Mengintip Dosa Dosa Istri (bagian 5)

mengintip-dosa-istri.jpg

Mengungkit-ungkit Kebaikan kepada Suami

Ada tipe istri yang melayani dan memperhatikan suami, juga memperhatikan kedua orang tuanya. Akan tetapi, ia memiliki sikap egois dan suka mengungkit-ungkit. Tidak sejenakpun ia berhenti mengingatkan suami akan kelebihan dirinya dan kontribusinya untuk suami. Sehingga, suami merasa sakit hati akibat sikap mengungkit-ungkit dan melecehkan tersebut.

Mengungkit-ungkit adalah sikap tercela. Seharusnya istri menjauhkan diri darinya. Bila mengungkit-ungkit itu adalah perangai yang tidak baik dilakukan oleh siapapun, maka tidak baik lagi bila itu dilakukan oleh seorang istri terhadap suaminya. Sikap mengungkit-ungkit akan menghancurkan amal kebaikan dan menjatuhkan harga diri. Allah azza wajalla melarang sikap mengungkit-ungkit di dalam firmanNya,

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوالَاتُبْطِلُواصَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّوَالْأَذَى [البقرة :٢٦٤]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan menyebut-menyebutnya dan menyakiti (si penerimanya)… (Qs. Al-Baqarah : 264)

Diriwayatkan dari Abu Dzar –semoga Allah meridhainya-, dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Ada tiga orang yang mana pada hari Kiamat Allah tidak berbicara dengan mereka, tidak melihat mereka dan tidak mensucikan mereka, serta bagi mereka adzab yang pedih, ‘Perowi berkata, ‘Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- mengulanginya sebanyak tiga kali. ‘ Abu Dzar berkata, mereka merugi, siapakah mereka itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab,’orang yang memanjangkan ujung pakaiannya (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang memberikan barangnya dengan sumpah palsu. (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 106)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas-semoga Allah meridhainya, ia berkata,” Suatu perkara ma’ruf tidak menjadi sempurna kecuali dengan tiga hal; yakni, dengan menyegerakan pelaksanaannya, menganggapnya kecil, dan menutup-nutupinya. Bila seseorang menyegerakannya, maka akan melegakan hatinya. Bila ia menganggapnya kecil, maka akan menjadi besar. Dan bila ia menutup-nutupinya, maka akan menjadi sempurnya (‘Uyun al-Akhbar, IV : 177)

Seorang berwasiat menasehati anak-anaknya,”Bila kalian memberikan sesuatu kepada orang lain, maka lupakanlah pemberian itu”.  (‘Uyun al-Akhbar, IV : 177)

Dengan menyebut-nyebut rusaklah kebaikan yang ditanam

Mengungkit-ungkit bukanlah perangai seorang mulia (‘Uyun al-Akhbar, IV : 177)

Imam Syafi’i berkata :

Menyebut-nyebut pemberian bagi hati

Lebih perih ketimbang tusukan belati (Diwan asy-Syafi’i, hal. 135)

Al-Barudi mengutarakan :

Aku tanggung segenap bencana demi menghindari sikap mengungkit-ungkit

Menanggung bencana sepanjang masa lebih ringan dari pada mengungkit-ungkit (Diwan al-Barudi, hal. 549)

Meskipun mengungkit-ungkit dan menghitung-hitung kebaikan bukan akhlak seorang yang mulia, namun sikap tersebut bisa ditolerir pada saat mengajukan kritik dan mengemukakan alasan. Ibnu Hazm berkata, “ Ada dua kondisi yang di dalamnya menjadi baik apa yang buruk dilakukan pada selain keduanya, yaitu ketika mengajukan kritik dan mengemukakan alasan. Pada keduanya tidak masalah untuk menghitung-hitung pemberian dan menyebut-nyebut kebaikan, padahal tindakan ini sangatlah buruk dilakukan pada selain dua kondisi tersebut (al-Akhlaq Wa as-Siyar, hal. 78)

Karena itu, bila istri hendak mengkritik atau mengemukakan alasan kepada suami diperbolehkan baginya untuk menyebutkan sebagian kebaikan. Bukan untuk tujuan mengungkit-ungkit dan melecehkan, tetapi sekedar mengingatkan suami betapa ia sangat menghormati dan menghargainya.

Wallahu a’lam

Sumber :

Dinukil dari, “Min Akhtha az-Zaujaat”, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, (Edisi Bahasa Indonesia), hal. 35-38.

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: