Mengintip Dosa Istri (bag.12)

dosa-istri-1.jpg

Memasukkan Orang yang Tidak Diizinkan Suami untuk Masuk ke Dalam Rumahnya

Suami mempunyai hak untuk hanya memasukkan orang yang disukainya ke dalam rumah, dan mengharuskan istri agar menuruti ketentuannya dalam hal ini. Maka, istri tidak boleh memasukkan orang yang tidak disukai suami untuk masuk ke rumahnya, baik orang itu adalah mahram istri seperti halnya ayah atau saudara laki-lakinya, perempuan asing, atau kerabat perempuan, bahkan ibu istri sekalipun. Terlebih lagi orang lain selain mereka, lebih utama bagi istri untuk tidak mengizinkan mereka masuk ke dalam rumah, kecuali dengan izin suami.

Sebagian istri menyepelekan hal ini, ia memasukkan orang yang tidak disukai suami untuk masuk ke dalam rumahnya. Ini adalah tindakan yang tidak diperbolehkan, berdasarkan hadits Jabir terkait khutbah Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- pada saat haji Wada’. Di antara isi khutbahnya, beliau bersabda:

وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ. فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ

“Kalian mempunyai hak atas diri mereka agar mereka tidak memasukkan orang yang tidak kalian sukai ke dalam ranjang kalian. Jika mereka melakukannya, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti (Diriwayatkan oleh Muslim, 1218; Abu Dawud, 1905; Ibnu Majah, 3074; Darimi, 1857)

Imam Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini, “Pendapat yang terpilih menyatakan bahwa maknanya adalah mereka tidak boleh memberi izin kepada orang yang tidak kalian sukai untuk masuk ke rumah kalian atau duduk-duduk di dalamnya, baik orang itu adalah laki-laki asing, seorang perempuan ataupun mahrom mereka. Larangan ini mencakup mereka semua. Demikianlah hukum terkait masalah ini menurut para fuqaha’; bahwa tidak halal bagi istri memberi izin kepada laki-laki maupun perempuan, mahrom maupun non mahrom, untuk masuk ke dalam rumah suami, kecuali, orang yang ia ketahui atau ia duga tidak dibenci oleh suaminya. Sebab, pada dasarnya haram bagi seseorang untuk masuk ke rumah tanpa mendapat izin pemiliknya, atau dari orang yang mendapat izin untuk memberi izin masuk, atau orang yang mengetahui keridhaan pemilik rumah berdasarkan adat kebiasaan yang berlaku padanya. Manakala ada keraguan tentang ridha pemilik rumah, tidak diketahui kemungkinan yang lebih kuat dan tidak ada keterangan yang menunjukkannya, maka tidak halal untuk masuk ataupun memberi izin untuk masuk. Wallahu a’lam (Shahih Muslim bin Syarh an-Nawawi, VIII : 340)

Di dalam kitab shahihnya, Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya, bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Tidak halal bagi seorang perempuan untuk berpuasa sedangkan suaminya ada, kecuali dengan izin suaminya; dan (tidak halal juga) ia memberi izin seseorang untuk masuk ke rumah suami, kecuali dengan izin suami (Diriwayatkan oleh Bukhari, 5195)

Ibnu Hajar  berkata dalam menjelaskan hadits ini, bahwa Imam an-Nawawi berkata,”Di dalam hadits ini terdapat isyarat bahwa tidak boleh berdusta terhadap suami dengan mengizinkan orang lain untuk masuk ke rumahnya, kecuali dengan izin suami. Hadits ini juga dipahami untuk kondisi yang tidak diketahuinya ridha suami. Bila istri mengetahui ridha suami maka tidak masalah baginya untuk mengizinkan orang yang bersangkutan untuk masuk. Misalnya, ada kebiasaan suami menerima kedatangan tamu di ruangan khusus untuknya, maka tidak diperlukan izin suami khusus untuk memasukkan tamu tersebut ke dalam ruangan yang dimaksud, baik ketika suami ada ataupun tidak ada (Fathul Baari, IX : 207)

Wallahu a’lam

Sumber :

Dinukil dari “Min Akhto-i az Zaujaat”, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, (Edisi Indonesia, hal. 67-69)

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: