Mendulang Hikmah dari Kisah Masyithah

sisir.jpg

Beliau adalah sosok perempuan yang menjadi teladan bagi kita semua dalam bersabar, berpegang teguh kepada kebenaran, dan berkorban demi agama. Beliau adalah orang yang wangi kuburannya tercium oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dari Ubay bin Ka’ab dari Rusulullah shallallahu alaihi wasallam bahwasanya dimalam isra’ mi’raj beliau mencium aroma wangi, maka beliau bertanya, “Wahai jibril aroma apa yang harum ini?” Jibril menjawab, “Ini adalah aroma wangi (yang berasal) dari kuburan Masyithah[1], kedua anaknya dan suaminya.” (Sunan Ibnu Majah, Kitab Al-Fitan, Bab: Ash-Shabru ‘Ala Al-Bala. Hadits no. 4028, Syaikh Al-Albani berkata: “Dia mempunyai penguat dari hadits Ibnu Abbas).

Ketika dakwah Nabi Musa alaihissalam semakin menyebar dan pengikutnya semakin banyak, orang-orang beriman menjadi bahaya yang mengancam Fir’aun dan kerajaannya. Fir’aun mondar-mandir di dalam istananya dilanda rasa marah yang berkesinambungan karena memikirkan masalah Nabi Musa dan apa yang harus ia lakukan untuk menghadapinya dan menghadapi pengikutnya. Iapun mengirim seseorang untuk memanggil Haman perdana menterinya untuk membahas masalah ini. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk menangkap seluruh orang yang beriman kepada Nabi Musa alaihis salam, dan menyiksa mereka sampai mereka meninggalkan agama yang dibawa oleh Nabi Musa.

Fir’aun mengeluarkan perintah kepada para prajuritnya untuk mencari orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa. Istana Fir’aunpun seakan-akan menjadi kuburan bagi mayat-mayat orang beriman. Istanannya dipenuhi oleh jeritan orang-orang beriman yang tengah disiksa.

Penyiksaan tersebut dijatuhkan kepada seluruh orang-orang yang beriman tanpa terkecuali, bahkan kepada kepada bayi-bayi mereka. Ujian dan cobaan semakin berat menimpa kaum mukminin, sehingga banyak dari mereka yang terpaksa menyembunyikan keimanannya karena takut kepada keangkuhan dan kesombongan Fir’aun. Sebagian yang lain melarikan diri dan menjauh dari intaian Fir’aun.

Saat itu di istana Fir’aun terdapat seorang pekerja perempuan yang bekerja sebagai tukang sisir putrinya (masyithah). Ia termasuk salah seorang yang beriman kepada Nabi Musa namun ia menyembunyikan keimanannya.

Suatu hari ketika ia menyisir rambut putri Fir’aun seperti biasa, tanpa sengaja sisir yang ia pegang jatuh, ketika ia ingin mengambilnya ia mengucapkan ‘Bismillah’. Putri Fir’aun yang mendengar perkataan tersebut bertanya, “Apakah yang kau maksud dengan Allah itu adalah bapakku?” Ia menjawab, “Tidak, tetapi tuhanku dan tuhan bapakmu.” Ketika mendengarnya putri Fir’aun marah dan mengancam akan memberitahu ayahnya. Namun hal tersebut tidak membuat Masyithah takut. Putri Fir’aun segera memberitahu ayahnya bahwasanya di istananya sendiri ada orang yang tidak menganggapnya sebagai tuhan. Setelah Fir’aun tahu, marahnyapun semakin menjadi-jadi, ia mengumumkan bahwa ia akan menghukum perempuan tersebut beserta anak-anaknya. Fir’aun memanggil Masyithah dan berkata, “Apakah engkau memiliki tuhan selain aku?” Masyithah menjawab, “Iya, tuhanku dan tuhanmu adalah Allah.” Ketika itu meledaklah amarah Fir’aun. Ia memerintahkan prajuritnya untuk menyiapkan panci besar yang terbuat dari tembaga, kemudian mengisinya dengan air dan mendidihkannya dengan api, lalu melemparkan Masyithah dan anak-anaknya kedalam panci tersebut.

Ketika Masyithah tahu, ia berkata kepada Fir’aun, “Saya memiliki satu permintaan kepadamu” Fir’aun menjawab, “Apa permintaanmu?” Masyithah berkata, “Saya ingin agar tulang-belulangku dan anak-anakku nanti dikumpulkan didalam satu kain dan di kubur di satu tempat.” Fir’aun menjawab, “Kami akan melaksanakannya.”

Kemudian Fir’aun memerintahkan agar satu-persatu dari anak Masyithah dilemparkan kedalam panci mendidih dan Masyithah melihat dengan mata kepalanya nasib buah hatinya sedang mereka menjerit kepanasan dihadapannya, sampai kemudian mereka meninggal kepanasan, namun Masyithah tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong mereka. Hatinya terasa sangat berat melihat cobaan tidak mudah, hampir saja pindiriannya melemah, tetapi Allah dengan kuasanya menjadikan anak terakhirnya yang masih bayi berbicara dan berkata, “Sabarlah ibu, sebenarnya ibu berada di jalan yang hak.” (Shahih Ibnu Hibban, Kitab Al-Janaiz, Bab Maa Jaa-a Fii Ash-Shobri wa Tsawaab Al-Amraadh wa Al-A’raadh, no. 2955. Musnad Abu Ya’la, no 2461)

Akhirnya Masyithah dan anak-anaknya menembus kobaran api milik Fir’aun seraya ia berdoa agar Allah menerima keislamannnya. Dari situlah ia menjadi teladan dan perumpamaan bagi setiap muslimah muhtasibah (penegak amar ma’ruf nahi munkar) yang mengenal Allah dengan benar, berpegang teguh kepada agamanya, dan sabar dalam menjalani agama. Sehingga ia tidak takut walau diancam, tegar walau dihadapkan dengan berbagai dan ia tidak gampang lemah ataupun menyerah. Masyithah dan anak-anaknya meninggal dalam keadaan mati syahid di jalan Allah setelah memberi teladan yang sangat berharga dalam berkorban demi membela agama Allah.

Beberapa faedah dari kisah ini:

  1. Berpendirian kokoh dalam jalan yang haq, dimana tegar dalam jalan kebenaran dan berpegang teguh kepadanya adalah salah satu sifat orang-orang mukmin yang tulus.

Allah ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrohim: 27)

Teladan utama dalam hal ini adalah baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dimana beliau merasakan pahitnya jalan dakwah, namun begitu beliau tetap tegar sehingga beliau menyampaikan risalahnya dengan sempurna.

  1. Mengorbankan diri dan sabar dalam menghadapi cobaan demi membela agama. Sabar bagi keimanan seseorang, bagaikan kepala bagi tubuh. Maka hendaknya seorang muslimah muhtasibah untuk selalu bersabar.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 200)

Allah ta’ala juga berfirman:

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersabarlah, karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Huud: 115)

Footnote :

[1] Masyithah bukanlah sebuah nama seseorang, karena dalam bahasa arab masyithah berarti tukang sisir, namun karena yang masyhur di Indonesia, bahwa masyithah adalah nama tukang sisir putri Firaun.

Rujukan :

http://www.almohtasb.com/main/5129-1.html

Penyusun : Arinal Haq

Muroja’ah : Imam Jamal Sodik, S.Pd.I

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: