Mendulang Kemaslahatan dengan Beramar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

Mendulang-Kemaslahatan-dengan-Beramar-Ma’ruf-dan-Nahi-Mungkar.jpg

Ikhwatal Islam, bertakwalah kepada Allah, dengan sebenar-benar takwa kepadaNya. Inilah sebaik-baik bekal bagi kita dalam mengarungi kehidupan kita di dunia ini dan sekembali kita kehadirat ilahi, pada saatnya nanti.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

Demikianlah firman Robb semesta alam di dalam kitabNya, al-Qur’an, surat al-Baqarah ayat 197.

Ikhwatal Islam, ketahuilah -semoga Allah merahmati saya dan Anda sekalian-, termasuk bentuk ketakwaan seorang hamba kepada Allah ta’ala adalah melaksanakan apa yang diperintahkanNya, dan salah satu perintahNya adalah hendaklah kita “beramar ma’ruf dan Nahi Mungkar”, kita memerintakan dan menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munggkar. Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَر

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali ‘Imran : 104)

Ath-Thabari –rahimahullahu ta’ala– berkata, di dalam tafsirnya, “Hendaknya ada di antara kalian -wahai orang-orang yang beriman- ada segolongan yang menyeru manusia kepada kebaikan, yakni : (menyeru kepada ) Islam dan syariatnya yang Allah syariatkan kepada hamba-hambaNya.  Memerintahkan manusia agar mengikuti (petunjuk) Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan agamanya yang datang dari sisi Allah ‘azza wajalla, mencegah mereka dari terjerumus ke dalam kekafiran kepada Allah ta’ala dan mendustakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang dibawa olehnya dari sisi Allah ta’ala. Dengan menggunakan tangan dan anggota badan lainnya.

Maksud dari ayat ini-seperti dikatakan al-Hafizh Ibnu katsir –rahimahullah– dalam kitab tafsirnya, “Tafsir al-Qur’an al-Azhim” adalah bahwa hendaklah ada sekelompk dari ummat ini yang melakukan perkara ini, meskipun hal itu wajib dilakukan oleh setiap individu sesuai dengan kondisi dan kesanggupannya masing-masing. Sebagaimana telah valid di dalam shahih Muslim, bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَده، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ.

“Siapa saja di antara kalian yang melihat sebuah kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. jika tidak mampu (mengubahnya dengan tangan) maka hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya. Jika tidak mampu (mengubahnya dengan lisannya) maka hendaklah ia mengubahnya dengan hatinya. Dan, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)

Ikhwatal Islam,

Oleh kareka itu- ikhwatal Islam-hendaklah kita beramar ma’ruf dan nahi mungkar karena hal ini wajib untuk kita lakukan, hal ini diperintahkan oleh Rabb kita Tuhan semesta Alam.

Ketahuilah, bahwa tak ada satu pun perintah yang diperintahkan oleh Allah rabb semesta alam, tidak pula oleh RasulNya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, melainkan ada kemaslahatan bagi kita hamba-hamba Allah Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Terdakang kemaslahatan yang akan didapatkan seseorang disebabkan karena ia melakukan suatu perintah yang diperintahkan disebutkan secara gamblang baik secara global maupun terperinci di dalam al-Qur’an maupun di dalam sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Terkadang, disebutkan sebagian sebagai contoh saja agar seseorang mempunyai gambaran kemaslahatan yang akan didulang. Terkadang, tidak disebutkan secara jelas, namun ada isyarat yang menunjukkan adanya kemaslahatan. Terkadang tidak disebutkan, namun kemaslahatan yang didulang dapat dirasakan. Maka, apapun itu yang jelas itu adalah kemaslahatan, yang pasti akan didulang dengan seseorang menunaikan perintah yang diperintahkan oleh rabb semesta alam dan RasulNya, shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang hamba yang diutus sebagai rahmat bagi seru sekalian alam.

Maka, seorang muslim yang baik, ia mendengar dan taat baik ia tahu ataupun tidak tahu mengenai kemaslahan yang bakal didulang dengan ia melakukan ketaatan yang diperintahkan.

Ikhawatal Islam,

Adapun kemaslahatan yang bakal didulang oleh seorang hamba mana kala ia mentaati Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah ini, maka al-qur’an menginformasikan, setelah Allah memerintahkan kita agar menyeru kepada kebikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran, Allah berfirman,

وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 104).

Beruntung, bukankah ini merupakan kemaslahatan?! Ya, tentu saja. Bagaimana tidak, sementara kemaslahatan yang didulang akan memberikan kemaslahatan pelakunya maupun orang lain, baik bersifat duniawi maupun ukhrawi.

Ikhwatal Islam,

Di antara gambaran keuntungan yang akan didulang oleh pelaku amar ma’ruf nahi mungkar, adalah

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat : 33) , yakni : tak seorang pun yang lebih baik daripada orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya dan ia pun mengajak orang lain untuk melakukannya.

Perkataan pelaku kewajiban ini, ia mengajak orang lain kepada kebenaran yang telah diketahuinya dan telah pula ia amalkan dikatagorikan sebagai sebaik-baik perkataan. Maka, penyematan status “sebaik-baik perkataan” kepada perkataan orang yang melakukan kewajiban ini menunjukkan keuntungan bagi pelakunya.

Termasuk contoh gambaran yang menunjukkan keuntungan yang akan didulang oleh pelaku amar ma’ruf nahi mungkar, adalah Allah ‘azza wajalla berfirman,

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79)

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. al-Maidah : 78 – 79)

Allah menghabarkan, dalam ayat ini, di antara sebab, mereka –orang-orang kafir dari kalangan bani Israil-, dilaknati –dijauhkan dari rahmat Allah- adalah karena tidak melakukan pencegahan kemungkaran yang terjadi di antara mereka. Maka, dapat kita fahami sebaliknya, bahwa di antara sebab dijauhkannya ummat ini dari laknat Allah subhanahu wata’ala, adalah “beramar ma’ruf dan nahi mungkar”.  Maka, pelaku amar ma’ruf nahi mungkar ia berpeluang besar akan dijauhkan dari laknat Allah ‘azza wajalla, bukankah ini keuntungan?!

Ikhwatal islam,

Termasuk contoh gambaran yang menunjukkan keuntungan yang akan didulang oleh palaku amar ma’ruf nahi mungkar, adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang menyeru kepada petunjuk, niscaya ia mendapatkan pahala seperti pahala orang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menginformasikan bahwa pahala akan didulang oleh mereka yang melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, yang mengajak manusia kepada petunjuk Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mengajak manusia kepada kebenaran. Maka sungguh, hal ini merupakan contoh gambaran yang jelas bahwa pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar ia menjadi orang yang beruntung. Seorang mendapatkan pahala, bukankah ini keberuntungan, bukankah ini kemaslahatan baginya ?!, Maka –ikhwatal Islam– khotib mengajak diri khotib pribadi dan jama’ah sekalian, marilah kita dulang kemaslahatan dengan beramar ma’ruf dan nahi mungkar. 


Artikel : www.hisbah.net

Gabung juga di Fans Page kami hisbah.net dan Hisbah TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: