Menghilangkan Sihir dengan Bantuan Jin

Menghilangkan-Sihir-dengan-Bantuan-Jin.jpg

Soal :

Saya mempunyai teman dari Yaman, ia bercerita kepadaku yang singkatnya, bahwa ia mempunyai sekelompok jin muslim, dan ia mengatakan kepada saya bahwasanya ia ingin agar aku bekerjasama dengannya untuk menghilangkan pengaruh sihir, namun aku menolak ajakan kerjasamanya tersebut, namun ia mengatakan, “mengapa engkau tidak mau?”, maka akupun menjawabnya seraya ku katakan kepadanya bahwa meminta bantuan kepada jin hukumnya adalah haram baik jin tersebut muslim maupun non-muslim. Namun, ia meminta kepadaku untuk mendatangkan dalil yang dapat menentramkan hatinya.

Jawab :

Tidak boleh meminta bantuan kepada jin baik untuk menghilangkan pengaruh sihir atau pengobatan yang lainnya ataupun untuk tujuan yang lainnya. Hal demikian itu karena bebepa sebab, di antaranya :

Karena hal tersebut merupakan kekhususan yang diberikan Allah azza wajalla kepada NabiNya Sulaiman ‘alaihissalam. Allah azza wajalla berfirman tentang NabiNya Sulaiman,

 

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ia (Sulaiman) berdoa : ya rabbku, ampunilah aku dan karuniakanlah kepadaku sebuah kejajaan yang tidak akan pernah diberikan kepada seorang pun setelah ku, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Pemberi Karunia. (Qs. Shaad : 35)

Dan oleh karena itu, Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda, sesungguhnya ifrit dari kalangan bangsa jin melepaskan diri semalam untuk memutuskan shalatku. Namun, Allah melindungiku dari upayanya. Akupun dapat menangkapnya. Aku sangat ingin untuk mengikatnya di salah satu sudut masjid sehingga kalian semua dapat melihatnya. Namun, aku teringat dengan doa yang dianjatkan oleh Saudaraku Sulaiman,

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ia (Sulaiman) berdoa : ya rabbku, ampunilah aku dan karuniakanlah kepadaku sebuah kejajaan yang tidak akan pernah diberikan kepada seorang pun setelah ku, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Pemberi Karunia. Maka, aku pun melepaskannya begitu saja (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka, barangsiapa menggunakan jin maka ia telah melampaui batas adab Nabawi ini terhadap para Nabi. Bahwa jin itu ada yang mukmin dan ada yang kafir, mereka adalah makhluk yang tidak terlihat, maka dari itu siapakah yang bisa menjamin bahwa jin yang dimintai bantuan tersebut adalah jin muslim ? tak seorang pun yang dapat memastikannya. Boleh jadi seseorang mengatakan, bahwa jin yang ia minta bantuan tersebut mengatakan, bahwa ia adalah seorang. Maka, saya katakan, ‘sekalipun jin tersebut mengatakannya demikian, siapakah yang bisa menjamin kebenaran ucapannya.

Sementara setan pernah datang kepada Abu Hurairah-semoga Allah meridhainya- dan ia mengaku bahwasanya ia seorang yang faqir dan ia mempunyai tanggungan keluarga. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memberikan tugas kepadaku untuk menjaga harta zakat Ramadhan.

Datanglah seseorang mencuri makanan lalu aku menangkapnya dan aku katakan kepadanya, ‘sungguh aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah. Ia pun berkata, sungguh aku adalah orang yang tengah membutuhkan dan aku mempunyai tanggungan keluarga, dan akupun sangat membutuhkan. Abu Hurairah mengatakan, ‘maka akupun melepaskannya’, di pagi harinya Nabi bertanya kepadaku, wahai Abu Hurairah apa yang dilakukan tawananmu semalam ? ia berkata, aku menjawab, wahai Rasulullah ia mengadukan kebutuhannya yang sangat mendesak dan perihal tanggungan keluarganya. Maka, akupun merasa iba kepadanya, oleh karenanya aku melepaskannya.

Beliau berujar, tahukah engkau bahwa sungguh ia telah berkata dusta kepadamu dan ia pun akan kembali lagi. Maka, akupun tahu bahwa ia akan kembali lagi berdasarkan sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa ia akan kembali lagi.

Oleh karena itu, aku pun mengintai kedatangannya lagi. Lalu benar saja ia pun datang lagi mencuri makanan. Maka akupun kembali menangkapnya dan aku katakan kepadanya,’ Pasti aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah. Ia pun berujar, ‘lepaskan aku, sungguh aku adalah orang yang tengah membutuhkan (makan) dan aku mempunyai tanggungan keluarga. Aku tak akan kembali lagi. Maka, akupun merasa kasihan kepadanya. Akupun melepaskannya kembali.

Namun, di pagi harinya Rasulullah mengatakan kepadaku,’apa yang dilakukan tawananmu semalam? ya Rasulullah, ia mengadukan kebutuhannya yang sangat mendesak dan perihal tanggungan keluarganya. Aku merasa kasihan kepadanya, maka aku lepaskan ia. Ia juga mengatakan, ‘aku tak akan kembali lagi. Maka, akupun mengintainya untuk kali ketiga. Maka ia pun datang lagi mencuri makanan, maka akupun kembali menangkapnya, lalu aku katakan kepadanya, pasti aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah.

Ini adalah akhir untuk ketiga kalinya engkau berjanji tidak akan kembali lagi namun engkau kembali lagi. Ia berujar, lepaskan aku, aku akan mengajarimu beberapa kata niscaya Allah memberikan manfaat kepadamu dengannya. Aku pun berujar, ‘apa itu’? ia berkata, bila englkau menuju ke pembaringanmu untuk tidur, bacalah ayat kursi  الله لا إله إلا هو الحي القيوم hingga engkau selesai mambaca ayat tersebut, niscaya Allah memberikan penjagaan kepadamu dan setan pun tak akan mendekatimu (untuk mengganggumu) hingga waktu pagi. Lalu, aku melepaskannya kembali.

Maka di pagi harinya Rasulullah bersabda kepadaku, ‘apa yang dilakukan tawananmu semalam? aku pun menjawab, Ya Rasulullah, ia beranggapan bahwa ia mengajariku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadaku, maka aku pun melepaskannya. Beliau bersabda, ‘coba apa beberapa kata yang diajarkannya (kepadamu)? aku menjawab, ‘ia mengatakan kepadaku jika engkau menuju pembaringanmu hendak tidur bacalah ayat kursi dari awalnya hingga akhir ayat.

Dan ia juga mengatakan kepadaku, ‘niscaya Allah memberikan penjagaan kepadamu dan setan pun tak akan mendekatimu (untuk mengganggumu) hingga waktu pagi. (mendengar penuturanku tersebut) maka Rasulullah –shallallahualaihi wasallam– bersabda, Ia telah mengatakan yang benar kepadamu sedangkan ia adalah pendusta. Tahukah engkau siapakah yang engkau ajak bica sejak tiga malam yang lalu wahai Abu Hurairah ? ia menjawab, “tidak”. Beliau bersabda, orang itu adalah setan.

Setan adalah pendusta, boleh jadi salam seorang di antara mereka mengatakan, bahwa dirinya adalah seorang muslim namun hal itu untuk mempermainkan seorang muslim, sehingga si jin dapat menguasainya. Oleh karenanya, bekerjasama dengan jin merupakan perkara yang haram karena akan mengantarkan kepada kekufuran dan kesyirikan.

Didapati ada oeng yang berkerjasama dengan sekelompok jin yang ia kira bahwa mereka itu muslimin, hingga akhirnya mereka dapat mengusai orang yang bekerjasama dengan mereka, ia tertipu oleh tipu daya mereka, atau paling tidak ia meninggalkan kebaikan yang telah biasa dilakukannya.

Bahkan sampai-sampai ada yang mengingkari masuknya jin ke dalam diri manusia. Kalaulah saja hal ini (bekerja sama dengan jin atau meminta bantuan kpeada jin) merupakan kebaikan, niscaya hal tersebut telah dikerjakan oleh Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabatnya.

Karena Nabi pernah disihir oleh seorang Yahudi namun tidak memberikan pengaruh kepada beliau, beliau juga tidak kemudian meminta bantun kpeada jin untuk membantunya agar beliau mengetahui tempat di mana sihir tersebut diletakan padahal beliau terkadang menyeru kalangan jin, mengajak mereka untuk masuk Islam.  Wallahu a’lam

Sumber:

Al-Fatawa al-Aamatu, syaikh Abdurrahman as-Suhaim (1/196). Diterjemahkan oleh Amar Abdullah bin Syakir secara bebas dengan sedikit gubahan.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: