Meneropong Dosa-dosa Suami (bagian.2)

teropong-dosanews.liputan6.com_.jpg

Ragu dan Buruk Sangka kepada Istri

Ada beberapa suami yang mempunyai tabiat selalu was-was, jiwanya tegang dan gelisah. Anda melihatnya lebih mengedepankan sikap syak wasangka dan sangat cenderung kepada buruk sangka. Ia menafsirkan segala sesuatu dengan kemungkinan paling buruk.

Terkadang ia berburuk sangka kepada istri soal amanah keungannya. Bisa jadi ia menuduh istrinya telah mencuri hartanya. Bila pada suatu hari ia menghitung uangnya dan mendapatinya berkurang, segera saja melontarkan tuduhan kepada istri, tanpa penyelidikan dan pembuktian. Akhirnya, terjadilah percekcokan, suara-suara saling meninggi. Tidak berselang lama suami ingat uang tersebut telah digunakan untuk membeli sesuatu, untuk melunasi utang, ia pinjamkan kepada orang lain, atau ia berikan kepada kepada salah seorang anaknya, ataupun ia menemukan uang tersebut di suatu tempat.

Pada sebagian suami, masalah tidak berhenti sampai di sini, ia berburuk sangka tentang kehormatan diri istri. Ia mempertanyakan kesucian istri, menuduhnya berbuat yang tidak-tidak ketika melintas di jalan, atau ketika melempar pandangan ke luar jendela. Ia melontarkan tuduhan yang merendahkan harga diri istri dan mencemarkan nama baiknya. Padahal, si istri terbebas dari semua tuduhan tersebut, ia seorang istri yang suci dan menjaga kehormatannya.

Kadangkala sebagian suami ketika bepergian sering sekali menelpon ke rumah, hingga ia merasa tenang bahwa istrinya tidak keluar rumah. Jika telepon sedang sibuk, ia menjadi curiga dan was was. Sebagian yang lain meninggalkan pekerjaannya dari waktu ke waktu, atau pada waktu-waktu yang tidak diprediksi, untuk mengawasi rumahnya dan mamastikan bahwa istrinya tidak melakukan tindakan haram.

Suami yang lain mengawasi telepon dengan sangat ketat, mencatat setiap sambungan, karena khawatir istri mempunyai hubungan dengan laki-laki lain. Bahkan, ada yang bersikap berlebihan, ia menelpon rumah dan merubah nada suaranya untuk melihat reaksi istri ketika berbicara dengannya. Atau, bahkan ia menyuruh orang lian untuk menghubungi telepon rumah.

Ada suami yang terhenyak kaget setiap kali mendengar suara mobil, sebab ia menduga istrinya telah membuat janji dengan orang lain. Juga ada suami yang menuduh istrinya mempunyai hubungan dengan laki-laki lain bila ia melihat keengganan pada dirinya, atau kurang perhatian kepadanya. Lain lagi dengan suami yang terperosok ke dasar jurang syak prasangka paling dalam, ia ragu bahwa istrinya hamil karena dirinya. Ia menuduh sang istri hamil karena hubungan dengan orang lain.

Semua tuduhan itu dilontarkan tanpa bukti dan alasan. Sebenarnya, ia adalah bisikan setan kepada jiwa-jiwa bodoh agar mereka berlebihan dalam sikap cemburu (ghirah) melebihi apa yang diperintahkan oleh Allah. Berapa banyak pembunuhan, perceraian dan perlakuan buruk yang disebabkan sikap buruk sangka, tanpa terlebih dahulu melakukan penyelidikan dan penelitian (Lihat, As-Sab’i, Akhlaqunal Ijtima’iyah, hal. 150-151)

Wahai suami yang budiman, jangan biarkan khayalan menguasai Anda. Jangan penuhi hati Anda dengan sikap waswas seperti tersebut. Kedepankan baik sangka kepada istri yang telah Anda pilih sendiri sebagai pendamping hidup Anda. Ketahuilah bila istri Anda menginginkan tindakan keji, tentu ia akan menempuh jalannya. Selama tidak terlihat tanda-tanda jelas yang tiada menerima takwil lagi, maka jangan perhatikan khayalan dan prasangka yang berkecamuk di dalam pikiran Anda.

Apabila Anda mendengar berita miring tentang istri Anda, sebaiknya jangan buru-buru menjatuhkan vonis. Akan tetapi buktikan terlebih dahulu. Cari kebenarannya dan besabarlah. Barangkali berita miring tersebut berasal dari orang yang ingin menghancurkan rumah tangga Anda yang harmonis.

Berbaik sangka kepada istri bukan berarti kurang memiliki sikap cemburu dan “melepaskan tali kekang bagi penunggang kuda”. Sebenarnya, yang dituntut –seperti yang akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya – adalah agar suami bersikap moderat dalam hal cemburu. Ia tidak boleh lalai dari hal-hal yang dikhawatirkan dampak buruknya. Akan tetapi, tidak boleh juga berlebihan dalam berburuk sangka, bersikap keras dan memata-matai (lihat, al-Qasimi, Jawami’ul Adab, hal. 36)

Secara umum, tindakan memata-matai dan berlebihan dalam sikap cemburu tidak disetujui oleh agama dan akal. Untuk itu Imam Bukhari dalam kitab shahihnya membuat satu bab dengan judul, “Bab tidak boleh datang malam hari kepada keluarga bila telah lama pergi, karena dikhawatirkan akan menimbulkan fithnah di kalangan orang-orang dan melahirkan desas-desus di kalangan mereka. “

Di dalamnya Imam Bukhari menyebutkan dua hadits terkait hal tersebut. ia berkata, “Syu’bah telah memberitahukan kepada kami, Muharib bin Datstsar telah memberitahukan kepada kami, ia berkata, aku mendengar Jabir Jabir bin Abdillah berkata, “ Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak suka bila seseorang datang kepada keluarganya (setelah lama bepergian) pada malam hari (Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 5243)

Kemudian Bukhari menyebutkan hadits kedua dengan sanadnya,” Muhammad bin Muqatil telah memberitahukan kepada kami, Abdullah telah mengabarkan kepada kami, Ashim bin Sulaiman telah mengabarkan kepada kami, dari Asy-Sya’bi, bahwasanya ia mendengar jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا أَطَالَ أَحَدُكُمْ الْغَيْبَةَ فَلَا يَطْرُقْ أَهْلَهُ لَيْلاً

Jika salah seorang di antara kalian telah lama pergi, maka janganlah ia datang kepada keluarganya pada malam hari (Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 5244 dan Muslim, no. 715)

Ibnu Hajar menjelaskan hadits tersebut, “Para ahli bahasa berkata, “Thuruq adalah tindakan datang pada malam hari dari perjalanan jauh atau kegiatan lainnya tanpa memberitahukan sebelumnya. Setiap yang datang pada malam hari disebut thariq. Dan, kata ini tidaklah diungkapkan untuk suatu yang datang pada siang hari kecuali sebagai majaz (metafora) (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, IX : 251)

Kemudian dalam pembahasannya tentang faedah kedua hadits tersebut, Ibnu Hajar berkata, “Di dalam hadis tersebut terdapat anjuran untuk tidak melakukan tindakan yang menyebabkan timbulnya buruk sangka terhadap seorang muslim (Fathul Bari, IX : 252)

Sumber :

Dinukil dari, “Min Akhtha’il Azwaj”, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, (Edisi Bahasa Indonesia), hal. 25-30

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: