Pakaian Bersalib Dalam Pandangan Aisyah ra.

Pakaian-Bersalib-Dalam-Pandangan-Aisyah-ra..jpg

Suatu saat ketika Sayyidah Aisyah radhiyallahu’anha tawaf di sekeliling ka’bah beliau melihat seorang perempuan memakai pakaian yang bersalib, Sayyidah Aisyah langsung menegurnya dan menyuruh perempuan tersebut untuk mengganti pakaiannya yang bersalib dengan pakaian lain.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Daqirah Ummu Abdur Rahman ia berkata, “kami pernah tawaf di ka’bah bersama ummul mukminin (Aisyah) radhiyallahu ‘anha, tiba-tiba beliau melihat selendang bersalib yang dipakai oleh seorang perempuan, maka ummul mukminin berkata kepadanya: tanggalkanlah, tanggalkanlah (pakaianmu itu)!! Karena dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika melihat baju seperti ini beliau robek.” (Al-Musnad 6/140).

Dalam kisah lain di saat Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha sedang ada di tempat sa’i beliau melihat seorang perempuan memakai baju yang bergambar salib, maka beliau memerintah perempuan tersebut untuk mengganti bajunya.

Imam Ahmad meriwayatkan Daqirah ia berkata, “saya pernah berjalan bersama Aisyah radhiyallahu‘anha ditengah-tengah para perempuan antara Bukit Shofa dan Marwah, tatkala itu saya melihat seorang perempuan memakai pakaian yang bergambar salib, maka Aisyah radhiyallahu’anha berkata kepadanya: buanglah gambar salib itu dari bajumu, karena dahulu Rasulallah shallallahu alaihi wa sallam jika melihat gambar tersebut (salib) terdapat pada suatu baju beliau merobeknya.” (Al-Musnad 6/225).

Kisah ini disebutkan dalam kitab ‘Masuliyyatunnisa’ Fil Amri bil Ma’ruf wan Nahyi ‘Anil Munkar’ karya Syeikh DR. Fadhl Ilahi Dhahir, hal 54-55.

Marilah kita perhatikan dua kisah diatas, Sayyidah Aisyah radhiyallahu’anha melarang perempuan yang memakai pakaian bersalib bukan karena tidak senang kepada salib itu sebagai gambar, tapi karena salib melambangkan agama kristiani. Dan kita sebagai seorang muslim diperintahkan untuk menyelisihi orang-orang nonmuslim. Apapun yang menyangkut masalah agama nonmuslim baik kristen, yahudi, hindu ataupun yang lainnya kita dilarang untuk mengikutinya, baik itu berupa lambang, perayaan, ucapan selamat dan sebagainya.

Sayang sekali di setiap akhir dan awal tahun sebagian orang islam masih ikut-ikutan merayakan natalan atau mengucapkan ‘selamat natal’ atau merayakan awal tahun dengan dalih toleransi. Andai hal itu tidak berkaitan dengan agama orang nonmuslim mungkin tidak mengapa, tapi nyatanya perayaan-perayaan itu adalah perayaan keagamaan mereka, oleh karena itulah umat islam tidak diperbolehkan untuk ikut merayakannya walaupun hanya sekedar ucapan kata ‘selamat’.

Islam adalah agama yang sangat toleran kepada umat diluar islam, tidak ada larangan bagi kita untuk mengucapkan selamat kepada nonmuslim dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan agama, kita boleh mengucapkan selamat kepada orang non muslim atas kelahiran anaknya atau naiknya jabatannya atau rumah barunya, atau berjual beli dengannya, atau berbisnis dengannya. Tapi dalam hal-hal yang menyangkut masalah agama mereka islam melarang, karena ikut serta dalam perayaan keagamaan mereka berarti merestui dan menyetujui kekufuran mereka.

Toleransi kita sebagai umat islam terhadap perayaan-perayaan mereka adalah dengan tidak mengganggu perayaan mereka, membiarkan mereka merayakan hari kesenangan mereka dengan tenang selama tidak mengganggu tanpa harus ikut serta dengan mereka. Itu sudah cukup sebagai toleransi. Karena berbeda antara toleransi dengan mencampur-aduk antara agama, islam adalah agama toleransi, tapi islam tidak menerima percampur-adukan antar agama.

Allah subhanahu wa ta’ala berfiman:

لَكُم دِينُكُم وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafiruun: 6)

Wallahu a’lam bisshowab

Penulis: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: