Mengapa Membenci Dengan Hati Termasuk Merubah Kemungkaran?

Mengapa-Membenci-Dengan-Hati-Termasuk-Merubah-Kemungkaran.jpg

Dalam sebuah hadits yang terkenal dan sering kita dengar Rasululullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

 “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49).

Menurut hadits ini, merubah kemungkaran dibagi menjadi tiga tingakatan; pertama merubah dengan tangan (mengambil tindakan bagi yang berwewenang), kedua merubah dengan lisan (menasehati), dan ketiga merubah dengan hati (membenci perbuatan maksiat), kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa tengakatan yang ketiga ini adalah bentuk keimanan yang paling lemah atau paling minim.

Jika kita perhatikan, tingakatan yang pertama dan yang kedua memang bisa merubah kemungkaran. Yaitu dengan bertindak bagi mereka yang memiliki wewenang, atau menasehati bagi mereka yang tidak memiliki wewenang dan mampu untuk menasehati. Dan perubahannya bisa langsung dirasakan dengan berhentinya orang yang berbuat kemungkaran atau berkurang. Namun bagaimana dengan yang ketiga? Mengapa membenci perbuatan maksiat dengan hati juga disebut sebagai merubah kemungkaran padahal ia hanya di hati dan tidak berwujud apa-apa didunia nyata?

Bahkan di hadits yang lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebut bahwa hati berjihad:

…ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمن…

“… dan barangsiapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya maka dia adalah seorang mukmin…” (HR. Muslim).

Mengapa Rasulullah shallallahu alahi wa sallam menyebut bahwa hati dapat merubah kemungkaran bahkan berjihad?

Jawabannya adalah; karena merubah kemungkaran bukan hanya dengan menghilangkan atau menguranginya, tetapi lebih umum daripada itu. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebutnya dengan ‘mengingkari dengan hati’ karena membenci maksiat dengan hati memiliki buah yang sangat berpengaruh dimana seseorang tidak tunduk ataupun menyerah kepada kemungkaran yang ada, hanya saja ia belum memiliki kemampuan untuk menghilangkannya. Jika suatu saat ia mampu dan kesempatan memungkinkan, ia akan menghilangkannya baik dengan tindakan atau perkataan karena kebencian terhadap maksiat tersebut sudah bersarang didadanya. Dan ini semua adalah salah satu bentuk perubahan yang disebabkan oleh hati. Inilah yang disebut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai ‘iman paling lemah.’ Artinya orang yang tidak merasakan apa-apa dan enjoy saja dengan adanya kemungkaran dan kemaksiatan maka imannya dipertanyakan.

Oleh karena itu, kita dilarang untuk berkumpul dengan orang-orang  yang berbuat kemungkaran kecuali jika ingin merubah kemungkaran yang mereka lakukan, karena duduk dengan mereka tanpa menegur kemungkaran mereka, menunjukkan bahwa kita ridha dan menyetujui kemungkaran tersebut, dan hal ini sudah kami bahas pada artikel kami yang berjudul ‘Larangan Duduk Bersama Orang-orang yang Bermaksiat.’

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: