Pendidikan Kejujuran dengan Keteladanan Orangtua

Pendidikan-Kejujuran-dengan-Keteladanan-Orangtua.jpg

Ketahuilah bahwa salah satu unsur pendidikan yang harus Anda berikan kepada anak-anak Anda adalah “Pendidikan Kejujuran”. Ini termasuk bagian dari pendidikan akhlak yang harus ditanamkan sejak dini, agar seorang anak terbiasa dalam kehidupannya dengan kejujuran tindakan, kejujuran niat dan kejujuran ucapan. Kejujuran ucapan menjadi salah satu kunci kebaikan. Begitu juga halnya dengan kejujuran niat dan tindakan. Dengan demikian, maka dengan Anda -wahai para orang tua- menanamkan kejujuran dalam ucapan anak-anak Anda pada hakekatnya Anda tengah menanam kebaikan pada diri anak Anda dan buah manisnya akan Anda dapatkan baik di dunia maupun di akhirat.

Dan, jangan lupa bahwa keteladanan yang baik dari Anda berupa ucapan yang jujur yang senantiasa Anda tampilkan di hadapan anak-anak Anda merupakan kunci sukses dalam proses menuju keberhasil pendidikan Anda dalam menanamkan prinsip kejujuran kepada anak-anak Anda. Oleh karena itu, jadikan diri Anda sebagai sosok teladan dalam kejujuran ucapan bagi anak-anak Anda.

Sungguh hal yang sangat membahagiakan Anda -wahai orang tua- tentunya mana kala anak-anak Anda menjadi orang yang jujur ucapannya, karena mereka meneladani Anda dalam hal tersebut. Anda telah mengajarkan pendidikan kejujuran kepada mereka dengan keteladanan Anda.

Jika demikian, maka sungguh keberuntunganlah yang akan anda dapatkan. Betapa tidak, sementara orang yang menunjukkan kepada kebaikan seperti orang yang melakukannya dalam hal perolehan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya (pahala) seperti pahala orang yang melaksanakan kebaikan tersebut.” (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, no. 242)

Koreksi Sebuah Kesalahan

Ketika orang tua menginginkan atau menganjurkan kepada anaknya agar ia melakukan kebaikan ini dan itu, tidak jarang kemudian justru anjuran-anjuran itu bertolak belakang dengan kenyataan yang ada pada orang tua itu sendiri. Misalnya, ketika orang tua menyuruh anaknya agar jujur, namun ia sendiri ucapannya bohong alias dusta. Bahkan, ia pun melakukan kebohongan tindakan yang diawali dengan kebohongan ucapan. Ini tentu sebuah kesalahan dan patut kiranya dikoreksi. Oleh kerena pentingnya hal ini, maka Nabi shallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan agar jangan sampai seseorang terjerumus ke dalam perkataan dan tindakan dusta. Apalagi ia adalah seorang pemimpin untuk anak-anaknya.

Orang Tua yang Cerdas

Maka orang tua yang cerdas dan baik adalah orang tua yang dapat menjadi sosok teladan bagi anak-anaknya dalam hal kejujuran ucapan. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah suri teladan yang baik, dalam segala hal kebaikan, termasuk dalam hal kejujuran ucapan. Beliau dikenal oleh masyarat yang hidup di zaman beliau sebagai sosok yang jujur ucapannya. Bahkan, musuhnya sekalipun mengakuinya. Perhatikanlah hadist Abdullah bin Abbas berikut ini,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ {وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ} صَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الصَّفَا فَجَعَلَ يُنَادِي يَا بَنِي فِهْرٍ يَا بَنِي عَدِيٍّ لِبُطُونِ قُرَيْشٍ حَتَّى اجْتَمَعُوا فَجَعَلَ الرَّجُلُ إِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَخْرُجَ أَرْسَلَ رَسُولًا لِيَنْظُرَ مَا هُوَ فَجَاءَ أَبُو لَهَبٍ وَقُرَيْشٌ فَقَالَ أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ قَالُوا نَعَمْ مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا قَالَ فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ تَبًّا لَكَ سَائِرَ الْيَوْمِ أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا فَنَزَلَتْ {تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ}

Dari ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, setelah turun ayat (yang artinya) dan berilah peringatan kepada keluargamu yang dekat), Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam naik ke bukit Shafa, lalu beliau memanggil, “Wahai bani Fihr, wahai bani ‘Adiy hingga mereka berkumpul. Jika ada di antara mereka yang tidak dapat hadir mengutus seorang utusan untuk melihat gerangan apakah yang terjadi. Datanglah Abu Lahab dan sekelompok orang suku Quraisy. (Setelah mereka berkumpul) beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, apa pendapat kalian kalau aku kabarkan kepada kalian bahwa sekelompok pasukan berkuda berada di lembah ini berkeinginan untuk menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayai ucapanku? mereka menjawab, “Ya” (kami akan membenarkan ucapan Anda) (karena) kami belum pernah mendapati dirimu melainkan berkata benar. Beliau melanjutkan sabdanya, kalau begitu ketahuilah sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian, yang memperingatkan kalian dari tertimpa azab yang dahsyat. (mendengar penuturan beliau tersebut) maka tiba-tiba Abu Lahab berujar, kecelakaan bagimu di seluruh hari, apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami. Maka, turunlah firman Allah,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” (QS. Al-Lahab : 1-2) (HR. Al-Bukhari, no. 4770)

Akhirnya, semoga Allah memberi taufiq kepada kita sehingga kita dapat membiasakan lisan kita untuk berkata jujur, sehingga terlindung dari kedustaan dan bahahaya. Aamiin.

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: