Pengakuan Mantan Pezina

Pengakuan-Mantan-Pezina.jpg

عن عمران بن حصين أن امرأة من جهينة أتت رسول الله صلى الله عليه و سلم فقالت : أني زنيت وهي حبلى فدفعها إلى وليها فقال أحسن إليها فإذا وضعت فائتني بها فلما وضعت جاء بها فأمر بها فشكت عليها ثيابها ثم رجمها ثم صلى عليها فقال له عمر أتصلي عليها وقد زنت فقال لقد تابت توبة لو قسمت بين سبعين من أهل المدينة لوسعتهم وهل وجدت توبة أفضل من أن جادت بنفسها لله عز و جل

Imran bin Hushain meriwayatkan, bahwa seorang wanita dari Juhainah pernah datang kepada Rasulullah lalu ia mengatakan, sungguh aku telah berzina-sementara ia tengah hamil-. Maka, Rasulullah menolaknya (dan memintanya untuk kembali) kepada walinya seraya mengatakan,”perlakukanlah ia secara baik”. Bila ia telah melahirkan, bawalah ia kepadaku!. Lalu, setalah wanita tersebut melahirkan (janin yang dikandungnya), si walinya pun datang membawanya kepada Rasulullah . (Sesampainya di hadapan Rasulullah) maka beliau menyuruh agar pakaian si wanita tersebut dipinkan ketubuhnya. Kemudian, beliau merajam wanita tersebut, lalu menyolatinya. (Melihat hal tersebut) Umar bin Khaththab, “ Anda menyolati wanita tersebut sementara ia telah berzina. Beliau bersabda (menanggapi ungkapan umar tersebut), wanita tersebut telah bertaubat dengan sebuah pertaubatan kalau dibagikan kepada 70 orang penduduk Madinah niscaya berlebih. Apakah engkau dapati sebuah pertaubatan yang  lebih baik daripada seorang wanita yang dengan kesadaran diri menyerahkan dirinya kepada (hukum) Allah azza wajalla  (HR. An-Nasa-i, No. 1957)

 

Pelajaran :

dalam hadis ini terdapat banyak pelajaran yang sangat berharga, di antaranya, yaitu,

  1. Zina, termasuk perbuatan dosa yang pelakunya wajib bertaubat darinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
  2. Seorang yang bertaubat hendaklah mengakui dosanya, meninggalkan dosanya dan menyesalinya serta berazam untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosanya tersebut.
  3. Pengakuan diri seseorang yang telah melakukan keburukan dan bertaubat darinya serta memasrahkan dirinya kepada ketentuan hukum Allah dapat mengantarkan seseorang kepada kebaikan.

Wanita yang telah melakukan zina -dalam hadis ini- ia mengakui perbuatannya kepada Rasulullah dengan maksud agar ditegakkan kepadanya hukum Allah azza wajalla. Ini merupakan bentuk dari kesempurnaan pertaubatannya dan kepasrahannya kepada hukum Allah ta’ala, maka Allah menerima taubatnya dan me nggantinya dengan kebaikan.   Tidak diragukan hal ini merupakan salah satu bentuk kebaikan yang diperolehnya. Dalam sebuah hadis disebutkan,

عن سعيد بن جبير قال  : سألت ابن عباس فقال لما نزلت التي في الفرقان { والذين لا يدعون مع الله إلها آخر ولا يقتلون النفس التي حرم الله إلا بالحق } قال مشركو أهل مكة قد قتلنا النفس التي حرم الله ودعونا مع الله إلها آخر وأتينا الفواحش فأنزل الله تعالى { إلا من تاب وآمن وعمل صالحا فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات } فهذه لأولئك

Dari sa’id bin Jubair, ia berkata, aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, maka ia mengatakan, ketika turun ayat -yang ada di dalam surat al-Furqan (yang artinya) Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina…) orang-orang musyrik Makkah berkata, ‘kami telah melakukan pembunuhan terjahadap jiwa yang diharamkan Allah(membunuhnya), kami juga telah menyembah tuhan selain Allah, serta kami pun telah sering melakukan perbuatan keji (zina). Maka, Allah menurunkan (ayat)  (yang artinya) “kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan”. Maka, ayat ini berlaku untuk mereka itu (yang telah melakukan dosa-dosa tersebut) (HR. Abu Dawud, no. 4273)

  1. Salah satu bentuk penetapan zina adalah dengan “pengakuan palakunya bahwa ia telah berzina”. Jika pengakuan tersebut ditetapkan oleh yang berwenang maka ditagakkan atasnya hukuman zina atasnya.
  2. Penegakkan hukuman had dilakukan oleh imam atau penguasa, tidak dilakukan oleh perorangan.

Penegakkan hukuman had (yakni, berupa rajam) terhadap wanita yang telah berzina –dalam hadis ini- dilakukan oleh Rasulullah ﷺ di mana beliau berkapasitas sebagai pemimpin kaum muslimin. Penetapan dan Penegakkan hukuman zina tidak diserahkan kepada walinya, tidak juga kepada yang lainnya.

  1. Allah maha penerima taubat hamba-hambaNya. Hal ini seperti ditunjukkan dalam sabda beliau,

لقد تابت توبة لو قسمت بين سبعين من أهل المدينة لوسعتهم

(wanita tersebut telah bertaubat dengan sebuah pertaubatan kalau dibagikan kepada 70 orang penduduk Madinah niscaya berlebih), dan Rasulullah ﷺ besabda dalam hadis yang lain-,

وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Allah menerima taubat orang yang bertaubat (kepadaNya) (HR. Al-Bukhari, No. 6436)

  1. Wajibnya memperlakukan orang yang bersalah secara baik-jika mengharuskan demikian-, sekalipun kesalahan tersebut merupakan kesalahan yang sangat besar, seperti zina. Hal ini tercermin dalam sabda Nabi kepada wali wanita yang berzina tersebut, أحسن إليها ”perlakukanlah ia secara baik”, karena Nabi mempertimbangkan kondisinya yang harus diperlakukan dengan baik, yaitu karena wanita tersebut tengah mengandung.
  2. Wajibnya melakukan penundaan penegakkan hukuman had bagi pezina yang tengah mengandung.
  3. Wajibnya seorang pemimpin menegakkan hukum Allah terhadap masyarakatnya yang melakukan pelanggaran, seperti zina dan lain sebagainya.
  4. Bolehnya atau bahkan disyariatkannya menyolati jenazah seorang mantan pezina yang telah bertaubat dari dosanya. Hal tersebut berdasarkan tindakan Rasulullah ﷺ terhadap jenazah wanita mantan pezina yang telah bertaubat dalam hadis ini.

Penulis : Amar Abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: