Mengambil Berkah Kitab yang Penuh Berkah (Bagian 2)

Ngalap-Berkah-Kitab-yang-Penuh-Berkah.jpg

Telah kita sebutkan pada bagian pertama tulisan ini, bahwa alQur’an merupakan nikmat yang sangat agung, Allah memberkahinya, ia diturunkan di wahtu yang diberkahi, yaitu bulan ramadhan pada malam yang penuh berkah pula yaitu lailatul qadar. Termasuk bentuk keberkahan al-Qur’an adalah fungsinya sebagai “petunjuk”, Allah memerintahkan kita mengikutinya, dan siapa yang mengikutinya niscaya tidak akan sesat di dunia dan tidak akan sengsara di akhirat.

“al-Furqan”, Sebagai Bentuk Keberkahan al-Qur’an

Bentuk keberkahan al-Qur’an yang lainnya –selain al-Qur’an dijadikan sebagai “petunjuk” adalah dijadikannya al-Qur’an itu sebagai pembeda yang dengannya seorang akan dapat membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Allah azza wajalla berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (Qs. Al-Baqarah: 185).

Dengan demikian, apa yang dikatakan atau diberitakan al-Qur’an bahwa hal tersebut merupakan kebenaran, maka itu benar, dan apa yang dikatakan atau diberitakan al-Qur’an bahwa hal tersebut merupakan kebatilan, maka itu batil.

 

Nilai Keberkahan, “al-Furqan”

Nilai dari bentuk keberkahan al-Qur’an yang satu ini sungguh amat besar. Hal demikian itu karena bila mana seseorang mampu membedakan antara mana yang benar dan mana yang batil sebagaimana ditunjukkan dalam al-Qur’an, lalu ia mengikuti kebenaran dan menyampaikan kebenaran tesrebut kepada orang lain, dan ia mengetahui kebatilan meninggalkan kebatilan, memberi peringatan kepada manusia akan perkara yang batil tersebut agar mereka menjauhinya, ia berusaha untuk menumpas perkara batil yang dilihatnya dengan kaca mata al-Qur’an tersebut, niscaya ia akan mendulang banyak keberkahan dalam hidupnya.

Sebagai contohnya, seorang yang mengerti-sebagaimana ditunjukkan al-Qur’an- bahwa Allah itu adalah tuhan yang hak,   sesembahan satu-satu yang berhak untuk diibadahi makhluqNya, lalu ia melakukan penyembahan atau peribadatan hanya kepadaNya semata, ia meninggalkan segala pentuk penyembahan kepada selainNya karena menurut al-Qur’an sesembahan selain Allah itu adalah batil, sebagaimana firmanNya,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Qs. Al-Hajj: 62)

Niscaya ia akan mendulang keberkahan, di antaranya berupa diterimanya ibadah yang dilakukannya tersebut. berbeda halnya ketika, seorang tidak mengerti mana tuhan yang hak yang berhak untuk diibadahi dan mana pula tuhan yang batil yang tidak berhak untuk diibadah, maka besar kemungkinan ia akan terjaruh kedalam penyekutuan terhadap tuhan yang berhak diibadahi dalam aktivitas peribadatan yang dilakukannya tersebut, ia akan mencampur adukkan kebenaran dan kebatilan, ia beribadah kepada tuhan yang berhak namun pada saat yang sama ia juga beribadah kepada tuhan yang tidak berhak untuk menerima peribadatan. Jika benar-benar ia melakukan hal tersebut, niscaya keburukanlah yang akan diperolehnya bukan kebaikan dan keberkahan. Hal ini sebagaimana dijelasankan di dalam al-Qur’an,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ. لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun (Qs. Al-Maidah: 72-73)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya (Qs. An-Nisa : 116)

Contoh lainnya, seorang yang dapat membedakan bahwa “nikah” itu halal, merupakan penyaluran hasrat biologis yang dibenarkan dan “zina“ itu haram, merupakan penyaluran hasrat biologis yang tidak dibenarkan sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qur’an, kemudian ia menikah dan tidak berzina, nicaya keberkahan akan ia dapatkan. Berbeda halnya jika kemudian ia memilih berzina, tidak menikah, maka kesengsaraanlah yang akan ia dapatnya.

Kedua contoh ini, kiranya cukup untuk menunjukkan betapa besar nilai keberkahan al-Qur’an berupa “pembeda antara yang hak dan yang batil”.

Oleh karena itu, hal ini hendaknya mendorong kita untuk lebih banyak berinteraksi dengan al-Qur’an karena dengan itu kita akan lebih mengenal dan dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Semoga Allah membimbig kita untuk semakin banyak berinteraksi dengan kitabNya al-Qur’an yang dengan itu kita akan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Semoga pula Allah memperliahatkan kepada kita kebenaran sebagai sebuah kebenaran dan mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk mengikutinya dan menyeru kepadanya, semoga pula Allah memperlihatkan kepada kita kebatilan sebagai sebuah kebatilan dan mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjauhinya. Amin

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.

Amar Abdullah

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: