Mengintip Dosa Istri (bag.14)

dosa-istri-1.jpg

Mentaati Suami dalam Kemaksiatan kepada Allah

Pembaca yang budiman….

Sudah barang tentu mentaati suami merupakan kewajiban seorang istri. Ketaatan ini masuk ke dalam cakupan kepemimpinan yang dijelaskan oleh Allah azza wa jalla di dalam firmanNya:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita (Qs. An-Nisa : 34)

Ketaatan ini mempunyai pengaruh tersendiri bagi kelangsungan kehidupan pernikahan, kebahagiaannya, dan tersedianya pendidikan yang baik bagi anak-anak. Barang siapa yang melakukannya karena mengharap ridha Allah, maka suami maupun istri akan mendapatkan pahala yang besar.

Namun, bukan berarti seorang istri harus memberi ketaatan mutlak kepada suami. Ia mentaati seluruh perintah suami, meskipun dalam wilayah kemaksiatan kepada Allah. Melainkan ketaatan itu hanya untuk perkara ma’ruf. Istri tidak boleh taat kepada suami bila ia menyuruhnya untuk bermaksiat kepada Allah, misalnya menyuruhnya untuk meminum minuman memabukkan atau menghidangkannya, menyuruhnya menyerupai penampilan perempuan kafir, menanggalkan hijab atau meninggalkan shalat. Atau menuruti permintaannya untuk melakukan hubungan badan pada siang hari bulan Ramadhan, atau ketika ia haid, atau untuk melakukan penetrasi pada dubur –kita berlindung kepada Allah darinya-. Suami tidak berhak mendapat ketaatan pada situasi-situasi tersebut, atau yang serupa dengannya, bahkan istri haram untuk mentaati suami.

Kaedah umum dalam masalah ini adalah Sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam tindakan mendurhakai sang Khalik (Diriwayatkan oleh Ahmad, I : 129, 131, 409, V : 66; Thabrani, al-Kabir, XVII, 170-171; Hakim, II : 443, ia menyatakan shahih dan disetujui oleh Dzahabi)

Imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya membuat satu bab secara khusus yang ia beri judul, “ Seorang perempuan Tidak Boleh Mentaati Suaminya dalam Kemaksiatan kepada Allah”. Kemudian ia berkata: “ Khalid bin Yahya menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Nafi’ menceritakan kepada kami, dari Hasan –yaitu putra Muslim-, dari Shafiyah, dari ‘Aisyah, “Bahwasanya seorang perempuan Anshar menikahkan putrinya. Lalu, rambut putri tersebut rontok. Si perempuan Anshar datang kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– dan menceritakan apa yang terjadi. Ia berkata: “Sesungguhnya suaminya menyuruhku untuk menyambung rambutnya.’ Beliau bersabda:

لَا إِنَّهُ قَدْ لُعِنَ الْمُسْتَوْصِلَاتُ

Tidak boleh, sesungguhnya terlaknat perempuan-perempuan yang meminta disambung rambutnya (Diriwayatkan oleh Bukhari, 5205)

Al-hafizh Ibnu Hajar berkata dalam menjelaskan hadis ini: “ Sekiranya suami mengajak istri untuk melakukan kemaksiatan, maka istri harus menolaknya. Jika suami menghukum istri karena penolakan ini, maka dosa kemaksiatan tersebut menjadi tanggungan suami (Fathul Baariy, IX : 215)

Tidak mentaati suami dalam kemaksiatan kepada Allah bukan berarti bersikap keras terhadapnya semenjak awal. Melainkan istri memulai dengan mengingatkan suami secara halus, menasehatinya dan memperingatkan keberadaan Allah. Intinya adalah berinteraksi dengan cara yang baik. Bila suami tetap kukuh dalam tindakan kemaksiatannya, maka istri harus mengingkari tindakan suami. Hendaklah ia mengambil sikap yang lebih mendatangkan ridha Allah, dan meninggalkan ketaatan kepada suami yang mengajak bermaksiat kepada Allah (Lihat, Ahkam Az-Zawaj, Ibnul Jauzi, hal. 151)

Wallahu a’lam

Sumber :

Dinukil dari “ Min Akhto-i az Zaujaat”, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, (Edisi Indonesia, hal. 74-75)

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: