Kesalahan Orang Shalat (bagian 9): Mundur Sedikit di Samping Imam

gbgb.jpg

Pembaca yang budiman…

Kita telah menyebutkan beberapa bentuk kesalahan dalam sholat, yaitu:

  • Tidak menegakkan tulang punggung pada saat ruku’ atau sujud.
  • Tidak Thuma’ninahdi dalam shalat.
  • Mendahului imam.
  • Tidak segera mengikuti gerakan imam
  • Bacaan yang sama antara makmum dan imam tatkala ‘itidal
  • Melafazhkan niat
  • Menyepelekan masalah Shaf dengan tidak menutup sela-sela yang kosong dan tidak menyempurnakan kedua ujung shof(barisan) yang di depan.
  • Membaca surat al Fatihah dan surat setelahnya, termasuk pula sewaktu membaca Dzikir ruku’, I’tidal(berdiri dari ruku’), sujud dan yang lainnya cukup dengan hati, tanpa menggerakan lidah
  • Tidak mengeraskan ucapan amindalam sholat jahriyah(sholat yang didalamnya bacaan surat al Fatihah dikeraskan)
  • Tidak mengangkat kedua tangan pada tempat-tempat(posisi) yang dianjurkan untuk mengangkatnya menurut Sunnah Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam.
  • Melepas pandangan ke semua arah dan tidak terfokus pada tempat sujud sewaktu sholat.
  • Bertopang pada salah satu dari kedua kakinya secara bergiliran
  • Berlebih-lebihan sewaktu mengangkat tangan sejajar dengan telinga. Yaitu dengan menjadikan kedua ibu jarinya bersentuhan dengan kedua daun telinga.

Berikut ini, kita sebutkan bentuk kesalahan yang lainnya yang semoga kita terhindar darinya.
Pembaca yang budiman…

Termasuk kesalahan adalah yang dilakukan oleh  sebagian orang yang ketinggalan shalat jama’ah, lalu ada orang lain yang ingin berjama’ah dengannya untuk memperoleh keutamaan shalat jama’ah, maka posisi makmum mundur sedirkit ke belakang dan imam maju sedikit ke depan. Yang Benar : apabila dua orang melaksanakan shalat, maka makmum berdiri sejajar di sebelah kanan imam dalam satu jalur, sehingga imam tidak maju ke depan dan makmum tidak perlu mundur ke belakang.

Wallahu a’lam

Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. (Abu Umair)

Sumber:

Tanbiihaat ‘alaa ba’dhi akhto-I al Mushollin, Abdul Aziz bin Nashr al-Musainid. Dikomentari oleh Syaikh Abdullah al-Jibrin. (Edisi Bahasa Indonesia, hal.9)

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: