Meneropong Dosa-dosa Suami (bagian 9) Interaksi yang Buruk dengan Istri

Meneropong-Dosa-dosa-Suami-bagian-9.jpg

Ada tipe suami yang kurang baik interaksinya dengan istrinya, tidak memperlakukannya seperti yang digariskan norma-norma interaksi dan kepribadian yang mulia. Di antara interkasi buruk adalah:

1.suami yang bersikap manis kepada orang-orang

Ada tipe suami yang apabila bertemu dengan orang lain dia berprilaku sopan, wajah cerah, dan tutur katanya yang lembut namun begitu kembali ke keluarga ia bersikap kasar, keras, bermuka masam dan berperangai ketus.

2. tidak menyukai kata-kata istrinya.

Apabila istri berbicara, segera saja ia memotong pembicaraannya, mengacuhkannya dengan sibuk membaca buku, atau koran, atau memutar-mutar pandangan ke kanan dan ke kiri.

3. menganggap remeh kata-kata istri

ketika istri mulai berbicara segera dia menghentikan pembicaraan, bangkit meninggalkan istri sebelum ia selesai berbicara, atau segera mengingkarinya jika terdengar pembicaraan yang belum familier di telinganya.

Hal itu tentu bertentangan dengan norma-norma Islam dalam pergaulan dan mengindikasikan watak yang kasar, dan hati yang keras. Sikap-sikap tersebut mensuremkan kehidupan istri dan menyesakkan dadanya. Bagaimana tidak, sedangkan ia mengharapkan suami sebagai penghiburnya, temannya menumpahkan keluh-kesah dan mendapatkan solusi-solusi ideal dan hiburan.

Di antara bentuk interaksi yang baik adalah

1.memperhatikan kata-kata istri.

Caranya dengan mendengarkan baik-baik bila istri berbicara, memperlihatkan perhatian terhadap apa yang dikatakannya, tidak pura-pura sibuk dengan urusan selainnya, dan tidak pergi meninggalkannya sebelum ia menyelesaikan pembicaraan kecuali dengan izinnya. Sebab yang demikian itu termasuk kesempurnaan sopan santun kepada setiap orang.

Lantas bagaimana dengan istri sebagai orang yang paling berhak diperlakukan dengan baik?  

Berkata Ibnu Abdil Barr, “Salah satu bentuk kekurang sopanan dalam suatu pertemuan adalah memotong pembicaraan teman dudukmu, atau kamu segera melanjutkan pembicaraan yang ia mulai, baik berupa hadis ataupun syair, di mana kamu lanjutkan bait syair yang ia mulai untuk menunjukkan bahwa kamu lebih hafal darinya. Yang demikian itu adalah seburuk-buruk etika dalam pertemuan. Sebaiknya, hendaknya kamu mendengarkan baik-baik pembicaraannya seakan-akan kamu belum pernah mendengarkan pembicaraan itu sebelumnya kecuali darinya (Bahjatul Majalis,1/46)

2. konsisten dalam menerapkan akhlak yang baik terhadap istri dan mencegah perlakuan buruk kepadanya.

Dengan catatan, tidak mencapai taraf menuruti hawa nafsu istri yang dapat merusak perangainya dan menjatuhkan wibawa suami di hadapannya. Yakni, suami tidak enggan untuk membuat penolakan bila ia melihat kemungkaran, dan tidak membuka pintu pertolongan bila ia melihat sesuatu yang dilarang.

Kemudian, bila suami melihat pada diri istri beberapa sifat yang tidak ia sukai, tapi tidak sampai menodai kemuliaan, kehormatan dan agama, maka hendaknya ia mengingat sifat-sifat istri lainnya yang ia sukai. Hal ini seperti air yang memadamkan api.

Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “ Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu akhlak, tentu ia menyukai akhlak yang lain darinya.” (HR. Muslim, no. 1469)

Ketika mensyarah hadits tersebut, Imam An-Nawawi –semoga Allah merahmatinya- berkata, “seyogyanya suami tidak membenci istrinya sama sekali. Sebab, jika ia menemukan akhlak yang tidak disukainya, tentu ia menemukan akhlak lain yang disukainya. Misalnya istri memiliki perangai buruk, tetapi ia taat beragama, cantik, menjaga kehormatan, atau penuh pengertian terhadapnya dan lain sebagainya (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, X : 47)

Sungguh kehidupan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam rumah tanggga bersama istri-istri beliau menjadi teladan yang baik dalam hal cinta kasih, kelemah-lembutan, tidak membebani, memberi pertolongan, interaksi yang baik, meninggalkan kata-kata kasar dan buruk.

Beliau sendiri mengatakan, “ Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan, sebaik-baik orang di antara mereka adalah yang paling baik kepada istrinya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk meneladani beliau. Amin

Wallahu a’lam   

Sumber :

Dinukil dari “Min Akhthaa-il Az-Waaj“, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, (Edisi Bahasa Indonesia), hal. 85-89 dengan ringkasan.

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: