Mati Syahid Dambaan Ummu Waraqah

rose-144122__340.jpg

       Ummu Waraqah al-Anshariyah –semoga Allah meridhainya- di sini memberikan kepada kita sebuah gambaran yang nyata tentang orang yang membenarkan Allah hingga Allah pun membenarkannya. Suatu hari pada perang Badar, Ummu Waraqah berkata kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk ikut berperang bersamamu, ikut merasakan sakit yang engkau alami, sehingga Allah mengaruniakanku mati syahid. “Rasululllah –shallallahu ‘alaihi wasallam- menjawab,

قِرِّى فِى بَيْتِكِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَرْزُقُكِ الشَّهَادَةَ

Menetaplah engkau di rumahmu, sesungguhnya Allah ta’ala akan mengaruniakan mati syahid kepadamu (HR. Abu Dawud)

Wanita yang beriman ini menuruti perkataan Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- , dan hari demi hari berlalu hingga datanglah hari pada saat itu mukjizat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- ditampakkan, yakni beliau telah mengabarkan bahwa Allah –subhanahu wata’ala akan mengaruniakannya mati syahid.

Dia memiliki seorang budak laki-laki dan seorang budak perempuan, dia telah menjanjikan kepada mereka berdua untuk memerdekakan mereka setelah kematiannya. Mereka berdua disesatkan oleh setan, setan telah membisiki hati mereka agar membunuhnya. Mereka membuatnya pingsan, lalu membunuhnya, kemudian mereka lari.

Pada pagi harinya Umar –semoga Allah meridhainya- berkata, “Demi Allah, tadi malam aku tidak mendengar bacaan bibiku, Ummu Waraqah.” Lalu dia masuk ke dalam rumahnya, di sana dia tidak melihat siapa-siapa. Kemudian dia masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba dia mendapatkan Ummu Waraqah terbungkus kain beludru di samping rumahnya. Umar berkata, “Maha benar Allah dan RasulNya.”

Selanjutnya Umar –semoga Allah meridhainya- naik mimbar dan memberitahukan kejadian ini. Dia berkata, “Aku harus menangkap mereka.” Kemudian mereka pun dibawa ke hadapannya. Dia menyalib mereka berdua, dan mereka adalah manusia pertama yang disalib di Madinah. (ath-Thabaqaat al-Kubra, 8/457)

Sumber :

Duruusun Min Hayaati ash-Shahabiyaat, Dr. Abdul hamid as-Suhaibani, hal. 107 (Edisi Bahasa Indonesia)

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: