Mengintip Dosa Dosa Istri ( Bagian.4)

mengintip-dosa-istri.jpg

Banyak Berkeluh Kesah dan Kurang Bersyukur, juga termasuk dosa dan kesalahan  para istri. Inilah poin bahasan pada tulisan berikut ini.

Pembaca yang budiman,

Ada tipe istri yang suka berkeluh kesah, jarang memuji Allah dan bersyukur, kehilangan sifat rasa cukup, dan tidak puas terhadap kebaikan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Bila ia ditanya tentang kondisinya bersama suami, ia memperlihatkan keluh kesah dan kesedihan. Ia mulai membanding-bandingkan kondisi dirinya dengan para istri yang diperlakukan secara baik oleh suami mereka.

Bila suami memberinya sejumlah uang, ia segera menunjukkan keluh kesah. Ia meratapi nasib, sebab ia menganggap uang tersebut sedikit bila dibandingkan dengan yang diterima teman-temannya. Bila diberi hadiah, ia menganggap remeh dan menerimanya dengan cemberut. Alih-alih hadiah menyebabkan kegembiraan dan kepuasan di antara mereka berdua, ia malah mengakibatkan kesedihan dan kemarahan. Dengan dalih si fulanah mendapat hadiah dari suaminya lebih mewah dari hadiah yang diterimanya. Bila suami datang membawa barang atau perkakas rumah tangga, di mana banyak orang membayangkan memiliki barang serupa, ia menerimanya dengan kasar dan sikap kurang suka. Ia mulai menyebutkan satu persatu catat barang tersebut.

Beberapa istri tipe ini mendapat perlakukan sangat baik dari suami, namun bila ia menjumpai satu kesalahan atau kealpaan suami, atau marah karena suatu sebab, ia melupakan perlakuan baik yang selama ini ia terima. Begitulah, ia merasakan hidup ini begitu sempit dan tidak berpihak kepadanya. Padahal, bila sedikit saja mengembangkan sikap qana’ah (merasa cukup), tentu matahari kebahagiaan akan bersinar dalam kehidupannya.

Ketahuilah ! sesungguhnya kebahagiaan hakiki itu sejatinya ada bersama sikap ridha dan qana’ah. Banyaknya harta dan gelimang dengan materi-materi lahiriah bukan indikasi kebahagiaan.

Apa yang akan dipetik seorang istri dari sikap keluh kesahnya selain murka Rabbnya, hancur bangunan rumah tangganya, dan keruh kehidupan suaminya ? maka, menjadi kewajiban seorang istri yang cerdas untuk menjauhi sikap keluh kesah. Sangat layak baginya untuk memperbanyak sikap bersyukur. Bila ditanya tentang rumahtangganya, suaminya atau kondisinya sendiri, ia memuji Rabbnya, mengungkapkan limpahan nikmatNya dan merasa cukup dengan pembagian-Nya.

Qanaah merupakan simpanan kekayaan. Syukur adalah pengikat nikmat yang ada, dan pemburu nikmat yang belum teraih. Bila seseorang konsisten dengan sikap syukur, niscaya kenikmatan akan mengalir deras kepadanya. Bagaimana tidak, sedangkan Allah ta’ala telah berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (Qs. Ibrahim : 7)

Kufur nikmat, mengingkari keutamaan dan melupakan sisi-sisi kebaikan suami, itu semua bukanlah karakter istri yang cerdas dan beriman. Ia terjauh dari apa yang diridhai Allah. Allah menegaskan bahwa mengingkari keutamaan suami disebut sebagai kufur. Dia sediakan siksa yang pedih untuknya, dan Dia jadikan tindakan itu sebagai penyebab masuk Neraka.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda, “Aku melihat Neraka dan aku melihat sebagian besar penduduknya adalah kaum wanita”, mereka bertanya, “ mengapa wahai Rasulullah ? beliau bersabda,

يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Mereka mendurhakai suami dan mendurhakai kebaikan. Sekiranya seorang dari mereka engkau perlakukan dengan baik sepanjang masa, lalu ia melihat sesuatu (kesalahan) darimu, ia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat satu pun kebaikan darimu selama ini (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam

Sumber :

Dinukil dari, “Min Akhtha az-Zaujaat”, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, (Edisi Bahasa Indonesia), hal. 29-33 dengan ringkasan

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: