Minimnya Orang-orang Baik

3-Mimnimnya-Orang-orang-Baik.jpg

Keberadaan orang-orang shaleh dalam tubuh suatu umat adalah suatu rahmat bagi umat tersebut.

Allah subahanhu wa ta’ala berfirman:

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ ۗوَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ

Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-Maidah: 116).

Syeikh As-Sa’diy rahimahullah berkata, “Setelah Allah subahanhu wa ta’ala menyebutkan kebinasaan umat-umat yang mendustakan para rasul, dan (mengabarkan) bahwa mayoritas mereka sudah melenceng (dari jalan yang lurus) bahkan (termasuk juga) ahlul kitab (yahudi & nasrani), dan bahwasanya itu semua memicu punahnya (penganut) agama mereka, Allah menyebutkan bahwa Ia menetapkan sisa-sisa dari generasi-generasi yang telah lalu daripada orang-orang baik yang menyeru kepada petunjuk (Allah subanahu wa ta’ala), dan mencegah kerusakan dan kemaksiatan, sehingga dengan hal itu (penganut) agama tetap ada, walaupun orang-orang tersebut sedikit sekali.

Dan kesimpulannya adalah, mereka (orang-orang baik yang minoritas) selamat (dari adzab Allah) karena mereka mengikuti para rasul, dan melaksanakan perkara-perkara agama. Dan Allah menunjukkan keadilanNya melalui mereka, agar orang-orang yang binasa, binasa atas suatu bukti dan yang tetap hidup (selamat), hidup atas suatu bukti.” (Tafsiir As-Sa’diy, Al-Maidah: 116).

Ayat ini mengingatkan kita akan berlakunya sunnatullah kepada umat-umat terdahulu sampai sekarang. Ketika didalam suatu ummat maksiat merajalela, kemungkaran terdapat dimana-mana, kemudian ada sekelompok orang yang berusaha untuk memperbaiki kemungkaran yang ada, dan mengingatkan para pelaku maksiat mereka kepada Allah subahanhu wa ta’ala, maka Allah subahanhu wa ta’ala yang maha adil tidak akan menurunkan adzab secara menyeluruh kepada mereka. Karena Allah berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Huud: 117).

Sehingga orang-orang yang senantiasa mengingatkan saudara-saudara mereka yang berbuat perbuatan yang Allah murkai adalah tameng bagi mereka dari adzab Allah ta’ala, dan orang-orang seperti mereka sedikit sekali. Oleh karena itu Allah memberikan mereka keistimewaan diatas yang lain.

Andaikata dalam suatu umat kemungkaran sudah merajalela, kedzoliman dan kemaksiatan dilakukan dengan terang-terangan bahkan sudah menjadi hal biasa, serta kerusakan moral dimana-mana, dan tidak ada seorangpun yang bergerak untuk memperbaiki keadaan atau mengingatkan orang-orang sekitar untuk kembali kepada jalan yang lurus dan menakutkan mereka dari adzab Allah, atau ada yang mengingatkan namun sama sekali tidak dihiraukan dan tidak merubah keadaan sedikitpun.

Maka disaat itulah adzab Allah akan turun sebagaimana yang terjadi kepada Kaum ‘Aad, Tsamud, Sodom dan lainnya dan akan membinasakan semuanya kecuali orang-orang yang berusaha untuk mengingkari kemungkaran, sebagaimana dalam kisah ashhabussabt dimana Allah subahanahu wa ta’ala membinasakan orang-orang yang melanggar aturan Allah, dan menyelamatkan orang-orang yang baik yang berusaha menasehati para pelaku maksiat dan merubah kemungkaran.

Sedangkan ummat ini, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah berdoa kepada Allah ta’ala untuk tidak mengadzabnya dengan adzab menyeluruh yang membinasakan semuanya, kemudian beliau mengebarkan bahwa doanya dikabulkan.

Ini menunjukkan bahwa dalam tubuh ummat ini akan selalu ada orang-orang baik yang memiliki kecemburuan terhadap agama Allah, dan mereka tidak akan rela agama Allah dilanggar dan penglihatan Allah atas hambanya diremehkan begitu saja sehingga. Sehingga mereka akan berusaha sebisa mungkin untuk menumpas kemungkaran, mengikis kemaksiatan, mengajak ummat kepada ridha Allah dan menjauhi maksiat serta larangan-larangan Allah. Dan orang-orang tersebut adalah para ulama, da’I, ustadz yang selalu memberikan pencerahan kepada ummat tentang agama mereka agar mereka senantiasa taat kepada Allah dan menjauhi segala larangannya.

Wallahu a’lam bisshowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: