Mengapa Sihir Melanda Dunia Islam ?

Sihir-menyebar.jpg

          Salah satu pembatal Keislaman seseorang adalah sihir, sebuah penyakit akut yang menggerogoti tubuh umat Islam. Ia adalah penyakit yang telah dikenal oleh bangsa-bangsa sejak dulu, yang karena pengaruhnya yang buruk pula para nabi sering dituduhkan dengannya padahal mereka berlepas diri dari perbuatan semacam itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

“Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, ‘Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” (QS. adz-Dzariat: 52)

Di abad kontemporer ini, sihir sudah menjadi salah satu problematika yang muncul, gejalanya semakin marak, berbagai ritual mistik digelar bahkan dipertontonkan di banyak negara. Banyak kaum Muslimin yang tidak menyadari akibat dari sihir ini; sebagian mereka ada yang beranggapan bahwa ia hanya perbuatan yang haram saja padahal sebagaimana dikatakan Imam adz-Dzahabi, “Kita melihat banyak orang yang sesat terjerumus ke dalam sihir dan mengira ia hanya perbuatan haram saja, sementara (mereka) tidak merasa bahwa ia (sisihir) adalah kekufuran.!” (al-Kaba’ir:41). Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga orang yang tidak masuk surga: Pecandu khamer, pemutus silaturrahim dan pembenar sihir.” (HR. Ahmad)
Pembahasan kali ini merupakan jawaban atas pertanyaan yang sering dilontarkan, “Mengapa sihir begitu laris manis dan para tukang sihir bertebaran di negara-negara kaum muslimin.?” Di antara sebab-sebabnya adalah:

  1. Lemahnya Iman Di Dalam Diri Kita

Ketika pengharapan kepada Allah subhanahu wata’alaƒnmelemah, rasa takut kepada-Nya berkurang, aspek tawakkal kepada-Nya, ridha terhadap takdir-Nya serta keyakinan terhadap pembagian-Nya goyah, maka sebagian orang menolerir diri untuk pergi menemui para tukang sihir dan dukun sehingga semakin lemahlah iman mereka, harta dan akal pikiran mereka pun terampas.!!

  1. Jahil terhadap Hukum-hukum Syari’at

Demikian juga jahil terhadap ancaman-ancaman syari’at atas orang-orang yang mendatangi para tukang sihir, para peramal dan dukun itu, terlebih bahayanya terhadap keyakinan dan agama. Apakah akan tetap pergi mendatangi mereka, orang yang mengetahui dan mengagungkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa yang mendatangi para peramal, lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima baginya shalat empat puluh malam.” (HR. Muslim).

Apalagi bila sampai bertanya kepada mereka lalu membenarkannya, maka dosanya akan lebih besar lagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi para peramal atau dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. al-Hakim, Hadits Shahih)

  1. Keluguan Sebagian Kaum Muslimin dan Kejahilan Mereka akan Kondisi Para Tukang Sihir dan Dukun Itu

Mereka pergi mendatangi para tukang sihir, dukun atau peramal itu dengan penilaian baik terhadap mereka padahal pengobatan yang mereka berikan hanya hal yang membahaya kan, tidak bermanfa’at sama sekali; prediksi-prediksi, ilusi, gurah, jampi-jampi dan tulisan-tulisan yang dijual dengan harga mahal.! Padahal bagi orang yang berakal, tidak sebanding dengan satu sen pun.!! Bahkan sebaliknya, bila kita memperhatikan kondisi para peramal itu, pasti kita akan mendapatkan hal yang sungguh aneh dan yakin seyakin-yakinnya, bahwa sebenarnya, merekalah manusia yang amat memerlukan pengobatan dan rehabilitasi.!!

  1. Kejamnya Gaya Hidup Materialistis Modern

Hal ini membuat hati menjadi keras, sumber-sumber kebaikan mengering dari ruh-ruh kebanyakan manusia. Akibatnya, timbul gangguan jiwa, gejala kecemasan semakin tinggi. Parahnya lagi, orang-orang yang sakit jiwanya itu malah mengira bahwa kesembuhan mereka berada di tangan para tukang sihir dan dukun itu, lalu pergi mengetuk pintu rumah mereka, merogoh kocek yang banyak berharap kesembuhan dari mereka, na’udzu billahi min dzalik.!

Bersambung, insya Allah…

Sumber:

Syu’a’ Min al-Mihrab: as-Sihr, Haqiqatuhu, Wa Hukmuhu Wa Limadza Yantasyiru, karya Dr. Sulaiman bin Hamad

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: