Pelajaran dari Kisah Ashabus Sabt

Pelajaran-Dari-Kisah-Ashabus-Sabt.jpg

Alqur’an menyebutkan kisah Ashhabus Sabt untuk kita jadikan pelajaran, mereka adalah orang-orang Bani Israil yang diuji oleh Allah SWT. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa Allah SWT menetapkan Hari Sabtu sebagai hari ibadah bagi mereka, pada hari itu mereka wajib meluangkan waktu untuk digunakan beribadah dan mereka dilarang memancing ikan.

Kemudian Allah SWT menguji mereka, pada Hari Sabtu dimana mereka dilarang memancing, ikan-ikan di sungai tampak sangat banyak, ikan-ikan itu bahkan bermunculan di permukaan air, namun ketika Hari Sabtu berlalu dan datang Hari Ahad ikan itu hilang semua, dan begitu seterusnya sampai Hari Sabtu depannya lagi, ikan-ikan tersebut hanya muncul setiap Hari Sabtu.

Pada awalnya mereka bertahan beberapa lama untuk tidak memancing pada Hari Sabtu sebagaimana yang Allah perintahkan, namun setelah itu mereka mulai berpikir cara untuk mendapatkan ikan tanpa harus meninggalkan kewajiban beribadah di Hari Sabtu. Akhirnya mereka menemukan suatu cara yang tampaknya adalah ketaatan kepada Allah namun dibalik itu adalah pembangkangan dan pelanggaran terhadap perintah Allah SWT.

Mereka memasang jaring pada Hari Jum’at dan mengangkatnya pada Hari Minggu, sedang pada Hari Sabtu mereka tetap beribadah, dengan demikian mereka dapat menangkap ikan yang bertebaran banyak di Hari Sabtu tanpa harus memancing. Cara ini mulai dikenal luas oleh mereka, sehingga banyak dari mereka yang melakukannya.

Ketika orang-orang ahli agama mengetahui perbuatan tersebut, mereka menasehati para pelakunya bahwa apa yang mereka lakukan adalah pelanggaran terhadap perintah Allah SWT dan dapat mengundang kemurkaanNya. Sebagian yang lain tidak menasehati tapi juga tidak ikut berbuat.

Dengan demikian mereka terbagi menjadi tiga golongan:

  1. golongan orang yang melakukan pelanggaran
  2. golongan orang yang mencegah pelanggaran tersebut
  3. golongan orang yang tidak ikut melanggar dan juga tidak mencegah.

Ketika mereka terus menerus melanggar perintah Allah SWT, maka turunlah kutukan dan siksaan dari Allah SWT:

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦٓ أَنجَينَا ٱلَّذِينَ يَنهَونَ عَنِ ٱلسُّوءِ وَأَخَذنَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ بِعَذَابِ بَ‍ِٔيسِ بِمَا كَانُواْ يَفسُقُونَ

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (QS. Al-A’raf: 165).

Ayat ini menjelaskan bahwa mereka yang melakukan pelanggaran dan kezaliman terhadap perintah Allah SWT mendapatkan siksa yang keras, dan mereka yang mencegah dan melarang dari perbuatan mungkar diberikan keselamatan. Ayat ini tidak menyebutkan golongan ketiga yang tidak ikut berbuat kemungkaran dan juga tidak mencegah, sebagian ulama berpendapat bahwa mereka diadzab bersama orang-orang yang melanggar perintah Allah, ulama yang lain berpendapat bahwa mereka diselamatkan bersama orang-orang yang mencegah kemungkaran, hanya saja Allah SWT tidak menyebutkan mereka sebagai bentuk pengucilan bagi mereka karena telah membiarkan kemungkaran, dan pendapat kedua inilah pendapat yang kuat karena Allah SWT menyebutkan bahwa yang diadzab adalah orang-orang yang dzalim sedang mereka tidak Allah kategorikan sebagai orang yang dzalim. Kemudian amar ma’ruf nahi mugkar hukumnya adalah fardhu kifayah, jika sebagian orang sudah melaksanakannya maka sudah cukup dan gugurlah kewajiban terhadap yang lain.

Dari kisah ini kita dapat memetik pelajaran bahwa diantara penyebab keselamatan suatu komunitas dari adzab Allah SWT adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran yang ada dan tampak ditengah-tengah masyarakat. Karena jika kemungkaran sudah tersebar dan dilakukan terang-terangan dan semua yang melihatnya diam seribu bahasa tanpa ada yang menegurnya dikhawatirkan akan turun adzab Allah SWT sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil dahulu.

Jika amar ma’ruf nahi mungkar ditegakkan, maka ia akan menjadi sebagai penghindar dari adzab Allah SWT. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهلِكَ ٱلقُرَىٰ بِظُلم وَأَهلُهَا مُصلِحُونَ

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat perbaikan.” (QS. Hud: 117).

Wallahu a’lam bisshowab.

Penyusun: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: