Maharnya adalah Masuk Islam

Maharnya-adalah-Masuk-Islam.jpg

Kali ini kami akan memaparkan kisah seorang shahabiyah mulia yang berpegang teguh dengan agamanya. Beliau mendahulukan agamanya sebelum yang lainnya, beliau adalah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha.

Pada artikel yang berjudul ‘Kisah Ummu Sulaim dalam Beramar Ma’ruf Nahi Munkar’ telah kami sebutkan bagaimana mengajak anak dan suaminya masuk islam, namun sayangnya sang suami tidak masuk islam sampai ia wafat.

Setelah berlalu beberapa lama dari wafatnya suaminya yang bernama Malik bin Nudhar datanglah Abu Thalhah untuk maju melamarnya. Beliau merasa cocok dengan Abu Thalhah, namun sayangnya ia bukan seorang muslim, sehingga bagi beliau ini adalah kesempatan emas untuk mengajaknya masuk islam.

Abu Thalhah datang untuk melamar Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, Ummu Sulaim berkata kepadanya, “Wahai Abu Thalhah, tahukah Anda bahwa Tuhan yang kamu sembah itu hanyalah seonggok pohon yang tumbuh dari tanah, hanya saja ia dipahat oleh seorang habasyi dari Bani fulan?”

“Ia saya tahu”

“Tidakkah engkau malu bersujud kepada kayu yang tumbuh dari tanah dan kemudian dipahat oleh orang habasyi? Maukah engkau bersaksi bahwasanya tiada Tuhan yang behak disembah dengan benar selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah dan kemudian aku menikah denganmu dan aku tidak akan minta mahar selain itu?”

“Biarkan aku sejenak untuk berpikir!”

Kemudian Abu Thalhah pergi beberapa saat dan kembali lagi lalu ia bersaksi bahwa tiada Tuhan yang behak disembah dengan benar selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah. (Ath-Thabaqatul Kubra, 8/427)

Dalam riwayat Imam Nasai Ummu Sulaim berkata, “Sebenarnya sosok lelaki sepertimu tidak pantas untuk ditolak, tapi engkau adalah orang kafir, sedang aku adalah seorang muslimah, dan tidak halal bagiku menikah denganmu, jika engkau masuk Islam maka itu akan aku jadikan sebagai maskawinku, dan aku tidak akan meminta kepadamu selain itu.”

Tsabit (murid Anas radhiyallahu ‘anhu) berkata, “Saya belum pernah mendengar perempuan yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu ‘Islam’”. (An-Nasai 6/114)

Diantara beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari Ummu Sulaim diatas adalah:

Pertama, beliau merasa mulia dengan agama Islam yang beliau anut. Dan ini tampak ketika beliau dengan tegas berkata kepada suaminya yang pertama Malik bin Nudhar ketika menuduhnya telah murtad, beliau menjawab, “Saya tidak murtad, saya cuma beriman kepada orang ini (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam)” dan jawaban beliau tegas kepada Abu Thalhah, “Engkau adalah orang kafir, sedang aku adalah seorang muslimah, dan tidak halal bagiku menikah denganmu.”

Kedua, beliau bersikeras mengajari dua kalimat syahadat kepada anaknya walaupun suaminya sendiri sangat menentangnya (baca: Kisah Ummu Sulaim dalam Beramar Ma’ruf Nahi Munkar). Ini adalah sebuah pelajaran bagi ibu-ibu yang merasa sungkan mendidik anak-anaknya dengan tarbiyah Islamiyah dengan alasan suami mereka tidak menyetujuinya.

Ketiga, kesegeraan beliau mengajak suami pertama beliau untuk masuk Islam walaupun ia tidak senang dengan Islam. Demikianlah seharusnya seseorang yang ingin selalu berjalan di jalan yang hak, segera mendatangi orang yang meninggalkan yang ma’ruf dan pelaku kemunkaran dengan mengajak mereka kepada yang ma’ruf dan meninggalkan yang munkar.

Keempat, secara ridak langsung beliau menjelaskan Akidah wala’ dan bara’, dimana beliau menjelaskan bahwasanya tiada penyambung antara seorang muslim dan musyrik setinggi apapun kedudukan orang musyrik tersebut.

Kelima, beliau sangat antusias agar Abu Thalhah masuk Islam, dan beliau sangat menghargai masuk islamnya Abu Thalhah dimana beliau menjelaskan akan kesiapannya untuk tidak menerima maskawin apapun darinya jika Abu Thalhah masuk Islam.

Mas’uliyyatun Nisaa’ fil Amri Bil Ma’ruf Wan Nahyi ‘Aanil Munkar, karya Dr. Fadhl Ilahi Zhahir, Hal: 29-31.

Penerjemah : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: