Mengucapkan “Selamat tahun Baru Hijriyah”

tahun-baru.jpg

Bismillah, Alhamdulillah,  washolatu wasalamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du :

Masalah ini, ulama berbeda pendapat, ada yang membolehkan, ada yang tidak membolehkan. Alasan pendapat yang membolehkan, karena hal itu termasuk perkara adat, di antara mereka.

Adapun alasan pendapat yang tidak membolehkan  karena tidak memiliki landasan dalam masalah ini. Dan,  tujuan kalender Hijriyah bukan untuk dijadikan awal tahunnya sebagai momen untuk dijadikan hari raya dan saling memberikan ucapan selamat. Akan tetapi kalender Hijriyah hanya digunakan untuk mebedakan angka/perhitungan saja. Sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika meluasnya negeri Islam di zaman kepemimpinannya. Ketika itulah sampai kepada beliau tulisan-tulisan (surat) tidak bertanggal. Beliau membutuhkan dibentuknya penanggalan agar diketahui kapan ditulisnya surat-surat itu. Maka beliau bermusyawarah dengan para Sahabat, dan mereka mengusulkan untuk menjadikan hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai awal penanggalan Hijriyah. Mereka beralih dari kalender miladi (Masehi), padahal saat itu sudah ada, dan menjadikan hijrah Nabi sebagai awal penanggalan kaum muslimin hanya untuk mengetahui dokumen dan tulisan saja. Bukan untuk dijadikan perayaan. Ini akan merembet menjadi perbuatan bid’ah.

Bila dicermati nampaknya pendapat yang tidak memperbolehkan lebih kuat dari beberapa sisi :

  1. Itu adalah ucapan selamat pada hari tertentu yang berulang setiap tahun, maka ucapan seperti ini berkaitan dengan hari Raya, padahal kita dilarang untuk memiliki hari raya selain ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Maka ucapan selamat tahun baru dilarang dari sisi ini.
  2. Hal ini adalah bentuk tasyabbuh/meniru-niru orang Yahudi dan Nashrani. Adapun yahudi mereka saling mengucapkan selamat pada awal tahun ‘Ibriyah (tahun mereka) yang dimulai dari bulan Tisri (awal bulan), diharamkan bekerja bagi mereka sebagaimana diharamkan hal itu pada hari sabtu. Dan adapun Nashrani saling mengucapkan selamat pada awal tahun baru Masehi.
  3. Hal ini adalah tasyabbuh dengan orang Majusi dan musyrik Arab. Adapun Majusi, maka mereka saling memberikan ucapan selamat pada hari raya Nairuz yang itu adalah awal tahun mereka. Makna niruz adalah hari baru. Dan adapun orang Arab Jahiliyah, dahulu mereka mengucapkan selamat kepada raja mereka pada bulan Muharram, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qazwaini dalam kitabnya ‘Ajaaib al-Mahluqaat dan juga lihatlah kitab al-A‘yaad wa Atsaruha ‘ala al-Muslimin, karya doktor Sulaiman as- Suhaimi.
  4. Bahwa pembolehan memberikan ucapan selamat tahun baru Hijriyah membuka pintu pembolehan terhadap ucapan pada awal tahun baru pendidikan, hari kemerdekaan, hari kebangsaan dan yang semisalnya yang tidak dibolehkan menurut orang yang berpendapat bahwa ucapan tahun baru Hijriyah tidak boleh. Pada hal pembolehan pemberian ucapan pada hari-hari tersebut lebih pantas karena tidak ada faktor pendorong untuk melakukannya di zaman Sahabat berbeda dengan awal tahun.(Maksudnya hari kemerdekaan dan kebangsaan tidak ada di zaman mereka, berbeda dengan awal tahun baru Hijrriyah hal itu telah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam )
  5. Pendapat yang membolehkan pemberian ucapan selamat tahun baru akan melebar pada hal-hal lain (yang tidak diperbolehkan), maka tersebarlah ucapan selamat lewat SMS, kartu ucapan selamat dan lewat koran ataupun majalah-majalah. Dan mungkin saja hal itu disertai dengan acara saling berkunjung untuk mengucapkan selamat, acara perayaan dan libur resmi sebagaimana yang terjadi di sebagian negara. Dan orang yang berpendapat bolehnya memberikan ucapan selamat tahun baru dan menganggap hal itu sebagai perkara adat/kebiasaan tidak memiliki dalil untuk melarangnya apabila manusia telah terbiasa dengan hal itu dan telah menjadikannya kebiasaan/adat. Maka menutup pintu ini adalah lebih utama.
  6. Ucapan selamat dengan datangnya tahun baru Hijriyah tidak ada makna keselamatan dan kebaikan sama sekali. Karena asal dari makna ucapan ”selamat” adalah datangnya nikmat baru atau ditolaknya bencana. Maka nikmat apa yang didapatkan dengan berakhirnya tahun hijriyah?. Yang lebih utama adalah mengambil pelajaran dengan hilangnya umur dan semakin dekatnya kematian. Dan merupakan hal yang mengherankan adalah kaum muslimin saling memberikan ucapan selamat tahun baru padahal musuh telah menjajah negeri mereka, membunuh saudara-saudara mereka dan merampas kekayaan mereka, maka karena alasan apa mereka saling mengucapkan selamat? Wallahu A’lam.

Sumber:  Hukmu at Tahniah bil Aam al Hijri al Jadid, Asy-Syaikh ‘Alawi bin Abdul Qadir as-Saqaaf  dengan gubahan.

Oleh : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel  : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: