Mengapa Harus Amar Ma’ruf Nahi Munkar? (Bagian 2)

mengapa1.jpg

Sebagai bangsa Indonesia patut kita bersyukur memiliki negara dengan umat Islam terbanyak. Allah subhanahu wata’ala telah mengaruniai bumi nusantara dengan berbagai macam nikmat alam yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain, tentunya dengan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Merupakan suatu kewajiban bagi kita mewujudkan negeri ini menjadi negeri yang menyeru kepada kebaikan dan menutup segala pintu kemungkaran, dan ini merupakan bentuk syukur kita kepada-Nya. Sehingga Allah subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya kepada kita semua.

Dalam artikel sebelumnya telah kita paparkan, bagaimana merebaknya kemungkaran dimana-mana serta keadaan masyarakat yang sudah merasa biasa dengan berbagai kemungkaran tersebut, dan butuhnya kita kepada amar ma’ruf nahi munkar. Berikut kami paparkan bahayanya meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar:

  1. Turunnya adzab menyeluruh.

Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan umat yang tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan gambaran yang indah, beliau bersabda:

Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493)

  1. Hilangnya sifat ‘sebaik-baik umat’.

Karena syarat untuk menjadi sebaik-baik umat adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

  1. Orang ahli maksiat semakin berani dan percaya diri dalam berbuat maksiat

Bahkan merendahkan orang-orang yang berpegang teguh terhadap ajaran agama dengan berbagai macam ejekan sebagaimana dipaparkan di artikel sebelumnya.

  1. Sebab kebodohan dan runtuhnya ilmu agama.

Ketika suatu kemungkaran menyebar dan tidak ada yang mengingkarinya, maka akan tercipta suatu masyarakat yang sudah biasa dengan kemaksiatan, sehingga anak-anak yang tumbuh dalam komunitas tersebut akan melihat berbagai maksiat dan menganggapnya hal yang wajar dan kemudian tumbuh besar dengan kepribadian tersebut.

  1. Tidak dikabulkannya do’a.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قالت عائشة رضي الله عنها: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : «مُرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ ، وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ قَبْلَ أَنْ تَدْعُوْا فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

Serukanlah kepada kebaikan, dan cegahlah kemungkaran, sebelum kalian berdoa namun Ia tidak mengabulkannya.” (HR. Tirmidzi)

  1. Syariat islam menjadi asing dan kemaksiatan semakin merajalela.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu. (HR. Muslim no. 208)

Semakin merajalelanya kemungkaran, kezhaliman, dan kemaksiatan, semakin tampak asing pula syariat islam, sehingga orang-orang yang mengamalkan syariat dilihat aneh oleh orang sekitarnya.

Semoga Allah ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, memberi hidayah kepada kita, memudahkan kita untuk selalu berjalan di jalan yang lurus, serta menjauhkan tanah air tercinta ini dari segala bentuk kemungkaran.


Penerjemah : Arinal Haq

Diringkas dan diterjemahkan dari Kitab “Kun Muhtasiban, Musabaqatun Ihtisabiyatun Wamulhaqaatuha”, Syaikh Abdullah bin ‘Ali bin Abdullah Al-Ghomidi.

Artikel : www.hisbah.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: