Meneropong Dosa-dosa Suami (bagian 11)

Meneropong-Dosa-dosa-Suami-bagian-11.jpg

Kurang Memperhatikan Etika, Hikmah dan Hukum Hubungan Badan

Betapapun agung posisi hubungan badan dan statusnya sebagai salah satu tujuan besar pernikahan, hanya saja sebagian suami kurang memperhatikan etika, hikmah dan hukum hubungan badan ini, meski dalam tataran global. Yang demikian itu akibat kebodohan dan kurangnya kepedulian. Dampaknya adalah pasangan suami-istri tidak mendapatkan kesempurnaan rasa nyaman dan tentram.

Ada tipe suami yang tidak memperhatikan etika hubungan badan. Barangkali ada yang kebiasaannya langsung “menyerang’ istrinya, tanpa bersikap lembut atau berangsur-angsur terlebih dahulu. Ada juga yang tidak mengetahui waktu-waktu hubungan badan yang tepat. Yang lain berlebihan melakukannya, sehingga keluar dari fase yang dianjurkan. Ada juga yang meninggalkannya untuk waktu yang lama. Ada yang memahami hubungan badan hanya sebagai media memuaskan syahwat semata. Dan, ada yang tidak mengetahui hukum-hukum hubungan badan, berupa mandi, wudhu dan lain sebagainya.

Sudah barang tentu kondisi-kondisi seperti itu dan yang semisalnya merupakan kelalaian, yang kerenanya suami patut dicela. Dengan demikian, seyogyanya suami memperhatikan etika hubungan badan dan memahami beberapa hikmah, rahasia dan hukum-hukumnya, meski dalam tatatan global, sehingga kenikmatan dan kepuasannya menjadi sempurna. Alangkah baiknya bila suami memperhatikan hal-hal berikut :

1.  Mengetahui hikmah dan manfaat hubungan badan.

Ibnul Qayyim –semoga Allah merahmatinhya- menjelaskan petunjuk Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang hubungan badan, “Adapun hubungan badan, maka petunjuk Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- mengenainya merupakan petunjuk paling sempurna. Ia bisa menjaga kesehatan dan menyempurnakan kepuasan serta kesenangan jiwa. Ia juga bisa mewujudkan tujuan-tujuan yang karenanya dianjurkan.

Pada dasarnya, hubungan badan dianjurkan karena tiga hal yang sekaligus menjadi tujuan pokoknya. Pertama, menjaga keturunan dan eksistensi manusia sampai masa yang telah ditentukan Allah untuk alam semesta ini. Kedua, mengeluarkan air (sperma) di mana penyimpanan dan penahanan air tersebut dapat membahayakan tubuh secara umum. Dan ketiga, memenuhi syahwat, mendapatkan kepuasan dan bersenang-senang dengan nikmat. Poin ketiga ini menjadi satu-satunya faedah dari hubungan badan di surga. Sebab, di surga tidak ada perkembangbiakkan keturunan dan penimbunan air mani yang mesti dikeluarkan melalui penetrasi (Zaadul Ma’ad, IV : 228)

Ibnul Qayyim juga  menyatakan, “Para dokter terkemuka berpendapat bahwa hubungan badan menjadi salah satu sebab penjaga kesehatan (Zaadul Ma’ad, IV : 228). Pada bagian lain, Ibnul Qayyim berkata, “Di antara manfaat hubungan badan adalah menundukkan pandangan, menahan nafsu dan mampu menjaga kesucian diri dari yang haram. Semua manfaat tersebut juga terwujud untuk istri. Hubungan badan bermanfaat baginya (suami) di dunia dan akhirat; juga bermanfaat bagi istri (Zaadul Ma’ad, IV : 29)

2.  Seimbang dalam melakukan hubungan badan.

Tidak berarti karena hubungan badan mempunyai banyak manfaat dan faedah seseorang berlebihan, atau sering melakukannya. Sebab, berlebihan dan sering melakukan hubungan badan berbahaya bagi manusia. “Ia bisa menurunkan kekuatan, membahayakan syaraf, menyebabkan kejang, lumpuh dan kram, melemahkan penglihatan maupun keseluruh sumber kekuatan, dan memadamkan gairah (Zaadul Ma’ad, IV : 244-244)

3.  Mengetahui etika hubungan badan.

Misalnya melakukam cumbuan sebelum penetrasi, mengetahui cumbuan yang paling tepat, mengetahui posisi dan waktu hubungan badan yang paling baik dan lain sebagainya.

4.  Mengetahui tata cara mandi junub .

Bila seseorang junub, ia wajib mandi dari junub. Makruh baginya tidur kecuali setelah mandi, atau berwudhu (Lihat, Majmu’ul Fatawa Ibnu Taimiyyah, XXI : 343). Ibnul Qayyim –semoga Allah merahmatinya- mengatakan, “Mandi dan wudhu setelah berhubungan badan bermanfaat dalam menjaga vitalitas dan kenyamanan jiwa, mengganti apa yang hilang karena hubungan badan, mewujudkan kesucian dan kebersihan yang sempurna, menghimpun kembali gairah seksual di dalam tubuh setelah terkuras oleh hubungan badan, dan terwujudnya kebersihan yang dicintai oleh Allah, sementara Dia benci kebalikannya. Semua itu mengindikasikan pengaturan yang baik untuk hubungan badan dan fungsinya dalam menjaga kesehatan dan kekuatan.

Karenanya, bagi seorang yang hendak mengulang hubungan badan sebelum mandi disyariatkan untuk berwudhu di antara dua hubungan badan. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya, dari Abu Sa’id al-Khudriy, ia berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya, kemudian ia ingin mengulangi lagi,maka hendaknya ia berwudhu”

Adapun tentang mandi junub, yaitu meniatkan mandi sebelum memulai. Membersihkan kemaluan dan seluruh tubuh dari kotoran. Kemudian berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Lalu meratakan air ke rambut dan seluruh tubuh.

Seandainya sekedar mandi tanpa didahului dengan wudhu, mandi tersebut sah menurut pendapat yang masyhur di kalangan imam empat madzhab. Bila mandi dilakukan di sungai, atau kolam, maka cukup menceburkan diri ke dalam air dan meratakan air ke seluruh tubuh. Disunnahkan bagi orang yang mandi untuk memulai dengan anggota badan sebelah kanan dan bagian tubuh yang lebih atas. Demikianlah sifat mandi secara global.

Wallahu a’lam  

Sumber :

Dinukil dari “Min Akhthaa-il Az-Waaj“, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, (Edisi Bahasa Indonesia), hal. 95-99.

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: