Pandangan Salaf Tentang Maksiat

menulis.jpg

المعاصي بريد الكفر،كما أن القبلة بريدالجماع، والغناء بريد الزنى، والنظر بريد العشق، والمرض بريد الموت.

Kemaksiatan-kemaksiat adalah pengantar kekufuran seperti halnya ciuman pengantar hubungan intim. Nyanyian adalah pengantar zina dan pandangan adalah pengantar kerinduan. Dan sakit adalah pengantar kematian.

Bilal bin Sa’ad berkata,

لا تنظر إلى صغر الخطيئة ولكن انظر إلى من عصيت

Janganlah engkau melihat kepada kecilnya kesalahan.Akan tetapi lihatlah kepada siapa engkau telah berbuat maksiat.

Imam Ahmad menyebutkan dari Abu Darda ( ia berkata ),

اعبدوا الله كأنكم ترونه، وعُدُّوا أنفسكم في الموتى، واعلموا أنقليلاً يُغنيكم خيرٌ من كثير يُطغيكم، واعلموا أن البر لايبلى وأن الإثم لايُنسى

Beribadahlah kepada Alloh seakan-akan engkau melihatNya. Persiapkanlah diri kalian untuk menghadapi kematian. Ketahuilah bahwa sedikit yang dapat mencukupi kalian adalah lebih baik daripada banyak yang membuat kalian melampaui batas. Dan ketahuilah bahwa kebaikan tak akan pernah usang dan dosa tak terlupakan.

Tatkala Imam Syafii duduk di sisi Imam Malik dan beliau membacakan ( kitab ) kepada Imam Malik ; imam Malik takjub terhadap cepatnya daya tangkapnya dan kecerdasan yang dimiliki imam Syafii serta sempurnanya pemahamannya. Lalu, Imam Malik berkata kepada imam Syafii,

إني أرى الله قد ألقى على قلبك نوراً؛ فلا تطفئه بظلمة المعصية

Aku melihat bahwa Alloh telah memberikan cahaya kepada hatimu; oleh karena itu, janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan kegelapan maksiat.

Imam Syafi’I berkata,

شكوتُ الىوكيعٍ سوءَ حفظي فأرشدني إلى تركِ المعاصي

وقال اعلمْ بأنَّ العلمَ فَضْلٌ و فضلُ اللهِ لايُؤتاهُ عاصِ

Aku mengadukan kepada waki’ perihal buruknya hafalanku. Maka, ia memberiku arahan agar aku meninggalkan kemaksiatan.

Dan ia ( Waki’ ) berkata, ketahuilah bahwa ilmu itu merupakan karunia, sementara karunia Alloh tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.

Sebagian salaf berkata,

إني لأعصي الله، فأرى ذلك في خُلق دابتيو امرأتي

Sungguh aku pernah berbuat maksit kepada Alloh. maka aku melihat ( pengaruhnya) pada akhlaq binatang tunggangnku dan istriku.

Sebagian salaf berkata,

إن من عقوبة السيئة السيئة بعدها، وأن من ثواب الحسنة الحسنة بعدها

Sesungguhnya termasuk bentuk ganjaran keburukan adalah keburukan setelahnya, dan bahwa termasuk bentuk pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya.

Imam Al-Hasan al-Bashri berkata,

فإن ذل المعصية لا يفارق قلوبهم، أبى الله إلا أنيذ لمن عصاه

Sesungguhnya hinanya kemaksiatan tidak berpisah dari hati-hati mereka, Alloh menolak kecuali untuk menghinakan orang yang berbuat maksiat kepadaNya.

Sebagian salaf berkata, – ketika mengomentari firman Alloh azza wajalla,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ  (المطففين : 14)

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka (Qs. Al-Muthoffifin : 14),

لما كثرت ذنوبهم ومعاصيهم؛ أحاطت بقلوبهم

Tatkala dosa dan kemaksiatan mereka semakin bertambah banyak, maka dosa dan kemaksiatan tersebut meliputi hati mereka.

Semoga Alloh melindungi kita dari berbuat kemaksiatan kepadaNya dan mengampuni dosa-dosa kita akibat kemaksiatan yang pernah kita lakukan. Amien(Abu Umair)


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah.net di Fans Page Hisbah
Twitter @hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: