Mengenal Hakikat Allah

mengenal-hakikat-allah.jpg

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, shalawat dan salam kepada nabi kita muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,  Kepada keluarga dan para sahabatnya juga orang-orang yang mengikuti dan mencintai ajarannya hingga yaumul qiyamah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

قد أفلح من تزكى وذكراسم ربه فصلى

sungguh telah beruntung orang yang  تزكى.

تزكى itu artinya mensucikan diri, ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala memilih nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjadi nabi, salah satu ayat yang Allah turunkan kepada nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah

وثيا بك فطهروالرجز فاهجر

termasuk wahyu yang pertama turun adalah  وثيا بك فطهر  “pakaianmu sucikanlah”.

sebagian mufassirin (ahli tafsir) pakaianmu adalah akidahmu atau keyakinanmu, maka dari ayat ini, yang diinginkan pertama kali adalah mensucikan diri kita dari kesalahan akidah, kemudian mensucikan hati kita dari perangai-perangai yang jahat, dan yang menjadi tujuannya  adalah mensucikan diri dari keyakinan yang salah, karena kalau kita fokus kepada  perangai-perangai tapi tidak membersihkan dari akidah yang salah kita bagaikan menulis diatas air artinya orang yang beramal tanpa akidah yang benar bagaikan debu yang berterbangan, sebaik apapun dia, sebesar apapun amalanya, tapi kalau tidak dibangun diatas akidah yang benar bagaikan debu yang berterbangangan bahkan Rasulullah bersabda dalam hadits qudsi :

عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول لله صلى الله عليه وسلم: قال الله تبارك وتعلى: أنا أغنى شركاء عن الشرك؛ من عمل عملا أشرك فيه معي غيري, تركته وشركه. رواه مسلم (وكذالك ابن ماجه)

“Telah bersabda Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam: telah berfirman Allah Tabaroka Wa Ta’ala: “Aku adalah dzat yang paling tidak membutuhkan dari persekutuan; barang siapa berbuat suatu amal (ibadah) sembari menyukutukan Aku dari amalan itu), maka pasti Aku akan meninggalkannya dan sekutunya” (hadist riwayat muslim dan ibnu majah)

Allah  tidak membutuhkan apapun dan siapapun juga,  Apakah Allah butuh shalat kita? Apakah Allah butuh dzikir kita? Tanpa kita shalatpun Allah tetap maha agung, tanpa kita berdzikirpun Allah tetap maha mulya, akan tetapi kitalah yang butuh kepada Allah, mengapa?  karena kita hanyalah mahkluk butuh kepada الخالق, karena kita lemah butuh kepada yang maha kuat, kita tidak punya apa apa    الفقيرkita butuh kepada yang maha kaya الغني ,kitalah yang butuh kepada Allah bukan Allah yang butuh kepada kita.

Dalam keterangan diatas maka kita dapat menyimpulkan bahwa pertama kali yang harus kita bersihkan adalah keyakinan keyakinan yang tidak sesuai dengan al-quran, diantaranya keyakinan yang perlu kita luruskan adalah mengenal Allah, Apa dan siapakah Allah ?

ketika kita berbicara الرزاق“maha pemberi rizki”  ketika kita berbicara الغني “maha kaya” ketika kita berbicara الرحمن“maha pengasih”الرحيم“maha penyayang”, lantas timbullah satu pertanyaan, apa itu Allah? Dan setiap Orang akan menjawab sesuai dengan ilmunya. Dan ketika seseorang bertanya kepada kita apa arti الرحمن?  mungkin kita jawab maha pengasih الرحيم artinya yang maha penyayangالغني yang maha kaya, siapakah Allah apa arti Allah? pentingnya kita mengenal Allah siapakah Allah dan apa itu Allah,inilah yang seharusnya ditanamkan dalam diri seorang mu’min, Mengartikan Allah itu adalah pencipta, pengatur, pemilik. maka ketika seorang  ditanya apa makna  لااله إلا اللهdia  menjawab tiada yang menciptakan selain Allah, apakah kallimat ini tepat?Tentu saja tidak, mengapa? Karena  yang menciptakan yang mengaturkan yang membagikan, yang memiliki, yang maha kaya itu adalah Allah dan kalimat Allah itu bukan sekedar yang menciptakan. kita tidak mengatakan Allah tidak menciptakan, akan tetapi  Allah yang menciptakan, Allah yang mengatur, Allah yang memberikan, Allah yang membagi, Allah yang merajai, tapi kalimat Allah lebih dari kalimat pencipta, Mengapa demikian? Karena mengakui Allah pencipta belum tentu mau beribadah kepada Allah, sebagaimana Allah  berfirman ketika Allah memerintahkan nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

seandainya engkau tanya (muhammad) kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi mereka akan mengatakan Allah bahkan dalam ayat ini dikatakan bukan hanya dengan lafadz Allah, mereka menjawab dengan lam taukid dibelakang nun taukid tsaqilah ada tiga penekanan, pasti demi Allah mereka akan menjawab Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman :

قل من يرزقكم من السماء والأرض أمن يملك السمع والأبصر ومن يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي ومن يدبر الأمر فسيقولون الله فقل أفلا تتقون

Katakanlah: siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” maka mereka akan menjawab: “Allah” . maka katakanlah mengapa kamu tidak bertakwa kepadanya)?” . (QS.yunus 31).

Di akhir ayat Allah mengatakan “mengapa kamu tidak bertakwa?” artinya mereka mengakui Allah yang menciptakan bahkan iblispun yang tidak ada seorangpun mengatakan bahwa dia akan masuk surga mengakui bahwa Allah yang menciptakan.”Ya Allah engkau ciptakan aku dari api sedangkan engkau ciptakan adam dari tanah”. artinya  dia mengakui bahwa Allah yang menciptakan dirinya dari api, namun  ketika iblis mengakui dia diciptakan dari api apakah dia masuk islam? Jawabnya tidak, iblis tidak  masuk islam karena dia mengakui Allah itu yang menciptakan,dan ironisnya bukan hanya mengakui bahwa Allah yang menciptakan dia juga memanggil manggil nama Allah yang maha mulya, iblis berkata kepada Allah قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya”,

Sifat yang dia sebutkan yaitu sifat عِزَةّ artinya mengakui Allah memiliki sifat mulya  apakah iblis muslim? Yang menjadi pelajaran bagi kita bahwa ketika kita mengatakan “Allah” berarti bukan sebatas mengakui bahwa Allah yang menciptakan, karena pengakuan bahwa Allah yang menciptakan tapi tidak mau beribadah murni kepada Allah tidak lebih bagaikan ibadah ibadah orang dizaman rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. mereka mengakui bahwa Allah yang menciptakan, bahkan iblis mengakui Allah yang menciptakan tapi iblis kekal dineraka, berapa banyak orang yang mengatakan Allah pencipta akan tetapi tidak mau beribadah kepadanya, tidak mau meninggalkan larangan larangannya, tidak mau tunduk dan patuh terhadap perintah perintahnya. Dan keyakinan yang seperti ini adalah keyakinan yang perlu diperbaiki,karena keyakinan hanya Allah yang menciptan tapi tidak mau  beribadah kepada Allah dengan murni, ini tidak mengeluarkan seseorang dari lingkaran syaiton.

ketika mereka telah beriman kepada Allah dan meyakini bahwa Allah yang menciptakan mengapa mereka bisa beribadah kepada selain Allah? Jawabannya telah Allah sebutkan didalam alquran ketika Allah memerintahkan mereka untuk beribadah kepada Allah mereka jawab “tidak kami beribadah kepada patung patung ini kepada perantara perantara ini kecuali mendekatkan diri kami kepada Allah”, mengapa mereka mengambil perantara ketika  ingin mendekatkan diri kepada Allah, mereka yakin Allah pencipta, mereka tahu Allah yang mengatur, mereka tahu Allah pemberi rizki tapi ketika mereka ingin mendekatkan diri kepada Allah mereka jadikan perantara perantara dalam ayat lain dikatakan “perantara perantara kami ini akan memberi syafaat disisi Allah” inilah kesalahan dalam memaknai tauhid.

Sebagian mereka berdalil dengan akal, mereka mengatakan: “kalau kamu ingin bertemu raja tidak langsung berbicara dengan raja pasti kamu akan bertemu dengan ajudannya dulu, kalau kamu mengantar  lamaran kerja harus kepada orang orang yang dekat dengan managernya dulu, seperti itulah kami”. ini adalah cara berfikir, bukan dengan cara berdalil, dan cara berfikir seperti ini adalah cara berfikir yang salah mengapa salah?

Yang pertama Allah berbeda dengan mahkluk. dan raja itu mahkluk, jadi ketika ada orang yang ingin bertemu raja, dia tidak tahu siapakah yang akan datang,apa tujuannya? apakah ingin membunuhnya? ataukah mau memberikan dia kebaikan?dia tidak mengetahuinya, dikarenakan ketidak tauan dia, kelemahan dia, dia butuh kepada pengawal dia butuh dengan bodygard agar dia mengetahui. Pertanyaanya apakah Allah butuh pengawal? Apakah Allah butuh bodygar? Apakah Allah tidak tahu bagaimana  hambanya datang kepada Allah?

Tidak mungkin karena Allah maha tahu, bahkan Allah mengatakan dalam alqur’an mintalah kepadaku, pernahkah Allah mengatakan mintalah kepada pengawal pengawalku, ini hakekat dari  tauhid. ketika kita melihat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

“tidakkah kalian memmperhatikan lata dan uzza dan manaf  tiga nama ini adalah nama sesembahan”.

para ulama menafsirkan yang diinginkan dari kata latta itu adalah لات يلوت karena dahulu dia suka membuat kue untuk dibagi-bagikan kepada setiap orang yang haji di baitullah jadi setiap ada jemaah haji yang datang dia bagi-bagikan kue gratis sebagai bentuk pelayanan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seiring berjalannya waktu silatta  meninggal ketika latta ini meninggal orang-orang yang haji merasa kehilangan akhirnya mereka berinisiatif untuk membuat monumen latta, kemudian dibikinkan monumen latta disamping ka’bah dengan alasan mengenang kebaikannya memberikan semangat dalam beribadah, kemudian orang orang yang membuat monnumen ini meninggal tersisalah anak anak mereka, anak anak mereka menyangka bahwa patung latta ini adalah monumen yang disembah oleh ayah mereka padahal bapak mereka membuat  itu sebagai monumen, maka ketika Allah memerintahkan untuk menyingkirkan patung- patung ini mereka berkata “tidaklah kami beribadah kepada latta kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah karena latta ini orang soleh”.

Inilah hakikat dari kalimat Allah hanya Dia yang di ibadahi hanya Dia tempat kita meminta hanya Dia tempat kita bergantung  hanya Dia tempat kita mengeluh hanya Dia tempat kita kembali hanya Dia tempat kita bertawakkal, karena setiap nama pasti punya arti, sembilan puluh sembilan nama Allah mempunya arti,dan arti dari “Allah” adalah Dialah yang diibadahi.

sebelum kita membersihkan diri kita dari perbuatan dosa dosa yang lain, bersihkan akidah kita dari kesalahan yang diharamkan agar kita menjadi muslim yang sempurna.

Wabillahi taufiq

Disarikan dari kajian Ustadz Abdul Jabbar dimasjid Al-Hisbah bogor.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: