak, dan yang lebih penting; bernilai PAHALA atau DOSA?

Generasi latah ini ternyata memang ada di setiap jaman, buktinya dalam hadits berikut Nabi shalallahu alaihi wasallam memberikan peringatan kepada para pemuda, atau kesiapa saja dari para sahabat beliau yang terlalu rentan untuk terwarnai oleh pergaulan sehingga menjadi para pengekor orang lain tanpa pendirian, dalam haditsnya beliau bersabda:

“لاَ تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلاَ تَظْلِمُوا.” رواه الترمذي

Janganlah kalian menjadi seorang imma’ah, dengan kalian mengatakan:” Jika manusia baik, kami pun ikut baik, dan apabila mereka berbuat zalim kami pun berbuat zalim pula”, akan tetapi teguhkan diri kalian! Apabila manusia baik kalian berbuat baik, dan apabila mereka berbuat buruk maka kalian jangan ikut berbuat zalim” (HR. Tirmidzi)

Maksud dari kata Imma’ah adalah ikut-ikutan, pengekor, dan sebagainya yang menunjukkan ketiadaan kekuatan karakter diri yang independen dalam mengambil sikap dan pilihan dalam pergaulan.

Membicarakan sifat yang satu ini sebenarnya jangankan dari kacamata agama, ditinjau dari keduniawian pun tidak bagus, karena kehidupan yang penuh dengan tantangan ini butuh dengan perjuangan keras, dan untuk berjuang menaklukkan tantangan-tantangan yang ada itu perlu jiwa yang kuat luar dalam, tegas dalam mengambil sikap, dan menentukan pilihannya, karena risiko yang ada padanya itu nantinya bukan ditanggung oleh siapa yang kau ikuti dengan sembarangan itu, melainkan dirimu sendiri!

Tebus Kesalahan.!

Tiada insan yang tak alpa, tiada hamba yang tak berdosa, selagi nafas belum melewati tenggorokan, selagi matahari terbit dari barat, maka selama itu pula Pintu Taubat dan Gerbang Tebusan masih terbuka atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan baik itu sengaja ataupun tidak. Menebus dosa ada banyak cara setelah mengikrarkan taubat nasuha, salah satunya adalah menebus dosa tersebut dengan melakukan kebaikan yang menutupinya, jika berlaku zalim maka minta maaf, jika terlanjur membagikan kabar hoax maka setelah segeralah hapus dan ganti dengan klarifikasi, dan pada kasus kita ini, jika terlanjur ikut menyukai bahkan meramaikan penyebarannya, maka segera hapus dan ganti dengan status yang menyingkap fakta tentang lirik lagu yang tak senonoh ini, dan Alhamdulillah media-media dakwah telah banyak juga yang mengungkapkannya, silahkan di share.

Cara yang bagus ini adalah petuah dari Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam haditsnya:

“اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها ، وخالق الناس بخلق حسن”

رواه الترمذي

Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya akan MENGHAPUSKANNYA, dan bergaul lah dengan manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Tirmidzi)

Sekian masukan dari kami, semoga dengan nikmat kecepatan penyebaran informasi pada era ini kita dapat saling mengingatkan akan kebaikan dan menasehati akan kesalahan.

Muhammad Hadhrami Achmadi

Mahasiswa Fakultas Syariah LIPIA JAKARTA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: