Nasehat Khaulah Binti Tsa’labah Kepada Umar

yellow-rose-196393__340.jpg

Qatadah –semoga Allah merahmatinya- meriwayatkan di mana dia berkata, ”Umar keluar dari masjid bersama Jarud al-‘Abdi, tiba-tiba muncul seorang wanita di tengah jalan. Umar pun mengucapkan salam kepadanya, kemudian perempuan itu membalasnya, dan berkata, “Dengarkan wahai umar ! Aku masih ingat sewaktu engkau masih dipanggil Umair (Umar kecil) di pasar Ukadz, engkau menakut-nakuti anak-anak dengan tongkatmu. Tak lama, hari pun berlalu sehingga engkau dipangggil Umar (besar), dan tak lama hari pun berlalu sehingga engkau dijuluki Amirul Mukminin. Takutlah engkau kepada Allah dalam mengurus rakyatmu, dan ketahuilah sesungguhnya barangsiapa takut pada ancaman, apa yang jauh akan terasa dekat baginya, dan barangsiapa takut mati, dia akan takut kehilangan.”Al-Jarud berkata, ‘Wahai perempuan ! Engkau telah banyak bicara kepada Amirul Mukminin.” Umar berkata, “Biarkan dia ! Apakah kamu tidak mengenalnya ? Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah, istri Aus bin Shamit yang perkataannya didengar oleh Allah dari atas langit ketujuh. Demi Allah, Umar lebih berhak untuk mendengarkannya (al-Ishabah, 4/290)

Kisah ini dengan jelas menunjukkan sikap rendah hati (tawadhu’) dan kelembutan Umar, dia sangat menyukai Nasehat. Tidak aneh jika sikap tersebut muncul dari seorang pemimpin yang rabbani ini, yang mana kemuliaan sikapnya menunjukkan bahwa dirinya sangat menyukai nasehat dan orang yang menasehati, dan benci kepada orang-orang yang suka memuji, yang di balik pujian itu mereka bermaksud untuk memperoleh harta dengan cara apa saja.

Perkataan Umar, “Yang perkataannya didengar oleh Allah dari atas langit yang  ke tujuh,” menerangkan sebab turunnya Firman Allah azza wajalla,

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha melihat (Qs. Al-Mujailah : 1)

Dalam kitab ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi disebutkan, bahwa Sa’id bin Manshur dan al-Bukhari telah meriwayatkan dengan sanad mu’allaq (mu’allaq adalah hadis yang pada awal sanadnya tidak disebutkan seorang rawi atau lebih secara berurutan) begitu juga Abd bin Humaid, an-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Munzhir, dan Ibnu Mardawaih telah meriwayatkan dari Aisyah bahwa dia berkata,

Segala puji bagi Allah yang pendengaranNya meliputi semua suara, telah datang kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- seorang perempuan yang mengajukan gugatan kepadanya (tentang suaminya). Dia berbicara kepadanya sedangkan pada saat itu aku berada di samping rumah, aku tidak mendengar apa yang dia katakan, kemudian Allah menurunkan (firmanNya), (artinya) “ Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha melihat (Qs. Al-Mujailah : 1)

Wallahu a’lam

Sumber :

Duruusun Min Hayaati ash-Shahabiyaat, Dr. Abdul hamid as-Suhaibani, hal. 68-70 (Edisi Bahasa Indonesia)

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: