Membaca Ta’awudz Ketika Konsentrasi Shalat Terganggu

download.jpg

Pertanyaan :
Jika saat shalat kita merasakan adanya gangguan setan yang mengakibatkan kekacauan pikiran dan hilang kekhusyu’an, konsentrasi kita ketika itu terganggu, apa yang hendaknya kita lakukan?

Jawab :
Yang hendaknya yang kita lakukan adalah membaca ta’awudz (memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Hal ini berdasarkan hadis Utsman bin Abil ‘Ash ketika datang kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-,ia berkata, ”Wahai Rasulullah !, Sungguh, setan telah menghalangi antara aku dengan shalatku dan bacaanku. Ia membuatku rancu bagiku?

maka Rasulullah bersabda, ‘ itu adalah setan, yang disebut dengan Khinzab. Bila engkau merasakannya, maka mohonlah perlindungan kepada Allah darinya. Dan tiupkanlah dengan sedikit hembusan ludah ke arah kirimu tiga kali “. Lalu aku (Utsman bin Abil Ash) pun melakukannya, dan Allah menghilangkan gangguan setan itu dariku (HR. Muslim)Utsman bin Abil ‘Ash dalam hadis di atas mendapati ada rasa was-was dan gangguan kala ia shalat.

Setan telah menghalangi kekhusyu’annya. Setan telah mengganggunya, sehingga ia tidak bisa merasakan kelezatan shalat dan konsentrasi untuk menghadirkan khusyu’. Karena setan telah mengacaukan shalatnya dan membuatnya dihinggapi ragu-ragu dalam shalatnya.

Hadis di atas menunjukkan disunnahkannya meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan setan ketika seseorang mendapat gangguan dan bisikannya. Ditambah dengan meniupkan mulut dengan sedikit hembusan ludah ke arah kiri sebanyak tiga kali (tafl) (Syarah Imam an-Nawawi atas shahih Muslim, 14/190).
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin berkata, “Bila seorang shalat (berjama’ah) di posisi paling kiri dari shaff, ia bisa melakukan tafl ke arah kirinya di area yang bukan area masjid. Kalau tidak begitu, ia bisa melakukannya ke arah kirinya di baju, ghuthrah (kain diletakkan di atas kepala seorang lelaki yang menjuntai sampai pundak) atau tisu. Kalau susah, cukup ia menoleh (kepalanya saja) ke arah kiri dan berta’awudz. (audio Fatwa Nur ‘ala ad-Darb, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, no 694 menit ke-23).

Beliau juga berkata, meniupkan mulut dengan sedikit hembusan ludah ke arah kiri bisa dimungkinkan bila ia seorang imam, atau tengah shalat sendiri. Akan tetapi bila ia seorang makmum, di mana ada orang di sebelah kirinya, maka hal ini bisa saja tidak bisa dilakukan. Dan ketika itu cukup dengan menolehkan kepala saja (untuk berta’awudz).

Bisa pula kita katakan bahwa tidak perlu ketika itu untuk menoleh, akan tetapi cukup meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Karena zhahirnya adalah bahwa menoleh tersebut dilakukan untuk meniupkan mulut dengan sedikit hembusan ludah yang dilakukan saat berlindung kepada Allah dari setan. Karena tidak mungkin untuk melakukan tafl ke arah depannya, sedang dia tengah shalat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hal tersebut. (Fatwa Nuur ‘ala ad-Darb Syaikh Muhammad bin Shalih al-Autsaimin 4/332)
Wallahu a’lam


Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: