Pengagungan Terhadap Allah Ketika Shalat

Tadzim-Allah-dalam-shalat.jpg

Pembaca yang budiman,….

Kala seorang memulai shalatnya, setelah ia menghadapkan diri ke kiblat, apa yang dilakukannya kemudian ?

Jawaban atas pertanyaan ini adalah sebagaimana yang disebutkan Rasulullah dalam sabdanya,

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ…الحديث

Kala engkau hendak melaksanakan shalat maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblat, lalu bertakbirlah…(HR. Al-Bukhari)

Ya, “bertakbir”, mengagungkan Allah azza wajalla dengan ungkapan “ الله أكبر (Allahu akbar). Inilah yang dilakukan saat memulia shalat.

Bertakbir, pengagungan kepada Allah dengan ungkapan kata ini dilakukan juga ketika hendak ruku’, ketika hendak sujud, ketika bangun dari sujud untuk duduk antara dua sujud, ketika hendak sujud untuk kedua kalinya, ketika bangun dari sujud kedua untuk berpindah ke rokaat berikutnya. Dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa dalam shalat termasuk hal yang sangat penting adalah “ pengagungan kepada Allah azza wajalla”, bertakbir dengan ungkapan kata, “ الله أكبر  “.

Saudaraku, berulang kali Anda membaca ungkapan ini, namun tahukah Anda makna ungkapan ini ?, masilah kita simak keterangan sebagian ulam tentang makna ungkapan kata ini, mudah-mudahan kita lebih memahaminya.

Ibnu Katsir berkata, “makna lafadz tersebut adalah الله الأكبر (Allah adalah Yang Maha Besar). Ada yang mengatakan maknanya adalah الله أكبر من كل شيء (Allah itu Mahabesar dari segala sesuatu). Ada juga yang mengatakan : Allah terlalu besar untuk diketahui hakikat kebesaran dan keagunganNya (an-Nihaayah, IV/140)

Ibnu Hajar berkata, “Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah الكبير  (Dia-lah Yang Mahabesar). Dikatakan juga : lebih besar dari segala sesuatu atau paling besar di antara segala sesuatu. Kemudian kalimat ‘dari segala sesuatu’ dibuang, karena maknanya telah jelas (Hadyus Saari, hal 177)

Syaikh Abdurrahman bin Qasim berkata, “(Maknanya) Allah Mahabesar dari segala sesuatu, artinya Dialah yang Mahaagung, atau paling besar dari yang besar, atau Yang Mahabesar melebihi seluruh makhluk-Nya. Atau, Dialah Yang Mahabesar, sehingga tidak layak dinisbahkan kepadaNya segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keesaanNya. Dia Maha besar, mahaagung dan Mahatinggi…”-hingga perkataan syaikh- “Bertakbir (mengagungkan) Allah –subhanahu wa ta’ala- itu meliputi :

Penetapan setiap kesempurnaan bagi Allah dan mensucikan-Nya dari segala kekurangan dan aib (cacat).

Meyakini bahwa hanya Allah-lah yang memiliki sifat-sifat yang sempurna tersebut, dan meyakini bahwa semua itu khusus, hanya bagi Allah.

Mengagungkan-Nya; dalam arti bahwa Dia Mahabesar, sehingga tidak layak menyebutNya tanpa disertai pujian, pengagungan dan sanjungan yang baik kepadaNya. (Haasyiyah ar-Raudhil Murbi’ (II/11). Ghaayatul Maram, IV/41, karya Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Ubaikan)

Syaikh Muhammad bin Utsaimin berkata, “Makna lafazh  الله اكبر  adalah bahwa Allah Mahabesar dari segala sesuatu, baik dalam Dzat-Nya, nama-namaNya, sifat-sifatNya, maupun dalam setiap makna-makna lain yang terkandung pada kaliamat takbir ini. Dia –subhanahu wa ta’ala – berfirman,

[67:وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ  [الزمر

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kananNya (Qs. Az-Zumar : 67)

Dan Dia –subhanahu wa ta’ala- berfirman,

     يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya (Qs. Al-Anbiyaa : 104)

Ayat di atas menunjukkan keagungan Allah –subhanahu wa ta’ala- dan menunjukkan bahwa Mahabesar dari segala sesuatu.

Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman,

وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“ Dan bagiNya lah keagungan di langit dan bumi. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. Al-Jaatsiyah : 37)

Maka setiap makna kalimat takbir yang mengarah kepada keagungan dan kebesaran-Nya ditetapkan hanya bagi Allah –subhanahu wa ta’ala- (Syarhul Mumti’ ‘Alaa Zaadil Mustaqni’ (III/28-V/184)

Sa’id Abu Jaib berkata, “Takbir artinya mengagungkan Allah ta’ala dan mensucikan-Nya dari segala keburukan. Dalam al-Qur’an disebutkan,

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

Dan katakanlah, “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaanNya, dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya (Qs. Al-Israa : 111)

Wallahu a’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: