Menutupi (aib) Pelaku Perbuatan Keji

Air.jpg

Soal:

Sebagian orang terkadang melihat orang lain tengah melakukan kemaksiatan baik berupa liwath ( homo seksual ) atau zina – wal’iya dzubillah– kemudian, beberapa hari kemudian ia menceritakan hal itu  (kepada orang lain) seraya mengatakan, aku telah melihat orang(melakukan demikian-demikian) namun aku tak mau memberitahukan kepadamu ( siapa orang itu ), aku ingin menutupi aib mereka , menutupi aib adalah hal yang baik, namun aku tidak mengerti apakah hal seperti ini termasuk menutupi aib ?bagaimana sifat menutupi aib itu ? misalnya dalam kasus : bila didapati seperti mereka, apa yang hendaknya seseorang perbuat ?

Jawab :

Wajib (hukumnya) bagi orang yang melihat orang lain tengah melakukan perbuatan keji atau bentuk kemaksiatan yang lainnya, hendaklah pertama kali ia memberikan nasehat terlebih dahulu, bila ornag tersebut mau menerima maka tentu inilah yang diharapkan. Bila enggan menerima, maka wajib melaporkan perkaranya kepada waliyul amri (yang berwenang). Dan tidak selayaknya – bagaimana pun – untuk menceritakannya kepada orang lain perihal kemaksiatan yang dilihatnya, karena apabila ia melakukannya menjadi remeh kemaksiatan ini dalam pandangan orang-orang, kemudian anda banyangkan bila semua orang yang mendengar informasi ini seluruh komponen masyarakat begitu, ini adalah kesalahan. Alhamdulllah, masyarakat -di dalamnya- ada yang baik ada pula yang jelek, namun mayoritas masyaratak di penjuru daerah di negeri kita ( Saudi Arabia ) – alhamdulillah- lebih banyak yang baik dari pada yang jelek, tanpa diragukan. Maka, seseorang yang menceritakan kepada orang lain  sebuah kemaksiatan, kefasikan dan kefajiran yang dilihatnya terjadi di dalam masyarakat, saya memandang bahwa hal tersebut merupakan kesalahan.

Dan hendaknya seseorang berupaya terlebih dahulu mengatasi masalah bersama dengan pelaku kemaksiatan, bila memungkinkan untuk mengatasinya secara individu maka hal itu lebih utama. Tersadarkannya seseorang disebabkan karena sesuatu yang ia ketahui dari petunjuk syariat adalah lebih baik dari pada tercegahnya(dari melakukan keburukan) karena adanya tindakan dari penguasa, karena ia berarti meninggalkan sesuatu dengan kerelaan hati, dan bertaubat kepada Alloh dengan sebenar-benar taubat. Jika hal ini tidak mungkin bisa dilakukan maka perkaranya diajukan ke pihak yang berwenang. Dengan demikian, ia telah bebas dari kewajiban. Adapun perilaku sebagian orang yang bila melihat sesuatu ( keburukan ), lalu ia pergi untuk menceritakannya kepada orang lain, kemudian sangat boleh jadi ini hanya akan menambah tanah semakin menjadi basah saja, ia akan memberikan gambaran  melebihi dari apa yang sesungguhnya ia lihat, maka ini merupakan kesalahan, dan kami tidak menyukai hal ini.

Adapun mengenai “ menutupi aib “ bila seseorang tidak mungkin memberikan nasehat kepada orang yang ia lihat tengah melakukan kemaksiatan, maka dalam hal ini hendaknya ia mempertimbangkan ; bila orang yang dilihatnya tersebut terkenal sebagai pelaku kejahatan dan kerusakan maka tidak selayaknya ditutup-tutupi, hendaknya perkaranya disampaikan kepada pihak yang berwenang. Sedangkan bila orang yang melakukan keburukan tersebut adalah orang yang tidak diketahui kondisinya atau orang tersebut dikenal sebagai orang yang istiqomah akan tetapi jiwanya memandang baik untuk melakukan apa yang telah dilakukan maka menutupi aib diri orang tersebut adalah lebih utama.

Sumber : Silsilah Liqoo-aat al-Baab al-Maftuuh, Syaikh Muhammad bin Sholeh bin Muhammad bin Sulaiman bin Abdirrohman Alu Utsaimin. Rahimahullohu ta’ala


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: