Meneropong Dosa-dosa Suami (bagian 8)

teropong-dosanews.liputan6.com_-1.jpg

Banyak Bersengketa dengan Istri

Ada tipe suami yang sering membuat sengketa dengan istri. Ia suka sekali bertengkar. Anda melihatnya selalu siap untuk berdebat dengan istri untuk perselisihan sederhana sekalipun.

Seringkali pertengkaran itu disebabkan permasalahan sepele, yang mana bisa selesai dengan sedikit kelapangan akal dan kebesaran jiwa seseorang untuk mengoreksi kembali permasalahan tersebut dan mentolelir keberadaannya. Kehidupan-secara umum- dan kehidupan pernikahan –secara khusus- tidak pernah sepi dari tindakan yang terkadang memicu emosi dan mengeruhkan pikiran. Jika seseorang berlarut-larut dalam rasa sakit akibat tindakan kecil tersebut, maka kondisi ini adalah produk dari sempitnya jiwa dan dangkalnya pemikiran, lalu kehadiarannya dipercepat oleh perasaan resah dan gelisah.

Bila anda berangan-angan seandainya semua orang berjalan sesuai kehendak Anda, dan segala sesuatu terjadi sesuai keinginan Anda, maka sebaiknya Anda tidak menunggu lama-lama, sebab Anda menginginkan sesuatu yang mustahil. Lebih baik Anda memposisikan orang-orang –terlebih mereka yang harus Anda pergauli- sebagaimana adanya- Hendaknya Anda menghindar dari orang-orang yang pandai memutarbalikkan kata-kata dan suka mencela. Anda berjiwa lapang dan berpikiran mendalam. Anda menerima perbuatan-perbuatan ringan dengan hati yang lapang dan jiwa yang tenang. Anda berusaha mencari solusi problematika dengan bijak dan tenang, serta melihat permasalah dengan pandangan jauh ke depan, tanpa meremehkan, atau membesar-besarkan.

Jadi, tidak baik bila suami menjadikan rumahnya sebagai lapangan tempat menumpahkan sumpah-sumpah. Atau berusaha memaksakan setiap pendapatnya kepada istri, baik pendat benar maupun salah. Sebaliknya, suami mesti menghormati pendapat istri, “ Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf “. Hendaknya dialog antara keduanya dibasahi oleh kasih sayang, wewangian cinta dan hasrat untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya jiwa itu bisa menjadi tunduk karena perkataan jujur dan argumen yang kuat.

Ada baiknya bagi pasangan suami istri tidak memperpanjang diskusi antara keduanya, dan hendaknya diskusi tidak mencapai tingkatan debat dan cekcok. Juga ada baiknya masing-masing keduanya membuang pendapatnya bila terlihat pendapat yang lain lebih kuat, selama pendapat-pendapat tersebut bisa diterima dan ditolak. Bila perdebatan mulai tersulut, maka jalan terbaik untuk memadamkannya adalah meninggalkannya, atau mengalihkan pembicaraan kepada masalah lain. Tidak bijak bila menjerumuskan kehidupan pernikahan kepada kehancuran hanya karena berlarut-larut dalam permasalahan yang tidak ada ujung pangkalnya.

Sikap saling menghormati antara pasangan suami istri menjadikan keinginan mengembangkan cinta lebih berharga daripada membela pendapat sederhana dalam masalah apapun. Mengganti perabot rumah, atau memilih warna kasur tidak layak menjadi pemicu perselisihan yang mengancam banngunan rumah tangga (lihat, Ahmad Amin, Faidhul Khathir, V : 187 dan Nazharat Fil Usrah al-Muslimah, hal. 87)

Sumber :

Dinukil dari “Min Akhthaa-il Az-Waaj“, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, (Edisi Bahasa Indonesia), hal. 74-75

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: