Nasehat Bagi yang Melarang Keluarganya dari Berhijab secara Syar’i

nasehat-untuk-keluarga.jpg

Soal :

Apa yang Anda nasehatkan kepada orang-orang yang melarang istrinya untuk berhijab secara syar’i ?

Jawab :

Kami nasehatkan kepadanya agar bertakwa kepada Allah azza wajalla terkait dengan istrinya. Hendaknya ia memuji Allah azza wajalla yang telah memudahkan baginya seperti istrinya ini yang ingin untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan berupa berpakaian sesuai syariat, yang akan memberikan jaminan keselamatan kepadanya dari adanya fitnah.

Allah azza wajalla telah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman agar menjaga diri mereka dan keluarganya dari siksa Neraka di dalam firmanNya,

ياأيهاالذينآمنواقواأنفسكموأهليكمناراوقودهاالناسوالحجارةعليهاملائكةشدادلايعصوناللهماأمرهمويفعلونمايؤمرون  (التحريم :6) .

Wahai orang-orang yang beriman ! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan mengerjakan apa yang diperintahkan (Qs. At-Tahrim : 6)

Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- telah membebankan  kepada seorang lelaki “tanggung jawab” dalam keluarganya, seraya bersabda,

الرجلراعفيأهلهومسئولعنرعيته

Seorang lelaki (baca : Suami) adalah pemimpin di dalam keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya.

Bila mana demikian ini, maka bagaimana layak seorang suami berusaha untuk memaksa istrinya untuk meninggalkan pakaian yang syar’i, menganjurkan berpakaian dengan pakaian yang haram yang justru akan memicu munculnya fitnah dengan sebab dirinya dan karena tindakannya. Oleh karenanya, hendaknya ia (suami tersebut) bertakwa kepada Allah terkait dirinya.Demikian pula hendaknya ia bertakwa kepada Allah terkait istrinya. Dan, hendaknya pula ia memuji Allah azza wajalla atas karuniaNya berupa dimudahkan baginya seperti istrinya yang shaleh ini.

Adapun si istrinya tersebut (yang dipaksa atau dilarang mengenakan hijab syar’i) tidak boleh baginya mentaati suaminya dalam perkara kemaksiatan kepada Allah azza wajalla selamanya, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada al-Kholiq(pencipta, yaitu, Allah azza wajalla)

Wallahu a’lam

Sumber :

مجموعةأسئلةتهمالأسرةالمسلمة, 1/19, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: