Mengintip Dosa Istri (bag.16)

dosa-istri-1.jpg

Mendeskripsikan Seorang Perempuan kepada Suami

Sebuah kesalahan bila istri menceritakan kepada suaminya karakter teman-temannya. Misalnya, “Si cantik”, “ Si B berpostur tinggi”, Si C berkulit halus”, si D tubuhnya proporsional”, “Perempuan ini matanya begini-begini” “gadis itu rambutnya terurai panjang, dan lain sebagainya.Barangkali si istri seorang yang bodoh atau ceroboh, sedangkan suami memiliki watak dan perangai tidak baik. Sehingga, dengan leluasa suami memancing istri untuk berbicara, dan dengan istri menceritakan karakter kaum, sehingga seakan-akan suami melihat mereka manari-nari di pelupuk matanya.

Tindakan seperti ini tidak diperbolehkan, sebab rentan menimbulkan fitnah bagi perempuan yang diceritakan dan menghilangkan kecintaan kepada perempuan yang bercerita. Setan akan menggambarkan sosok perempuan yang diceritakan kepada laki-laki yang mendengarkan dan membuat indah dalam pikirannya. Dan, sudah bukan rahasia lagi bila membayangkan lebih nikmat daripada melihat dengan mata kepala sendiri. Karenanya, syariat yang suci telah menetapkan ajaran sebagai antisipasi perbuatan buruk tersebut. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridhainya-, ia berkata, Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda:

لَا تُبَاشِرُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ فَتَنْعَتَهَا لِزَوْجِهَا كَأَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا

Janganlah seorang perempuan bergaul sangat dekat dengan perempuan lain, sehingnga ia menceritakan sifat perempuan tersebut kepada suaminya, hingga seakan-akan si suami melihatnya sendiri (Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 5240)

Ibnu Hajar berkata ketika menjelaskan hadits ini, “ Sabda beliau,’ Sehingga ia menceritakan sifat perempuan tersebut kepada suaminya, hingga seakan-akan si suami melihatnya sendiri.’ Al-Qabisi berkata: ‘ ini adalah pondasi bagi kaidah sadd dzari’ah (menutup jalan, antisipasi). Hikmah dari larangan ini adalah kekhawatiran bila suami merasa takjub kepada sifat yang disebutkan, sehingga berdampak pada ditalaknya perempuan yang menceritakan, atau fitnah pada perempuan yang diceritakan (Fath al-Baari, IX, : 250)

Ibnul Jauzi berkata: “ Hendaknya diketahui bahwa tindakan tersebut dilarang, karena bila laki-laki mendengar deskripsi tentang perempuan, hasratnya akan bergejolak dan hatinya menjadi sibuk (memikirkannya). Dan, jiwa cenderung kepada upaya mencari perwujudan sesuatu yang dideskripsikan dengan baik. Barangkali sifat yang diceritakan mendorongnya untuk mencari pemilik sifat. Bisa jadi ia terobsesi untuk mencari, hingga mencapai tingkatan mabuk kepayang (Ahkam an-Nisa, hal. 121)

 

 

Wallahu a’lam

Sumber :

Dinukil dari “ Min Akhto-i az Zaujaat”, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, (Edisi Indonesia, hal. 97-98)

Amar Abdullah bin Syakir, LC.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: