Memahami Hadits Mengubah Kemungkaran

perahu-kuning.jpg

:عن أبي سعيد الخدري قال: سمعت رسول الله صل الله عليه وسلم يقول
من رأى منكم منكرا، فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu : saya mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya, dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).
     Hadits diatas secara gamblang memberitahukan batasan-batasan dan tahapan-tahapan dalam penegakan amanat Nahi Munkar, dan menerangkannya dengan amat jelas, 3 tahapan dimulai dari yang terberat untuk status keadaan yang memungkinkan, dan dimulai dari yang lebih ringan jika situasi menunjukkan ketidaksanggupan dan tidak memungkinkan untuk dimulai dari yang terberat tersebut.Urutan tahapan-tahapan dalam situasi memungkinkan sebagai berikut:
1. Tangan
2. Lisan
3. Hati
     Jadi pada dasarnya mengubah kemungkaran haruslah dimulai langsung dengan tahapan tangan, dan tidak berpindah kepada tahapan lisan, atau ke tahapan hati kecuali dalam keadaan ketidaksanggupan. Karena urutan tersebut telah tersurat di dalam haditsnya.
       Didalam Kitab ‘Aunul Ma’bud 330/11 diterangkan juga bagian-bagian dari teks haditsnya:
(Jika ia tidak mampu) yaitu tidak mampu mengubah dengan tangan dikarenakan posisi pelaku kemungkaran lebih kuat darinya, maka ia mengambil tindakan dengan lisan, yaitu dengan menegur, menasehati dsbg, kemudian jika tahapan ini pun ia tak dapat menyanggupinya, maka adalah dengan tahapan terakhir yaitu ia harus mengingkari kemungkaran tersebut didalam hatinya, ia tak ridho dengannya, batinnya mengingkari sang pelaku. dan kondisi ini juga disebut sebagai mengubah keadaan namun hanya secara makna, karena tidak ada yang mampu diperbuat lagi selainnya).
       Inilah salah satu ketentuannya, yaitu apabila situasi tidak memungkinkan untuk memulai dengan tangan, maka mulailah dari tahapan setelahnya dan selanjutnya. Yang kedua juga apabila usaha mengubah kemungkaran tersebut dengan suatu cara malah akan menyebabkan kemungkaran yang lebih besar, maka hendaklah dimulai dengan yang lebih ringan terdahulu, seperti bilamana pencegahan dilakukan dengan tangan malah akan menyebabkan perkelahian dan semisalnya maka bijaknya yang ditempuh adalah cara lisan, yaitu dengan menegur baik-baik.
      Sebagian orang ada yang memulai dari tahapan lisan kemudian baru ke tahapan tangan, padahal mereka memiliki kemampuan untuk langsung mengubah dengan tangan tanpa dikhawatirkan lagi jatuh pada kemudharatan dan kemungkaran yang lebih besar, padahal al hadits sendiri menuntun ke yang sebaliknya, dan itulah jalan yang dipilih oleh penegak kebenaran, bahwasanya mengubah kemungkaran dimulai terlebih dahulu dengan tangan selama hal itu tidak berpotensi menimbulkan efek mafsadat yang lebih buruk dari keadaan yang ada.
         Perlu difahami, bahwa mengubah dengan tangan bukan artinya menggunakan pedang atau senjata, malahan maksudnya adalah memberantas kemungkaran tanpa ada pertumpahan darah, dan tanpa adanya potensi timbulnya kemungkaran yang lebih besar daripada kemungkaran yang hendak ditumpas tersebut. maka daripada itu seyogyanya bagi penegak amanat Nahi Munkar hendaklah tidak berpindah dari metode tangan ke metode lisan jika metode tangan memungkinkan, dan apabila hal ini dilanggar maka pelakunya adalah seorang yang lalai dan tak memenuhi amanat, dan begitu juga dari tahapan lisan ke tahapan hati. seperti para bapak dalam rumah tangganya, seorang kepala sekolah, seorang Ulil Amri pada wilayahnya, karena hal itu jika tidak dilaksanakan dengan baik, maka kemungkaran akan terus merajalela dan tak tampak pula efek dari penanggulangannya.
    Urutan ini yang dimulai dari tahapan tangan dengan kedua syaratnya yaitu kesanggupan dan tidak menimbulkan kemudharatan yang lebih besar, kemudian lisan, kemudian hati adalah urutan yang difahami oleh salaf rahimahumullah, sungguh telah banyak contohnya dari kisah-kisah salaf terdahulu dalam bab ini. Maka adalah sebuah kesalahan bagi barangsiapa yang beranggapan jika mutlak adanya perlawanan ketika pemberantas kemungkaran dilakukan dengan tangan serta merta ditinggalkan dan kemudian langsung berpindah ke metode lisan. karena yang menjadi benang merah bolehnya berpindah ke metode lisan dari metode tangan adalah jika metode tangan menimbulkan mudharat yang lebih besar dari kemaslahatan yang diidamkan dari tindak pemberantasan tindakan munkar tersebut, jadi bukan yang menjadi tolak ukur adalah dengan sekedar adanya perlawanan atau perlakuan yang tidak baik dari pihak pelaku itu, karena para Nabi sendiri sangatlah banyak menerima cobaan dan perlawanan dalam menegakkan agama ini diantara kaum-kaumnya, namun hal itu tidak menyurutkan tekad mereka ‘Alaihimussalaam…
     Semoga hal ini dapat kita fahami bersama, bahwa di zaman sekarang ini yang mana memang apatisme tersebar hingga antar individu dengan yang lain saling acuh tak acuh, maka dengan semangat hisbah ini kita kembali berusaha untuk menciptakan tatanan sosial yang ideal menurut syariat, yaitu masyarakat yang saling menyeru kepada kebaikan dan saling mencegah dari kemungkaran.

Penulis: Muhammad Hadhrami Bin Ibrahim

Rujukan:

كتاب حديث (من رأى منكم منكراً فليغيره بيده) دراسة تأصيلية لملامح التغيير وضوابطه في الإسلام ص ١٢٧-١٢٨.
تأليف: أبي عبد الرحمن صادق بن محمد الهادي

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: