Melakukan Perbaikan adalah Sebab terhindar dari Adzab

Melakukan-Perbaikan-adalah-Sebab-terhindar-dari-Adzab.jpg

Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهلِكَ ٱلقُرَىٰ بِظُلم وَأَهلُهَا مُصلِحُونَ

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat perbaikan.” (QS. Hud: 117).

Marilah kita merenungi kandungan ayat diatas, ayat ini menjelaskan salah satu keutamaan ‘Amar ma’ruf nahi mungkar’ yaitu menghindarkan umat dari adzab Allah SWT dengan syarat yang telah disebutkan dalam ayat ini yaitu وَأَهلُهَا مُصلِحُونَ “sedang penduduknya orang-orang yang berbuat perbaikan.” Maksudnya diri mereka baik dan mereka juga mengajak orang lain untuk berbuat baik dan menjauhi kemungkaran, atau dinamakan juga dengan amar ma’ruf nahi mungkar.

Jika kita perhatikan lebih dalam lagi, ayat ini berpesan secara tersirat bahwa adanya orang-orang shaleh atau baik didalam suatu umat saja belum cukup untuk menghindarkan umat tersebut dari adzab Allah SWT, mereka juga harus melakukan perbaikan terhadap kemungkaran dan kemaksiatan yang ada disekitar mereka. Jika dalam suatu komunitas ada maksiat yang merajalela dan dilakukan secara terang-terangan tanpa ada satu orangpun yang berusaha mencegahnya, maka tidak menutup kemungkinan adzab Allah SWT akan turun walaupun terdapat orang-orang shaleh ditengah-tengah mereka.

Nabi ﷺ pernah ditanya:

أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.

Apakah kami akan binasa sementara ditengah-tengah kami ada orang-orang shaleh? Beliau menjawab, Iya, jika kemaksiatan merajalela.” [HR, Al-Bukhari]

Merajalelanya suatu maksiat dalam suatu tempat atau komunitas menunjukkan bahwa komunitas tersebut kosong dari orang-orang yang mencegah kemungkaran dan kemaksiatan, mereka mendiamkan maksiat yang merajalela ditengah-tengah mereka sehingga adzab Allahpun bisa turun walaupun ditengah-tengah mereka terdapat orang-orang shaleh.

Oleh karena itu Allah SWT dan Rasulnya ﷺ mewanti-wanti kita untuk tidak berdiam diri melihat kemaksiatan, kita diperintahkan untuk mencegahnya semampu kita, baik dengan tindakan jika kita memiliki wewenang, atau dengan lisan (nasehat) jika memungkinkan, atau membenci perbuatan maksiat tersebut dengan hati jika semua cara tidak bisa dilakukan.

Allah SWT berfirman:

وَٱتَّقُواْ فِتنَة لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُم خَاصَّة وَٱعلَمُواْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

Beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari ayat diatas:

1. Allah SWT menafikan kedzaliman atas dirinya, dalam artian jika mereka menaati apa yang Allah perintahkan, yaitu memperbaiki diri sendiri dan orang lain, maka Allah SWT tidak akan mengadzab mereka secara dzalim. Dalam ayat ini Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهلِكَ ٱلقُرَىٰ بِظُلم

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim.

2. Ayat ini mengandung perintah secara tersirat untuk berdakwah dijalan Allah SWT agar umat ini senantiasa selamat dari berbagai mara musibah dan bencana. Dan dakwah sebaiknya dimulai dari memperbaiki diri sendiri kemudian orang-orang terdekat seperti keluarga, terutama yang berada di bawah tanggung jawab kita.

Allah SWT berfirman:

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُواْ أَنفُسَكُم وَأَهلِيكُم نَارا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

3. Orang shaleh adalah orang yang baik dirinya, sedangkan orang mushlih sebagaimana yang disebutkan dalam ayat diatas adalah orang yang dirinya baik dan ia juga memperbaiki orang lain.

Kesimpulannya, selama dalam suatu masyarakat masih ada yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka Allah SWT tidak akan menurunkan adzab kepada mereka karena masih ada orang-orang yang cemburu terhadap aturanNya. Dan adzab Allah SWT bisa turun kepada masyarakat yang kosong dari orang-orang yang menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran tatkala maksiat merajalela walaupun ditengah-tengah mereka ada orang-orang shaleh

Wallahu a’lam bisshoowab

Disusun oleh Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: